HARI Itu, hari dimana aku
terbangun dari pingsan. Aku agak lupa apa yang terjadi. Aku setengah sadar. Aku
menengok ke kanan dan ke kiri, aku melihat lapangan yang sangat luas. Aku
terbaring di tanah dengan sangat mengenaskan. Pakaianku compang-camping, banyak
luka disekujur tubuhku. Aku benar-benar lemah. Terdengar suara pesawat
helikopter disana-sini. Ternyata ada lebih dari lima pesawat helikopter. Sekali
lagi, aku menegok ke kanan dan ke kiri. Terlihat banyak orang berpakaian serba
putih seolah tubuh mereka dibalut oleh kain warna putih juga memakai sepatu bot
dan masker. Meskipun smar-samar karena mataku sangat silau dengan teriknya
sinar matahari. Mereka sedang membopong banyak mayat yang di bungkus kantung
berwarna kuning. Mayat itu di angkut menggunakan pesawat helikopter. Tubuhku
tidak bisa kugerakkan. Aku hanya bisa mengerakkan kedua bola mataku dan sedikit
menggerakan leherku. Bicarapun sangat sulit, meskipun, aku sudah berusaha
sekuat tenaga. Sepuluh menit sudah aku sadar, aku mulai merasa tubuhku semakin
sakit. Mungkin luka-luka di sekujur tubuhku mulai terasa setelah beberapa saat setelah
aku sadar.
Meskipun aku sadar, tapi mereka tidak menghiraukanku sama
sekali. Mereka sibuk mengangkut mayat-mayat. Pesawat helikopter silih
bergantian mendarat dan lepas landas. Aku mencoba mengingat-ngingat apa yang
terjadi sebelumnya. Tapi, kepalaku malah tambah sakit. Sepertinya kepalaku
terbentur sesuatu sesaat sebelum aku pingsan. Aku mencoba menengok lagi ke
kanan dan ke kiri. Mereka masih tetap sibuk mengangkut mayat. Aku melihat dua
orang (yang juga memakai pakaian serba putih) dari kejauhan membopong mayat
yang belum dimasukkan kedalam kantung mayat. Mayat itu memakai celana panjang
coklat, jaket kulit tipis dan sepatu khusus seperti sepatu untuk mendaki
gunung. Mereka berdua melewatiku dan aku melihat wajah mayat itu. Sekilas aku
kenal dengan mayat itu. Wajahnya, rambutnya yang lurus, alisnya yang hampir
menyatu. Ya, aku kenal dia. Dia adalah teman sepermainanku, Ruhdi. Dia tidak
terlalu parah sepertiku. Seketika aku mulai ingat semuanya saat aku menatap
wajahnya. Awal dari semua kejadian ini, aku ingat semuanya. Aku mencoba
memanggil temanku itu, aku tahu dia belum mati. Dia masih bernafas, dan aku
sangat yakin itu. Aku mencoba sekuat tenaga untuk memanggilnya tapi sia-sia.
Air mataku mulai mengalir. Aku mulai takut dan cemas dengan keadaan dia. Aku
berdo'a kepada Allah semoga dia selamat. Mulutku mulai menganga-nganga sekuat
tenaga memanggil namanya. Kedua orang itu meletakkan tubuhnya di tanah sama
sepertiku. Aku mulai lega, berarti dia belum mati. Jaraknya sangat jauh dariku.
Aku mencoba mendekatinya dengan sekuat tenaga dan hanya
mengandalkan kedua tanganku saja (karena kedua kakiku tidak sanggup berdiri
lagi). Aku terus merangkak mendekatinya. Rasanya sangat lama sekali dan
orang-orang berpakaian serba putih terus lalu lalang begitu juga dengan
helikopter. Sesaat aku istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga. Rasanya
badanku mau hancur. Tulang-tulangku rasanya banyak yang patah. Aku sudah tidak
sanggup lagi mendekati Ruhdi. Aku hanya berbaring ditanah dan menunggu ada yang
memberikan pertolongan.
Aku memejamkan mata. Rasanya aku mulai kehilangan
kesadaran. Lalu terdengar suara dua orang pria.
"Bagaimana keadaannya?". Tanya salah seorang pria.
"Orang ini masih hidup". Kata pria satunya.
"Baiklah bawa mereka ke pesawat".
"Baik".
Entah apa yang terjadi, tapi saat aku sadar, aku sudah
berada disebuah ruangan dengan dua orang pria tadi. Di luar ruangan, terdengar banyak sekali
derap langkah kaki. Aku melihat bayangan mereka di jendela pintu sedang lalu
lalang sangat sibuk sekali.
Samar aku
melihat dua pria tadi dengan meakai pakaian warna hijau.
"Bagaimana keadaanmu?". Tanya salah seorang
pria yang paling kanan
Aku hanya mengangguk yang berarti aku baik-baik saja.
Lalu aku menengok ke kiri dan ke kanan untuk mencari temanku. Aku harap dia baik-baik
saja.
"Mencari temanmu?". Tanya pria yang paling kiri.
Aku mengangguk lagi.
"Jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja. Sekarang,
kami akan melakukan operasi terhadapmu. Lukamu banyak sekali dan juga tulangmu
banyak yang patah"
Pandanganku mulai kabur. Mungkin efek dari obat bius.
Sebelum aku memejamkan mataku, perlahan-lahan ingatanku mulai pulih dan
mengingat semuanya. Aku ingat kenapa kami bisa berada disini. Itu semua berawal
dari malam itu. Ya, malam itu. 'Malam yang terburuk dalam hidupku'.
The Survival: Prolog