Pagi
ini, aku sedang bersiap di kamarku. Jendela kamar aku buka. Terlihat halaman
pinggir rumah yang diterangi oleh cahaya matahari pagi. Dedaunan yang basah
oleh embun membuatnya terlihat sangat segar. Kicauan burung sesekali terdengar
dan seolah mereka mengucapkan selamat pagi kepadaku. Hari ini adalah hari yang
spesial dalam hidupku. Aku akan pergi ke rumah pacarku. Kemarin dia memberi
kabar kalau orangtuanya ingin membicarakan sesuatu denganku. Entah apa yang
ingin mereka bicarakan padaku. Tapi aku akan memenuhi permintaan orangtua
pacarku. Kami sudah pacaran lebih dari dua tahun. Selama ini hubungan kami
baik-baik saja. Aku sangat mencintainya. Saat kau mencintai seseorang, kau akan
mampu menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Mungkin semua yang ada dalam
dirinya adalah kelebihan di matamu. Saat di rumahnya nanti, aku ingin bicara
kepada orangtuanya kalau aku benar-benar serius ingin menikahinya.
Aku sudah siap jadi kepala rumah
tangga. Memang, gajiku cukup lumayan jika untukku sendiri. Sedangkan untuk
berdua, rasanya akan pas-pasan. Biarlah nanti aku mencari penghasilan sampingan
untuk kehidupan kami berdua. Kata orang-orang sih, jika kita sudah menikah,
pasti rezeki akan datang dari mana saja asal kita mau berusaha. Untuk itulah
aku merenung selama satu tahun ini dan keputusanku sudah bulat. Orangtua
pacarku pasti sudah tahu kalau aku tidak main-main dengan putri bungsunya.
Dialah gadis pilihanku. Aku tidak pernah berpaling dari gadis lain. Bagiku,
cinta itu adalah di mana kita bisa melihat seseorang dari sudut pandang yang
sederhana. Tak peduli dia anak siapa, bagaimana dirinya, bagaimana sifatnya,
dan apa kekurangannya, cinta akan tumbuh dalam hati. Cinta sejati yang hakiki.
Pukul delapan pagi, aku sudah rapi.
Aku memakai kemeja warna hitam dan dasi warna kuning yang dibalut jas warna merah
beludru. Celana hitam panjang dan juga sepatu coklat. Tak lupa aku memakai
minyak wangi. Setelah semua beres, aku bergegas keluar kamar dan berpamitan
kepada Ibuku. Ibuku hanya berpesan agar hati-hati di jalan. Ayahku sudah
berangkat bekerja di kantor kecamatan. Oh iya, aku bekerja di sebuah perusahaan
di Jakarta. Saat ini aku sedang libur panjang.
“Hati-hati kamu di jalan. Salam buat
kedua orangtua Rina. Bilang ibu tudak bisa ikut karena mau bantu-bantu tetangga
yang mau hajatan. Jangan lupa juga di jalan beli oleh-oleh buat mereka”. Kata
Ibuku dengan suara yang rendah.
“Iya Bu, nanti Darma sampaikan”.
Aku berpamitan lalu keluar rumah.
Aku nyalakan mobil BMW 318i kesayanganku. Mobil jadul yang aku beli seharga dua
puluh lima juta rupiah. Untuk ukuran ekonomi kelas menengah, mobil ini lumayan
murah. Mungkin karena mobil ini buatan tahun 1997. Menurut salah satu temanku,
mobil ini di pasaran harganya bisa mencapai 40 hingga 60 juta rupiah. Beruntung
aku mendapatkannya dengan harga yang murah. Mungkin karena pemiliknya yang dulu
sedang kepepet perlu uang.
Aku panaskan mesin mobil ini
sebentar, lalu aku langsung tancap gas. Rumah pacarku lumayan jauh. Rumahnya di
kota Lembang. Sementara aku tinggal di kampung Lamaran, kabupaten Subang. Aku
harus melewati kota Subang dan jalan yang berbelok-belok yang bertemakan kebun
teh di sisi kiri dan kanan jalan. Perjalanan kulalui dengan santai di kota
Subang. Jalanan yang lumayan padat oleh kendaraan yang sedang memualai aktifitas.
Beberapa sepeda motor mencoba menyalip saat aku melewati Masjid Agung Subang.
Mereka seperti dikejar oelah waktu. Di depan Masjid Agung, tepatnya sebelah
kiri jalan, terdapat alun-alun yang diseberangnya adalah kantor Pemda Subang.
Setelah sampai di pertigaan, aku berbelok ke kanan dan sampailah di Wisma Karya
Subang. Lalu aku belok ke kiri menuju ke arah kota Bandung. Jalanan penuh
dengan tanjakan, turunan dan tikungan. Hingga sampailah aku di Jalan Cagak yang
ditandai oleh patung buah nanas raksasa di tengah bundaran pertigaan. Lalu aku
berhentikan mobilku di salah satu mini market yang ada di Jalan Cagak untuk
membeli minuman dan roti. Aku menyantapnya di meja bundar berwarna putih di
depan minimarket yang memang disediakan oleh pihak mini market.
Setelah dirasa cukup kenyang, aku
lanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan, mataku melirik ke kiri dan ke kanan
mencoba memilih oleh-oleh apa yang akan aku bawa. Saat aku melihat banyak buah
nanas yang di jajakan oleh pedagang di pinggir jalan, aku berpikir kenapa tidak
aku bawakan nanas simadu saja. Nanas simadu adalah nanas yang sangat tersohor
di kota Subang. Nanas ini hanya bisa di dapat sekitar 3 sampai 10 biji di
setiap kali panen. Bisa dikatakan ini adalah rajanya nanas dari semua nanas
yang di panen. Buah daging yang bening seperti madu dan rasa manis semanis
madu, membuat nanas ini menjadi primadona dan banyak dicari. Buah yang sedikit
didapat saat dipanen, dan rasanya yang khas saat digigit, membuat nanas ini
berharga agak mahal dari nanas biasa. Kata ibuku harga satu buahnya bisa
mencapai tiga puluh ribu rupiah. Jika sudah mencobanya, maka harga segitu akan
terbayar sudah dan tidak akan membuat penasaran lagi.
Aku mencoba memilih pedagang yang
kiranya bisa diajak kompromi. Maksudku, mencari pedagang yang jujur. Sebab
banyak kasus pedagang nakal yang menipu pembelinya dengan mengatakan kalau
nanas yang mereka jual adalah nanas simadu. Setelah dirasa mendapat pedagang
yang jujur, aku tepi kan mobilku. Lalu aku turun dan menanyakan apa ada nanas
simadu.
“Nanas simadunya ada bu?”. Tanyaku
sambil memilih nanas yang digantung dengan tali di depan warung.
“Oh ada. Sebentar saya carikan
dulu”. Si ibu pedagang nanas langsung masuk ke dalam warungnya dan keluar
membawa dua buah nanas yang agak besar.
“Ini, cuman sisa dua”. Si ibu
meletakkan nanasnya di atas nanas yang dipajang di depan.
“Bener ini nanas simadu?
Jangan-jangan ibu bohong nih”. Aku mencoba berbasa-basi agak si ibu mau
berterus terang.
“Ya bener atuh. Masa ibu bohong.
Lihat nih warnanya aja rada beda dari nanas yang lain”.
Aku hanya mengangguk.
“Masalahnya, ini mau aku jadikan
oleh-oleh buat orangtua pacarku. Kalau ini bukan nanas simadu, alangkah malunya
aku”.
“Oh, kalau gitu jangan khawatir. Ibu
jamin ini asli nanas simadu. Sok lah kamu mau bayar berapa?”. Dengan yakin, si
ibu menawarkan nanasnya.
“Saya beli tiga puluh ribu satu buah
gimana?”.
“Boleh silahkan. Bentar Ibu taliin
dulu ya?”.
Si ibu penjual nanas itu dengan
sigap mengikat nanas dengan tali rapia. Wajahnya terlihat senang. Memang si ibu
warungnya sangat kecil dan tidak banyak nanas yang dijual. Dia juga menjual
berbagai minuman, kopi, dan jajanan yang lain seperti snack dan kue. Mudah-mudahan saja si ibu tidak berbohong.
“Ini”. Si ibu menyodorkan nanasnya.
Aku ambil nanas itu dan aku berikan
uang enam puluh ribu dari saku celanaku.
“Hatur
nuhun pisan. Semoga lancar acara ngapelnya ya?”.
Wajah si ibu itu terlihat senang
sekali. Senyum yang lebar yang menadakan kebahagiaan. Beruntung aku berhenti di
warungnya. Itung-itung aku membantu beliau.
Pejalanan kulanjutkan kembali dan jam sudah
menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Aku melewati jalan menanjak,
menurun dan berliku yang di sisi kiri dan kanannya terdapat deretan pohon
pinus. Juka kita sudah memasuki daerah ini (Cikole), akan terasa dingin yang
menusuk walaupun cauaca cerah dan panas. Lalu sampailah aku di pasar Lembang.
Setelah aku melewati Pasar Lembang dan tiba di
pertigaan yang dimana jika kita berbelok ke kiri akan menuju ke Bandung dan
berbelok ke kanan akan memutar arah dan balik lagi ke Subang. Aku berbelok ke
kanan dan setelah beberapa kilo meter aku berhenti di Masjid Besar Lembang. Aku parkirkan mobil
bututku di dekat menara masjid yang kecil. Dimana terasnya banyak orang yang
sedang duduk-duduk santai.
Rumah pacarku lumayan dekat dengan Masjid ini.
Tinggal berjalan sekitar sepuluh menit ke arah utara melewati gang Masjid yang
di penuhi oleh pedagang kaki lima. Aku turun dari mobil dan berjalan melewati
menara kecil itu lalu aku ke gang kecil tersebut. Seberang gang kecil yang
banyak pedagang kaki lima juga ada sebuah lapangan untuk warga berolahraga. Ada
anak muda yang sedang bermain Skateboard,
anak-anak sekolahan yang sedang berolahraga dan beberapa hanya
nongkrong-nongkrong saja. Aku berjalan agak jauh menuju rumah pacarku.
Perjalanan yang lumayan membuat keringat bercucuran. Terlebih lagi aku membawa
dua buah nanas simadu. Setelah sampai di pertigaan yang jalan berbelok ke kiri
agak menanjak, tiba-tiba tali rapia yang mengikat nanas simadu putus dan salah
satu nanas menggelinding hingga tercebur ke sebuah sungai kecil. Aku panik dan
langsung melepas sepatuku dan mengejar nanas yang hanyut terbawa arus sungai.
Cinta Tak Bertepi: Bagian I