Jika hal itu terjadi, aku
malah merasa semakin tidak percaya diri dan minder. Aku semakin ingin pergi ke
suatu tempat seperti taman dengan rumput yang hijau, air mancur, bunga yang
mekar dan berwarna-warni, serta satu buah bangku taman yang panjang. Aku ingin
duduk di bangku taman itu dan menikmati taman sambil merenung. Aku ingin
melepas diri sejenak dari masalah hidupku. Walaupun air mataku sampai menetes,
setidaknya mungkin aku akan merasa lebih baik. Aku hanya setitik debu didunia
ini. aku tak punya apa-apa. harta, tahta, dan jabatan pun aku tak punya. Siapa
sih aku ini?.
Setiap sesuatu yang aku
lakukan selalu tidak ada hasilnya. Aku sudah berusaha semampuku. Tapi tetap
saja cinta dan kehidupan tidak pernah berpihak kepadaku. Aku ini memang payah. Siapa
orang yang paling payah di dunia ini? akulah orangnya. Kadang aku sendiri
sering tersenyum jika aku melihat tingkahku sendiri. Aku punya keinginan yang
besar tapi itu diluar kemampuanku. Tapi aku sering sekali tersenyum bahagia
jika berdelusi bahwa keinginanku benar-benar tercapai. Rasanya sangat
menyenangkan sekali. seolah semuanya terasa mudah.
Tapi ketika aku kembali ke
kenyataan, rasanya diriku yang sebenarnya muncul dan menampar keras-keras
diriku sendiri dan berkata "Kau ini bodoh sekali. sangat bodoh. Mana
mungkin itu terjadi padamu. Jangan berharap lebih. Kau itu orang yang tidak
berguna dan tidak punya otak".
Lalu aku tersenyum sambil
berkata "Aku tahu itu. Lagipula aku hanya berdelusi. Setidaknya itu
membuatku sedikit tersenyum. Walaupun itu bukan kenyataan".
"Halah sudahlah. Kau
itu selalu begitu. Tak ingatkah dirimu kau itu sangat tidak punya otak?.
hahaha. Kau itu contoh dari seorang yang gagal, payah, tolol, dan goblok. Tak
akan ada satu wanita pun mau menikah denganmu. Pacar saja mungkin tidak
mau".
Di wajahnya terlukis
senyuman kemenangan yang sinis. Kenapa dia tiba-tiba menyinggung soal wanita?
entahlah. Lalu aku berkata lagi.
"Sejak kecil, aku
juga berpikir seperti itu. Aku tahu dan mengerti. untuk itulah aku...". Tiba-tiba
aku berhenti.
"Aku apa?". Tanya
dia dengat tatapan tajam.
"Aku...jadi diriku
sendiri". Jawabku dengan senyuman "Tak peduli seberapa buruknya
dirimu dimata orang lain. Bahkan keluargamu sendiri. Aku tahu mungkin aku lebih
dari buruk. Tapi itulah diriku, beginilah diriku. Aku telanjang. Aku tak punya
apa-apa. Aku juga sadar segala sesuatu yang aku lakukan selalu tidak pernah
berhasil. Mungkin aku tidak berbakat dengan hal itu. Tapi inilah diriku yang
diciptakan oleh Allah dengan segala kekuranganku. Tapi sangat di sayangkan
sekali aku tidak punya banyak kelebihan yang membanggakan. tapi itu tidak jadi
masalah. sebab jika kita sudah berhasil membuka pintu yang membuka hal yang
sederhana, aku yakin kita akan mudah membuka pintu yang lainnya. kau hilang aku
ini tolol dan tidak punya otak, itu memang benar. Aku hanya bisa berusaha
membuka pintu yang membuka hal yang sederhana itu. Walaupun aku tahu apa aku
bisa atau tidak. Yang aku perlukan hanyalah satu".
"Apa itu?". Tanya
dia lagi
"Penyemangat". Jawabku
dengan tersenyum.
Dia diam sejenak lalu
berkata "Hahaha. Penyemangat? Siapa yang menyemangati dirimu hah?. Tidak
ada orang yang mau melakukan hal itu. Apalagi itu kepada dirimu".
Aku tersenyum manis lalu
berkata dengan yakin "Diriku sendiri".
Dia kaget dan matanya
terbelalak.
"Jika orang lain
tidak mendukung dan menyemangatimu, Kau bisa mendukung dan menyemangati dirimu
sendiri. Walaupun aku tahu itu tidak akan berdampak lama. Tapi setidaknya itu
memberikan sedikit kekuatan kan?"
Aku bangkit dari tempat
dudukku lalu mendekatinya dengan tersenyum dan aku peluk dia.
"Sudah cukup". Aku
melanjutkan sambil air mataku mentes "Kita berdua selalu menanggung semua
beban sendirian. Itu sangatlah menyakitkan. Tidak ada yang mau berbagi dengan
kita. Cukuplah kita yang tahu. Jangan sampai orang lain tahu kita menderita. Aku
tidak mau itu terjadi. Berusaha sebaik mungkin hanya itulah yang bisa kita
lakukan. Jangan ada benci walaupun kadang kita tersakiti. Aku juga takut apa yang
akan terjadi kepadaku di masa depan kelak. Yang bisa kita lakukan adalah
membuka pintu itu".
Pelukanku semakin erat dan
air mataku semakin banyak mengalir.
"Memang kita tidak
bisa di andalkan. Tapi apa tidak boleh orang yang payah, tolol dan tidak punya otak
seperti kita punya sebuah mimpi?. Apa itu tidak boleh?. Apa kita seburuk itu
sampai-sampai kita berusaha mendambakan sebuah sampah yang kotor dan bau saja
tidak bisa?. Dan apakah dengan diri kita seperti ini kita tidak boleh mencintai
seseorang?"
Dalam
pelukanku, dia menghilang seperti caha yang memudar. Lalu aku duduk kembali dan
tersenyum sambil mengusap air mata di pipiku.
*Tulisan di atas adalah tulisan yang berisi kisah nyataku sendiri yang aku beri sentuhan fiksi.
Delusi