Pagi menjelang. Pukul enam aku sudah selesai
merapikan kontrakan. Pakaianku juga rapi. Aku memakai jeans warna hitam, kaos abu-abu dibalut dengan Sweater coklat. Rasanya pakaianku sudah pas. Aku segera mengunci
pintu kontrakan dan berjalan ke ATM yang ada di depan gang. Setelah itu aku
pergi ke stasiun. Sampai di stasiun, aku naik angkot warnah merah nomor 54
sesuai dengan apa yang di intruksikan oleh Mbak Ayu semalam. Angkot melaju
perlahan karena penumpang masih sepi. Hanya aku dan seorangibu-ibu yang duduk
di depan bersama supir. Aku lalu duduk tepat dibelakang supir untuk bertanya.
“Bang, nanti turun di Mall
Centre ya?”. Kataku.
“Oh beres Mas”. Jawabnya singkat.
Sekitar sepuluh menit angkot berhenti disebuah Mall yang lumayan besar.
“Sudah sampai Mas”. Kata supir angkot itu.
“Berapa Bang?”.
“Empat ribu mas”.
Setelah aku membayar ongkos, aku langsung berjalan mencari
gang Indah. Gang yang sempit hanya muat satu motor. Di sebelah kiri gang tembok
coklat tinggi yang jadi pembatas antara gang dan Mall. Aku menyusuri gang sempit setapak demi setapak hingga aku
sampai disebuah warung.
“Persimi Bu numpang tanya. Kalau kostan putri sebelah
mana ya?”. Tanyaku langsung tanpa basa-basi.
“Mas lurus saja terus belok kanan. Nah disitu kostan
putri. Nanti juga banyak anak gadis disana”. Jawab ibu-ibu penjaga warung.
“Makasih ya bu”.
“Iya sama-sama”.
Aku segera berjalan lalau berbelok ke kanan lalu ada
semacam pintu gerbang kecil. Aku buka pintu gerbangnya, ternyata ini memang benar-benar
kostan putri. Gang yang sempit dan kostan putri ada di kiri dan kanan bertingkat
seperti rumah susun. Di ujung gang jalan buntu oleh tembok coklat. Beberapa
gadis seumuranku sedang ngerumpi dengan temannya. Ada yang hanya duduk-duduk
saja sambil sibuk memainkan HP. Ada juga yang hanya main-main seperti anak
kecil. Saat aku melewati gang ini, ada beberapa gadis yang melihatku. Aku sih
tak heran mengingat aku masuk ke sarangnya para gadis. Aku seperti makhluk
asing yang baru datang dari dunia lain yang sama sekali berbeda jenis.
Baru saja aku mau merogoh HP ku di saku celana untuk
menelpon Mbak Ayu, tiba-tiba seorang gadis menghampiriku.
“Cari siapa Mas?”. Tanya dia dengan sangat ramah.
“Saya cari Mbak Ayu”. Jawabku dengan gugup.
“Oh Ayu. Dia sedang diatas, mas duduk dulu disini”. Dia
mempersilahkanku duduk di bangku kayu di sisi gang. “Sebentar saya mau panggil
Ayu dulu”.
“Terima kasih”.
Aku langsung duduk. Aku perhatikan dia berjalan ke tengah
kostan putri lalu berbelok kekiri dan masuk. Dia sudah tidak terlihat lagi.
Mungkin dia naik tangga ke lantai atas. Sembari aku menunggu, aku memperhatikan
sekitar. Tempat yang bersih. Maklum penghuninya kaum hawa. Di arah pintu
gerbang, tempat empat orang gadis sedang ngerumpi, mereka saling
berbisik-bisik. Sepertinya mereka sedang membicarakan aku. Apa mereka tidak
tahu aku sedang memperhatikan.
Tak berapa lama, gadis yang tadi sudah turun bersama Mbak
Ayu. Mereka menghampiriku yang dari tadi duduk menunggu.
“Sudah lama?”. Tanya Mbak Ayu.
Mbak Ayu memakai celana hitam panjang bermotif bunga
berwarna putih dan merah. Baju kemeja perempuan panjang berwarna hijau ke
abu-abuan. Entah aku tidak tahu nama kemejanya apa. Sepatu hak dan tas jinjing juga
rambutnya yang panjang dia biarkan terurai lurus kebawah.
“Aku pergi dulu ya?”. Kata gadis itu.
“Iya terima kasih Na”. Kata Mbak Ayu.
“Ba...baru nunggu sebentar kok Mbak”. Jawabku sangat
gugup.
“Jangan panggil Mbak ah. Panggul saja Ayu. Kitakan
seumuran”.
“I..iya A..Ayu”. Aku tambah gugup.
“Yuk berangkat. Mumpung cuacanya belum panas”.
Kami berdua berjalan kaki. Saat kami mau keluar gerbang,
tiba tiba salah satu gadis yang ngerumpi tadi tiba-tiba berbicara.
“Mau diajak jalan-jalan nih?”. Kata dia dengan senyuman
menggoda.
“Iya. Aku pergi dulu ya?”. Kata Ayu.
Aku hanya senyum sambil jalan kepada empat gadis itu.
Mereka membalas senyumanku. Aku dan Mbak Ayu berbelok ke kiri dan menyusuri
gang Indah.
“Eh aku panggil kamu apa nih?”. Tanya dia tiba-tiba di
perjalanan di gang.
“Panggil saja Farid. Kitakan seumuran”. Jawabku menirukan
gaya bicaranya dia.
“Ihh...kamu bisa aja”. Dia tersenyum. “Kita mau kemana
nih?”. Tambahnya.
“Kemana ya?”. Aku berpikir.
“Bingung ya? Aku ajak ke tempat biasa aku nongkrong deh.
Pokoknya tempatnya keren. Habis dari sana kita ngobrol-ngobrol di sana, gimana?”.
“Boleh juga”.
“Eh ngomong-ngomong kamu agak risih ya ke tempat kostan
aku?”.
“Iya nih. Itukan sarang cewek semua”. Aku sedikit
bercanda.
Ayu tersenyum lagi “Aku juga berpikir gitu. Pasti kamu
rada gak nyaman pas nunggu aku”.
“Hehe. Tapi kata si Andri kamu pindah dari kostan lama
kamu ya?”.
“Iya. Disini lebih deket soalnya. Temen satu kost aku
juga mau aku ajak. Tapi kata dia nanti tiga bulan lagi soalnya tiga bulan lagi
masa sewanya sudah habis jadi tanggung”.
“Oh jadi kostan putri sama kostan putra berdekatan”.
“Agak jauh sih. Tapi jam sepuluh gerbang sudah ditutup.
Jadi aman gak baklan ada yang ngajak nginep teman haramnya”.
“Tapi disini gak ada kostan putra?”.
“Gak ada. Jadi cukup aman. Mereka juga ada yang kerja di Mall Centre Ini. Eh udah sampai depan
gang nih. Tuh ada angkot warna hijau lewat. Kita naik itu, langsung ke tempat
tongkrongan”.
Ayu menyetop angkot lalu kamipun naik. Saat didalam
angkot, kami lanjutkan pembicaraan.
“Cewek-cewek yang tadi baik semua kok”. Lanjut dia “Yang
omongan cewek di pintu gerbang tadi gak usah dipikirin. Dia hanya bercanada. Cuman
ibu kostnya yang agak galak. Jadi kamu harus hati-hati ngomong sama dia”.
“Begitu”.
Angkot berhenti disebuah restoran yang lumayan ramai.
Restoran yang tidak terlalu besar seperti mini market. Dan juga banyak anak
muda yang sedang nongkrong. Aku dan Mbak Ayu turun lalu berjalan ke pintu
masuk.
“Disini murah-murah harganya dan juga enak makanannya”.
Kami berdua masuk lalu memilih meja di pojok yang
diterangi oleh lampi warna-warni. Kemudian kami memesan beberapa makanan dan
minuman.
Suasana restoran cukum ramai, nyaman dan santai. Sambil
menunggu pesanan datang, aku mengobrol dengan Mbak ayu.
“Ngomong-ngomong, kamu sudah berapa lama kerja di Stasiun?”.
Mbak Ayu berpikir sebentar lalu menjawab “Sekitar satu
tahun setengah lebih kalau gak salah”.
“Lama juga ya. Eh kamu tahu gak pria yang sering duduk di
Stasiun?”. Tanyaku penuh harap.
“Oh itu aku tahu. Tapi aku gak tahu siapa dia. Dia
menghilang begitu saja kalau sudah siang atau agak sore. Sepertinya dia sedang
menunggu seseorang”.
“Tapi dia nunggu siapa?. Ini sudah satu tahun semenjak
aku pindah ke kota ini”.
“Aku juga bingung. Pertama aku masuk kerja juga dia sudah
ada”.
“Misterius sekali. Kalau aku ketemu dengan dia, aku ingin
ngajak ngobrol”.
“Udah jangan di anggap serius. Tuh pesanan kita sudah
datang”.
Kami habiskan pesanan kami tanpa banyak bicara. Banyak
pemuda-pemudi yang nongkrong do tempat ini. Sepertinya tempat ini sangat di
suaki Mbak Ayu. Suasana yang santai, lampu hias yang warna-warni, dan musik
yang memanjakan telinga membuat hati semakin tenang.
Selesai makan, kami berdua memesan kopi dan mulai
mengobrol lagi.
“Tadi kamu bilang mau ngajak ngobrol orang itu?”. Tanya
Mbak Ayu memulai obrolan.
“Iya, aku penasaran aja. Kalau menurut kamu dia menunggu
seseorang, pasti orang itu orang yang berharga”.
“Terus kamu serius?”.
“Serius apa?”. Aku keheranan.
“Serius mau ajak orang itu ngobrol?”.
“Kalau ada kesempatan sih”.
Mbak Ayu tertawa. Kami melanjutkan minum kopi sambil
mendengarkan musik. Beberapa saat kemudian bintang tamu hadir. Mereka hanya
Band Indie yang mungkin sengaja di undang oleh pengelola restoran. Semua mata
tertuju pada panggung kecil tempat mereka memamerkan kemampuan bermusiknya.
Beberapa lagu Band papan atas mereka bawakan. Beberapa di antaranya mereka
meng-aransemen sendiri yang membuat Band ini menarik.
Tak terasa aku dan Mbak Ayu mengobrol kesana kemari
hingga sore. Kami berdua memutuskan untuk pulang. Aku antar terlebih dahulu
Mbak Ayu ke kostannya setelah itu aku pulang. Sebelum pamitan, Mbak Ayu bilang
terima kasih dengan senyum. Entah perasaan apa, senyumannya membutaku bahagia.
Saat aku melewati gang menuju kontrakanku, aku melewati
sebuah Mushola. Memang selama satu tahun ini aku selalu lewat mushola tapi
belum pernah aku sholat di Mushola ini. Aku berniat untuk Sholat Maghrib di
Mushola ini. Mumpung waktunya masih lima belas menit lagi. Cat Mushola ini
berwarna biru muda di sisi luarnya dan di dalamnya berwaran putih. Lantai
Keramik yang mengkilap membuat siapapun pasti betah untuk Iktikaf disini.
Aku
mengambil Wudhu lalu aku duduk menunggu Adzan di Saf paling depan. Seorang pria
berdiri di dekat mimbar. Dari tingkahnya, aku sudah tahu kalau dia itu adalah
Muadzin Mushola ini. Suaranya begitu indah saat dia mengumandangkan Adzan
sampai-sampai aku lupa diri dan terbawa indahnya suara itu. Setelah selesai
Adzan, Pria itu berbalik. Mataku tak berkedip sama sekali ketika melihat wajah
pria itu. Wajah yang tak asing lagi. Dialah pria yang sering aku lihat duduk di
Stasiun dan dia juga yang selama ini aku dengar suaranya ketika Adzan. Dia
tersenyum padaku mepersilahkan berdiri karena Sholat Maghrib akan dimulai. Aku
hanya menuruti perkataannya dan diam seribu bahasa.
Saat
semua Jamaah pulang, Pria itu duduk di luar teras sambil mengelap sandalnya
dengan kain lap. Aku menghampirinya dan ikut duduk. Saat aku duduk, dia melihat
ke arahku dan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Aku membalasnya juga.
“Saya
baru satu tahun tinggal di sini. Salam kenal nama saya Farid”. Kataku basa-basi
sambil bersalaman dengannya.
“Saya
Asep. Panggil saja Mang Asep. Kamu baru sekarang ke Mushola. Kerjaan kamu pasti
sibuk sekali ya?”.
“Begotulah
Mang. Boleh tanya sesuatu gak Mang?”.
“Boleh,
tanya saja”.
“Kalau
di perhatikan, Mang Asep ini setiap pagi aku lihat di Stasiun. Memang Mang Asep
sedang apa?’.
Mang
Asep hanya diam saja. Wajahnya dia tundukkan ke bawah dan terlihat sangat
sedih.
“Maaf
Mang kalau aku lancang bertanya seperti itu”.
Aku
berdiri untuk segera pulang.
“Tunggu”.
Kata Mang Asep yang membuat langkahku terhenti. “Duduk”. Tambahnya.
Aku
kembali duduk.
“Tak
perlu merasa bersalah. Biar Mamang ceritakan mengapa Mamang setiap pagi ada di
Stasion”.
Aku
mendengarkan dengan serius.
“Sekitar
sepuluh tahun yang lalu”. Mang Asep duduk bersila di hadapanku “Mamang punya
seorang teman. Kami sudah berteman sejak kecil. Dia anak orang kaya sedangkan
Mamang hanya anak seorang Satpam Komplek. Ibu Mamang sudah meninggal semenjak
Mamang kelas dua SD. Jadi selama ini Mamang sekolah hasil kerja keras Ayah
Mamang.
"Dia
begitu baik pada Mamang. Dia berteman dengan siapa saja tanpa pandang dia anak
siapa dan keluarga dari mana. Kami berdua sangat dekat sekali seperti saudara.
Bahkan Orangtua dia dan Orangtua mamang sudah tahu kalau kita itu teman dekat.
Kami terus berteman hingga SMA. Banyak kejadian terjadi selama itu baik suka
maupun duka. Saat kelulusan kelas tiga SMA, dia bilang akan ikut Orangtuanya
pindah ke kota lain dan melanjutkan kuliah di sana. Awalnya Mamang kaget
mendengarnya. Tapi Mamang juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Malam
sebelum dia berangkat, dia mengajak ketemuan di sebuah taman. Di taman itu, dia
bilang akan kembali lagi menemui Mamang kalau dia lulus kuliah. Sebenarnya kami
sudah memiliki rasa cinta. Entah kenapa rasa cinta itu tidak di mulai dengan
menyatakan perasaan masing-masing. Mungkin kami sudah tahu isi hati
masing-masing dan kami mungkin selama ini berpacaran.
"Di
Stasiun itulah terakhir kali Mamang melihatnya. Wajahnya yang terlihat di kaca
jendela kereta masih Mamang ingat hingga saat ini. Saat itulah Mamang bertekad
untuk bekerja lebih giat. Mamang banting tulang bekerja agar dia kembali,
Mamang sudah sukses dan saat itulah Mamang ingin melamar dia. Tapi setelah
empat tahun berlalu, dia tak kunjung datang. Mamang terus menunggunya dan
memajukan usaha restoran Mamang. Tapi usaha Mamang saat ini belum berkembang
maju. Mungkin Allah masih belum memberi Mamang amanah untuk mempunyai harta
yang lebih lagi”.
“Kalau
boleh tahu, sejak kapan Mamang menunggu dia di stasiun?”. Potongku.
“Satu
tahun setelah kami berpisah”.
“Kalau
begitu silahkan lanjutkan ceritanya”.
“Kamu
mungkin heran melihat Mamang duduk di stasiun seperti orang gila. Mamang
sengaja supaya tidak banyak yang curiga. Sebenarnya mamang pulang siang sekitar
pukul satu di mana stasiun sudah mulai ramai. Dan jika tidak ada masalah di
Restoran, mamang bisa sampai sore. Mamang sih punya target sekitar tiga tahun
lagi. Jika dalam waktu tiga tahun dai belum pulang juga, mungkin Mamang akan
cari pendamping hidup yang lain”.
“Kalau
aku sih tidak bisa ngomong apa-apa lagi Mang. Tapi jujur, aku salut pada Mamang
yang setia hingga sekarang”.
Dia
tersenyum lalu berkata “Ya sudah, aku pulang dulu”.
Dia
berpamitan lalu pergi. Aku juga segera pulang ke kontrakan. Saat aku masuk ke
kontrakan, aku baringkan tubuhku yang sudah lelah. Dan dalam hati aku berkata ‘Akan
aku nyatakan perasaanku kepada Mbak Ayu’.
Kisah Cinta Di Stasiun: Bagin II (Tamat)