Thursday, June 25, 2015

Kisah Cinta Di Stasiun: Bagin II (Tamat)



          Pagi menjelang. Pukul enam aku sudah selesai merapikan kontrakan. Pakaianku juga rapi. Aku memakai jeans warna hitam, kaos abu-abu dibalut dengan Sweater coklat. Rasanya pakaianku sudah pas. Aku segera mengunci pintu kontrakan dan berjalan ke ATM yang ada di depan gang. Setelah itu aku pergi ke stasiun. Sampai di stasiun, aku naik angkot warnah merah nomor 54 sesuai dengan apa yang di intruksikan oleh Mbak Ayu semalam. Angkot melaju perlahan karena penumpang masih sepi. Hanya aku dan seorangibu-ibu yang duduk di depan bersama supir. Aku lalu duduk tepat dibelakang supir untuk bertanya.

            “Bang, nanti turun di Mall Centre ya?”. Kataku.
            “Oh beres Mas”. Jawabnya singkat.
            Sekitar sepuluh menit angkot berhenti disebuah Mall yang lumayan besar.
            “Sudah sampai Mas”. Kata supir angkot itu.
            “Berapa Bang?”.
            “Empat ribu mas”.
            Setelah aku membayar ongkos, aku langsung berjalan mencari gang Indah. Gang yang sempit hanya muat satu motor. Di sebelah kiri gang tembok coklat tinggi yang jadi pembatas antara gang dan Mall. Aku menyusuri gang sempit setapak demi setapak hingga aku sampai disebuah warung.
            “Persimi Bu numpang tanya. Kalau kostan putri sebelah mana ya?”. Tanyaku langsung tanpa basa-basi.
            “Mas lurus saja terus belok kanan. Nah disitu kostan putri. Nanti juga banyak anak gadis disana”. Jawab ibu-ibu penjaga warung.
            “Makasih ya bu”.
            “Iya sama-sama”.
            Aku segera berjalan lalau berbelok ke kanan lalu ada semacam pintu gerbang kecil. Aku buka pintu gerbangnya, ternyata ini memang benar-benar kostan putri. Gang yang sempit dan kostan putri ada di kiri dan kanan bertingkat seperti rumah susun. Di ujung gang jalan buntu oleh tembok coklat. Beberapa gadis seumuranku sedang ngerumpi dengan temannya. Ada yang hanya duduk-duduk saja sambil sibuk memainkan HP. Ada juga yang hanya main-main seperti anak kecil. Saat aku melewati gang ini, ada beberapa gadis yang melihatku. Aku sih tak heran mengingat aku masuk ke sarangnya para gadis. Aku seperti makhluk asing yang baru datang dari dunia lain yang sama sekali berbeda jenis.
            Baru saja aku mau merogoh HP ku di saku celana untuk menelpon Mbak Ayu, tiba-tiba seorang gadis menghampiriku.
            “Cari siapa Mas?”. Tanya dia dengan sangat ramah.
            “Saya cari Mbak Ayu”. Jawabku dengan gugup.
            “Oh Ayu. Dia sedang diatas, mas duduk dulu disini”. Dia mempersilahkanku duduk di bangku kayu di sisi gang. “Sebentar saya mau panggil Ayu dulu”.
            “Terima kasih”.
            Aku langsung duduk. Aku perhatikan dia berjalan ke tengah kostan putri lalu berbelok kekiri dan masuk. Dia sudah tidak terlihat lagi. Mungkin dia naik tangga ke lantai atas. Sembari aku menunggu, aku memperhatikan sekitar. Tempat yang bersih. Maklum penghuninya kaum hawa. Di arah pintu gerbang, tempat empat orang gadis sedang ngerumpi, mereka saling berbisik-bisik. Sepertinya mereka sedang membicarakan aku. Apa mereka tidak tahu aku sedang memperhatikan.
            Tak berapa lama, gadis yang tadi sudah turun bersama Mbak Ayu. Mereka menghampiriku yang dari tadi duduk menunggu.
            “Sudah lama?”. Tanya Mbak Ayu.
            Mbak Ayu memakai celana hitam panjang bermotif bunga berwarna putih dan merah. Baju kemeja perempuan panjang berwarna hijau ke abu-abuan. Entah aku tidak tahu nama kemejanya apa. Sepatu hak dan tas jinjing juga rambutnya yang panjang dia biarkan terurai lurus kebawah.
            “Aku pergi dulu ya?”. Kata gadis itu.
            “Iya terima kasih Na”. Kata Mbak Ayu.
            “Ba...baru nunggu sebentar kok Mbak”. Jawabku sangat gugup.
            “Jangan panggil Mbak ah. Panggul saja Ayu. Kitakan seumuran”.
            “I..iya A..Ayu”. Aku tambah gugup.
            “Yuk berangkat. Mumpung cuacanya belum panas”.
            Kami berdua berjalan kaki. Saat kami mau keluar gerbang, tiba tiba salah satu gadis yang ngerumpi tadi tiba-tiba berbicara.
            “Mau diajak jalan-jalan nih?”. Kata dia dengan senyuman menggoda.
            “Iya. Aku pergi dulu ya?”. Kata Ayu.
            Aku hanya senyum sambil jalan kepada empat gadis itu. Mereka membalas senyumanku. Aku dan Mbak Ayu berbelok ke kiri dan menyusuri gang Indah.
            “Eh aku panggil kamu apa nih?”. Tanya dia tiba-tiba di perjalanan di gang.
            “Panggil saja Farid. Kitakan seumuran”. Jawabku menirukan gaya bicaranya dia.
            “Ihh...kamu bisa aja”. Dia tersenyum. “Kita mau kemana nih?”. Tambahnya.
            “Kemana ya?”. Aku berpikir.
            “Bingung ya? Aku ajak ke tempat biasa aku nongkrong deh. Pokoknya tempatnya keren. Habis dari sana kita ngobrol-ngobrol di sana, gimana?”.
            “Boleh juga”.
            “Eh ngomong-ngomong kamu agak risih ya ke tempat kostan aku?”.
            “Iya nih. Itukan sarang cewek semua”. Aku sedikit bercanda.
            Ayu tersenyum lagi “Aku juga berpikir gitu. Pasti kamu rada gak nyaman pas nunggu aku”.
            “Hehe. Tapi kata si Andri kamu pindah dari kostan lama kamu ya?”.
            “Iya. Disini lebih deket soalnya. Temen satu kost aku juga mau aku ajak. Tapi kata dia nanti tiga bulan lagi soalnya tiga bulan lagi masa sewanya sudah habis jadi tanggung”.
            “Oh jadi kostan putri sama kostan putra berdekatan”.
            “Agak jauh sih. Tapi jam sepuluh gerbang sudah ditutup. Jadi aman gak baklan ada yang ngajak nginep teman haramnya”.
            “Tapi disini gak ada kostan putra?”.
            “Gak ada. Jadi cukup aman. Mereka juga ada yang kerja di Mall Centre Ini. Eh udah sampai depan gang nih. Tuh ada angkot warna hijau lewat. Kita naik itu, langsung ke tempat tongkrongan”.
            Ayu menyetop angkot lalu kamipun naik. Saat didalam angkot, kami lanjutkan pembicaraan.
            “Cewek-cewek yang tadi baik semua kok”. Lanjut dia “Yang omongan cewek di pintu gerbang tadi gak usah dipikirin. Dia hanya bercanada. Cuman ibu kostnya yang agak galak. Jadi kamu harus hati-hati ngomong sama dia”.
            “Begitu”.
            Angkot berhenti disebuah restoran yang lumayan ramai. Restoran yang tidak terlalu besar seperti mini market. Dan juga banyak anak muda yang sedang nongkrong. Aku dan Mbak Ayu turun lalu berjalan ke pintu masuk.
            “Disini murah-murah harganya dan juga enak makanannya”.
            Kami berdua masuk lalu memilih meja di pojok yang diterangi oleh lampi warna-warni. Kemudian kami memesan beberapa makanan dan minuman.
            Suasana restoran cukum ramai, nyaman dan santai. Sambil menunggu pesanan datang, aku mengobrol dengan Mbak ayu.
            “Ngomong-ngomong, kamu sudah berapa lama kerja di Stasiun?”.
            Mbak Ayu berpikir sebentar lalu menjawab “Sekitar satu tahun setengah lebih kalau gak salah”.
            “Lama juga ya. Eh kamu tahu gak pria yang sering duduk di Stasiun?”. Tanyaku penuh harap.
            “Oh itu aku tahu. Tapi aku gak tahu siapa dia. Dia menghilang begitu saja kalau sudah siang atau agak sore. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang”.
            “Tapi dia nunggu siapa?. Ini sudah satu tahun semenjak aku pindah ke kota ini”.
            “Aku juga bingung. Pertama aku masuk kerja juga dia sudah ada”.
            “Misterius sekali. Kalau aku ketemu dengan dia, aku ingin ngajak ngobrol”.
            “Udah jangan di anggap serius. Tuh pesanan kita sudah datang”.
            Kami habiskan pesanan kami tanpa banyak bicara. Banyak pemuda-pemudi yang nongkrong do tempat ini. Sepertinya tempat ini sangat di suaki Mbak Ayu. Suasana yang santai, lampu hias yang warna-warni, dan musik yang memanjakan telinga membuat hati semakin tenang.
            Selesai makan, kami berdua memesan kopi dan mulai mengobrol lagi.
            “Tadi kamu bilang mau ngajak ngobrol orang itu?”. Tanya Mbak Ayu memulai obrolan.
            “Iya, aku penasaran aja. Kalau menurut kamu dia menunggu seseorang, pasti orang itu orang yang berharga”.
            “Terus kamu serius?”.
            “Serius apa?”. Aku keheranan.
            “Serius mau ajak orang itu ngobrol?”.
            “Kalau ada kesempatan sih”.
            Mbak Ayu tertawa. Kami melanjutkan minum kopi sambil mendengarkan musik. Beberapa saat kemudian bintang tamu hadir. Mereka hanya Band Indie yang mungkin sengaja di undang oleh pengelola restoran. Semua mata tertuju pada panggung kecil tempat mereka memamerkan kemampuan bermusiknya. Beberapa lagu Band papan atas mereka bawakan. Beberapa di antaranya mereka meng-aransemen sendiri yang membuat Band ini menarik.
            Tak terasa aku dan Mbak Ayu mengobrol kesana kemari hingga sore. Kami berdua memutuskan untuk pulang. Aku antar terlebih dahulu Mbak Ayu ke kostannya setelah itu aku pulang. Sebelum pamitan, Mbak Ayu bilang terima kasih dengan senyum. Entah perasaan apa, senyumannya membutaku bahagia.
            Saat aku melewati gang menuju kontrakanku, aku melewati sebuah Mushola. Memang selama satu tahun ini aku selalu lewat mushola tapi belum pernah aku sholat di Mushola ini. Aku berniat untuk Sholat Maghrib di Mushola ini. Mumpung waktunya masih lima belas menit lagi. Cat Mushola ini berwarna biru muda di sisi luarnya dan di dalamnya berwaran putih. Lantai Keramik yang mengkilap membuat siapapun pasti betah untuk Iktikaf disini.
Aku mengambil Wudhu lalu aku duduk menunggu Adzan di Saf paling depan. Seorang pria berdiri di dekat mimbar. Dari tingkahnya, aku sudah tahu kalau dia itu adalah Muadzin Mushola ini. Suaranya begitu indah saat dia mengumandangkan Adzan sampai-sampai aku lupa diri dan terbawa indahnya suara itu. Setelah selesai Adzan, Pria itu berbalik. Mataku tak berkedip sama sekali ketika melihat wajah pria itu. Wajah yang tak asing lagi. Dialah pria yang sering aku lihat duduk di Stasiun dan dia juga yang selama ini aku dengar suaranya ketika Adzan. Dia tersenyum padaku mepersilahkan berdiri karena Sholat Maghrib akan dimulai. Aku hanya menuruti perkataannya dan diam seribu bahasa.
Saat semua Jamaah pulang, Pria itu duduk di luar teras sambil mengelap sandalnya dengan kain lap. Aku menghampirinya dan ikut duduk. Saat aku duduk, dia melihat ke arahku dan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Aku membalasnya juga.
“Saya baru satu tahun tinggal di sini. Salam kenal nama saya Farid”. Kataku basa-basi sambil bersalaman dengannya.
“Saya Asep. Panggil saja Mang Asep. Kamu baru sekarang ke Mushola. Kerjaan kamu pasti sibuk sekali ya?”.
“Begotulah Mang. Boleh tanya sesuatu gak Mang?”.
“Boleh, tanya saja”.
“Kalau di perhatikan, Mang Asep ini setiap pagi aku lihat di Stasiun. Memang Mang Asep sedang apa?’.
Mang Asep hanya diam saja. Wajahnya dia tundukkan ke bawah dan terlihat sangat sedih.
“Maaf Mang kalau aku lancang bertanya seperti itu”.
Aku berdiri untuk segera pulang.
“Tunggu”. Kata Mang Asep yang membuat langkahku terhenti. “Duduk”. Tambahnya.
Aku kembali duduk.
“Tak perlu merasa bersalah. Biar Mamang ceritakan mengapa Mamang setiap pagi ada di Stasion”.
Aku mendengarkan dengan serius.
“Sekitar sepuluh tahun yang lalu”. Mang Asep duduk bersila di hadapanku “Mamang punya seorang teman. Kami sudah berteman sejak kecil. Dia anak orang kaya sedangkan Mamang hanya anak seorang Satpam Komplek. Ibu Mamang sudah meninggal semenjak Mamang kelas dua SD. Jadi selama ini Mamang sekolah hasil kerja keras Ayah Mamang.
"Dia begitu baik pada Mamang. Dia berteman dengan siapa saja tanpa pandang dia anak siapa dan keluarga dari mana. Kami berdua sangat dekat sekali seperti saudara. Bahkan Orangtua dia dan Orangtua mamang sudah tahu kalau kita itu teman dekat. Kami terus berteman hingga SMA. Banyak kejadian terjadi selama itu baik suka maupun duka. Saat kelulusan kelas tiga SMA, dia bilang akan ikut Orangtuanya pindah ke kota lain dan melanjutkan kuliah di sana. Awalnya Mamang kaget mendengarnya. Tapi Mamang juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Malam sebelum dia berangkat, dia mengajak ketemuan di sebuah taman. Di taman itu, dia bilang akan kembali lagi menemui Mamang kalau dia lulus kuliah. Sebenarnya kami sudah memiliki rasa cinta. Entah kenapa rasa cinta itu tidak di mulai dengan menyatakan perasaan masing-masing. Mungkin kami sudah tahu isi hati masing-masing dan kami mungkin selama ini berpacaran.
"Di Stasiun itulah terakhir kali Mamang melihatnya. Wajahnya yang terlihat di kaca jendela kereta masih Mamang ingat hingga saat ini. Saat itulah Mamang bertekad untuk bekerja lebih giat. Mamang banting tulang bekerja agar dia kembali, Mamang sudah sukses dan saat itulah Mamang ingin melamar dia. Tapi setelah empat tahun berlalu, dia tak kunjung datang. Mamang terus menunggunya dan memajukan usaha restoran Mamang. Tapi usaha Mamang saat ini belum berkembang maju. Mungkin Allah masih belum memberi Mamang amanah untuk mempunyai harta yang lebih lagi”.
“Kalau boleh tahu, sejak kapan Mamang menunggu dia di stasiun?”. Potongku.
“Satu tahun setelah kami berpisah”.
“Kalau begitu silahkan lanjutkan ceritanya”.
“Kamu mungkin heran melihat Mamang duduk di stasiun seperti orang gila. Mamang sengaja supaya tidak banyak yang curiga. Sebenarnya mamang pulang siang sekitar pukul satu di mana stasiun sudah mulai ramai. Dan jika tidak ada masalah di Restoran, mamang bisa sampai sore. Mamang sih punya target sekitar tiga tahun lagi. Jika dalam waktu tiga tahun dai belum pulang juga, mungkin Mamang akan cari pendamping hidup yang lain”.
“Kalau aku sih tidak bisa ngomong apa-apa lagi Mang. Tapi jujur, aku salut pada Mamang yang setia hingga sekarang”.
Dia tersenyum lalu berkata “Ya sudah, aku pulang dulu”.
Dia berpamitan lalu pergi. Aku juga segera pulang ke kontrakan. Saat aku masuk ke kontrakan, aku baringkan tubuhku yang sudah lelah. Dan dalam hati aku berkata ‘Akan aku nyatakan perasaanku kepada Mbak Ayu’.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan sopan. Gunakan bahasa yang baik dan komentar tidak mengandung sara serta kata-kata yang kasar dan menyinggung pihak tertentu. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Terima kasih.