Saturday, May 9, 2015

Delusi

Jika hal itu terjadi, aku malah merasa semakin tidak percaya diri dan minder. Aku semakin ingin pergi ke suatu tempat seperti taman dengan rumput yang hijau, air mancur, bunga yang mekar dan berwarna-warni, serta satu buah bangku taman yang panjang. Aku ingin duduk di bangku taman itu dan menikmati taman sambil merenung. Aku ingin melepas diri sejenak dari masalah hidupku. Walaupun air mataku sampai menetes, setidaknya mungkin aku akan merasa lebih baik. Aku hanya setitik debu didunia ini. aku tak punya apa-apa. harta, tahta, dan jabatan pun aku tak punya. Siapa sih aku ini?. 

Setiap sesuatu yang aku lakukan selalu tidak ada hasilnya. Aku sudah berusaha semampuku. Tapi tetap saja cinta dan kehidupan tidak pernah berpihak kepadaku. Aku ini memang payah. Siapa orang yang paling payah di dunia ini? akulah orangnya. Kadang aku sendiri sering tersenyum jika aku melihat tingkahku sendiri. Aku punya keinginan yang besar tapi itu diluar kemampuanku. Tapi aku sering sekali tersenyum bahagia jika berdelusi bahwa keinginanku benar-benar tercapai. Rasanya sangat menyenangkan sekali. seolah semuanya terasa mudah.
Tapi ketika aku kembali ke kenyataan, rasanya diriku yang sebenarnya muncul dan menampar keras-keras diriku sendiri dan berkata "Kau ini bodoh sekali. sangat bodoh. Mana mungkin itu terjadi padamu. Jangan berharap lebih. Kau itu orang yang tidak berguna dan tidak punya otak".
Lalu aku tersenyum sambil berkata "Aku tahu itu. Lagipula aku hanya berdelusi. Setidaknya itu membuatku sedikit tersenyum. Walaupun itu bukan kenyataan".
"Halah sudahlah. Kau itu selalu begitu. Tak ingatkah dirimu kau itu sangat tidak punya otak?. hahaha. Kau itu contoh dari seorang yang gagal, payah, tolol, dan goblok. Tak akan ada satu wanita pun mau menikah denganmu. Pacar saja mungkin tidak mau".
Di wajahnya terlukis senyuman kemenangan yang sinis. Kenapa dia tiba-tiba menyinggung soal wanita? entahlah. Lalu aku berkata lagi.
"Sejak kecil, aku juga berpikir seperti itu. Aku tahu dan mengerti. untuk itulah aku...". Tiba-tiba aku berhenti.
"Aku apa?". Tanya dia dengat tatapan tajam.
"Aku...jadi diriku sendiri". Jawabku dengan senyuman "Tak peduli seberapa buruknya dirimu dimata orang lain. Bahkan keluargamu sendiri. Aku tahu mungkin aku lebih dari buruk. Tapi itulah diriku, beginilah diriku. Aku telanjang. Aku tak punya apa-apa. Aku juga sadar segala sesuatu yang aku lakukan selalu tidak pernah berhasil. Mungkin aku tidak berbakat dengan hal itu. Tapi inilah diriku yang diciptakan oleh Allah dengan segala kekuranganku. Tapi sangat di sayangkan sekali aku tidak punya banyak kelebihan yang membanggakan. tapi itu tidak jadi masalah. sebab jika kita sudah berhasil membuka pintu yang membuka hal yang sederhana, aku yakin kita akan mudah membuka pintu yang lainnya. kau hilang aku ini tolol dan tidak punya otak, itu memang benar. Aku hanya bisa berusaha membuka pintu yang membuka hal yang sederhana itu. Walaupun aku tahu apa aku bisa atau tidak. Yang aku perlukan hanyalah satu".
"Apa itu?". Tanya dia lagi
"Penyemangat". Jawabku dengan tersenyum.
Dia diam sejenak lalu berkata "Hahaha. Penyemangat? Siapa yang menyemangati dirimu hah?. Tidak ada orang yang mau melakukan hal itu. Apalagi itu kepada dirimu".
Aku tersenyum manis lalu berkata dengan yakin "Diriku sendiri".
Dia kaget dan matanya terbelalak.
"Jika orang lain tidak mendukung dan menyemangatimu, Kau bisa mendukung dan menyemangati dirimu sendiri. Walaupun aku tahu itu tidak akan berdampak lama. Tapi setidaknya itu memberikan sedikit kekuatan kan?"
Aku bangkit dari tempat dudukku lalu mendekatinya dengan tersenyum dan aku peluk dia.
"Sudah cukup". Aku melanjutkan sambil air mataku mentes "Kita berdua selalu menanggung semua beban sendirian. Itu sangatlah menyakitkan. Tidak ada yang mau berbagi dengan kita. Cukuplah kita yang tahu. Jangan sampai orang lain tahu kita menderita. Aku tidak mau itu terjadi. Berusaha sebaik mungkin hanya itulah yang bisa kita lakukan. Jangan ada benci walaupun kadang kita tersakiti. Aku juga takut apa yang akan terjadi kepadaku di masa depan kelak. Yang bisa kita lakukan adalah membuka pintu itu".
Pelukanku semakin erat dan air mataku semakin banyak mengalir.
"Memang kita tidak bisa di andalkan. Tapi apa tidak boleh orang yang payah, tolol dan tidak punya otak seperti kita punya sebuah mimpi?. Apa itu tidak boleh?. Apa kita seburuk itu sampai-sampai kita berusaha mendambakan sebuah sampah yang kotor dan bau saja tidak bisa?. Dan apakah dengan diri kita seperti ini kita tidak boleh mencintai seseorang?"
            Dalam pelukanku, dia menghilang seperti caha yang memudar. Lalu aku duduk kembali dan tersenyum sambil mengusap air mata di pipiku.

*Tulisan di atas adalah tulisan yang berisi kisah nyataku sendiri yang aku beri sentuhan fiksi.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan sopan. Gunakan bahasa yang baik dan komentar tidak mengandung sara serta kata-kata yang kasar dan menyinggung pihak tertentu. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Terima kasih.