Friday, December 29, 2017

Putri Karina & Pena Ajaib: Bagian I



Karina adalah seorang putri dari Raja Rushmani dan Ratu Shandiana. Dia adalah anak semata wayang yang sangat dicintai. Bukan hanya oleh orang tuanya dan penghuni istana. Tetapi juga oleh masyarakat. Karina menjadi satu-satunya yang akan mewarisi tahta kerajaan ini. Dia akan diangkat menjadi Ratu Kerajaan Darumanda. Kerajaan kecil ini terletak di ujung utara dari Benua Timur yang pemerintahannya dipimpin oleh kerajaan besar yang disebut Ibukota Kerajaan Timur. Jadi Kerajaan Darumanda ini adalah salah satu dari sekian banyak kerajaan kecil yang di bawah pemerintahan Ibukota Kerajaan Timur.

Sejak kecil Karina begitu dimanja. Tapi dia tetap rendah hati. Saat usianya menginjak remaja, dia tidak mau lagi jika dibawakan makanan oleh pelayan ataupun dicucikan bajunya. Bahakan sampai-sampai para pelayan pun takut dimarahi oleh Ratu kalau mereka ketahuan tidak melayani Putri Karina. Tuan Putri mengenyam pendidikan di dalam istana. Guru yang didatangkan merupakan guru terbaik yang didatangkan di luar kerajaan. Menginjak usia dua puluh dua tahun, Putri Karina mengadakan sebuah acara wisuda yang akan digelar secara besar-besaran dan semua masyarakat juga akan ikut memeriahkan acara tersebut. Putri Karina lulus setelah mengenyam pendidikan dari seorang mahaguru yang didatangkan dari Ibukota Kerajaan. Di mana pendidikan ini setara dengan pendidikan tingkat universitas.
Saat fajar hampir menyongsong, Puti Karina sedang sibuk memakai gaun berwarna biru langit yang begitu indah dibantu oleh beberapa tukang rias. Tuan Putri memiliki wajah agak bulat dengan mata yang agak besar. Pipi agak tembem, postur tubuh yang tidak terlalu tinggi dan rambut hitam panjang. Dua tukang rias sedang sibuk menata rambutnya yang panjang sampai pinggang untuk dirapikan sedemikian rupa agar terlihat mengkilap. Semuanya dipersiapkan sedetil mungkin agar sang Tuan Putri terlihat cantik dan anggun ketika berpidato di hadapan masyarakat.
Tiba-tiba, pintu kamar Tuan Putri ada yang mengetuk dari luar.
“Tuan Putri. Apa semuanya sudah siap?” Tanya seorang penjaga yang berasal dari luar pintu.
“Sebentar lagi. Sepuluh menit lagi saya akan keluar.” Jawab Putri Karina.
Kemudian salah satu tukang rias membersihkan wajah Tuan Putri dan memberinya sedikit sentuhan riasan di wajah Tuan Putri sehingga membuatnya terlihat lebih bersih wajahnya. Salah satu tukang rias yang lain menyiapkan sepatu berwarna biru langit dan memakaikannya ke kaki Tuan Putri. Dia lalu berdiri dan hal terakhir adalah memasangkan sebuah mahkota yang terbuat dari emas dan berlian yang mewah. Tuan putri lalu berjalan keluar menyusuri lorong yang dijaga ketat oleh penjaga istana. Sampai di serambi atas yang luas dia berjalan menuju pagar dinding lalu melihat ke bawah, ternyata banyak sekali masyarakat yang hadir. Gemuruh pun berbunyi ketika Tuan Putri mengangkat tangan kanannya ke atas untuk menyapa. Kemudian, Raja dan Ratu mendekat. Raja menyampaikan kata-kata pembukaan.
Janggutnya yang panjang terhempas oleh angin ketika dia memulai bicara “Wahai Rakyat Kerajaan Darumanda. Terima kasih kalian sudah mau menyaksikan Wisuda Tuan Putri. Aku tahu kalian pasti sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Untuk itulah kami dari keluarga kerajaan telah menyiapkan hidangan yang istimewa untuk kalian. Wahai rakyatku. Tuan Putri tak lama lagi akan mewarisi tahta kerajaan ini. Mohon bimbing dia. Jika dia melakukan sebuah kekhilafan, mohon diingatkan. Kalian lah nyawa dari Kerajaan Darumanda. Sekarang, saya persilakan Tuan Putri untuk menyampaikan pidatonya.”
Raja dan Ratu mundur. Putri Karina mengambil napas panjang.
“Wahai Rakyat Kerajaan Darumanda.” Katanya dengan nada yang sangat lantang. “Aku berdiri di sini bukan untuk sombong. Melainkan untuk kalian semua. Terima kasih karena kalian telah menemani masa kecilku. Aku yang waktu kecil sering berlarian ke sana ke mari. Bahkan berlarian di rumah-rumah kalian dan dikejar oleh penjaga istana agar aku kembali ke istana. Aku minta maaf jika aku mempunyai kesalahan. Seperti yang dikatakan oleh ayahku, bimbing aku agar menjadi seorang Ratu yang kalian inginkan. Tak banyak yang bisa aku katakan. Aku akhiri pidatoku dan kita akan melanjutkan acara wisudaku.”
Tuan Putri bersiap. Raja dan Ratu mendekat mendampinginya. Lalu sang mahaguru mendekat dan memberinya sebuah gulungan kertas. Dia kemudian menunaikan sebuah kalung yang terbuat dari bunga yang menandakan kalau Tuan Putri sudah lulus. Semua orang bertepuk tangan dan acara semakin meriah. Rakyat berpesta. Ada yang makan-makan, ada juga yang bernyanyi sambil menari. Bahkan, sebagian orang memberi hadiah kepada Tuan Putri. Dengan senang hati Tuan Putri menerimanya. Begitu banyak hadiah yang diterima sehingga membuat para penjaga kewalahan membawa semua hadiah ke dalam istana.
Tengah malam acara selesai.  Putri Karina kembali ke kamar dan ternyata beberapa hadiah ada di dalam kamarnya. Tetapi hanya hadiah yang bentuknya kecil saja yang dibawa. Sementara yang lain akan dia cek keesokan harinya. Putri Karina membuka hadiah itu satu per satu. Baginya, semua hadiah istimewa. Kalung, gelang, bando dari tanduk rusa, ikat rambut, bahkan sampai baju yang disulam pun ada. Dia sangat senang sekali menerima semua hadiah itu. Tapi ada satu hadiah yang belum dia buka. Hadiah ini berbentuk kotak memanjang dan hanya dibungkus oleh kain cokelat dengan tali berwarna emas. Dengan sangat hati-hati dia membuka tali itu lalu mengeluarkan isinya. Sebuah wadah kotak memanjang yang terbuat dari kayu yang indah dia dapati. Kemudian dia membuka isinya dan terlihat sebuah pena berwarna biru tua yang begitu indah. Putri Karina keheranan siapa yang memberi pena ini. Dia tahu kalau pena sejenis ini harganya bisa puluhan koin emas. Tapi dai mendoakan semoga yang memberi ini bisa mendapat rezeki yang lebih.
Putri Karina kemudian mengambil sebuah buku kosong dan botol tinta. Dai celupkan ujung pena itu ke dalam botol tinta kemudian dia mulai menulis. Dia menulis pengalamannya hari ini. Sangat serius sekali dia menulis hingga lupa kalau waktu hampir pagi. Dia kemudian bergegas tidur dan bangun kesiangan.
Tengah hari Putri Karina keluar istana. Dia ingin menyantap sup daging yang biasa ia beli sejak kecil dia sebuah kedai milik keluarga Gondana. Dia ditemani oleh pelayan wanita dan ketika sampai di sana, dia langsung disambut oleh pemilik kedai. Putri Kirana langsung memesan sup daging kesukaannya bendera sepiring nasi. Dia makan dengan lahap sekali. Di tengah dia sedang menyantap sup daging, tiba-tiba pelayannya masuk na memberikan sebuah surat.
“Dari siapa ini pelayan?” Tanya Putri Karina.
“Maaf. Saya sendiri tidak tahu. Sebab yang memberikan kepada saya seorang anak kecil.” Jawab pelayan wanita itu. Dia kemudian umur pamit dan kembali menunggu di luar.
Setelah selesai makan, Putri Karina membaca isi surat itu. Betapa terkejutnya dia ketika membaca surat itu. Dalam surat itu berisi kalau si penulis surat sudah tahu bahwa Putri Karina sudah menggunakan pena yang dia kasih sebagai hadiah. Namun si penulis juga menulis bahwa ini bukanlah surat ancaman. Bahkan si penulis memintanya menemuinya di belakang istana saat tengah malam nanti sendirian tanpa pengawalan sambil membawa pena tersebut. Dia menjamin kalau dia tidak akan berbuat jahat.
Putri karma kemudian memasukkan surat itu ke dalam saku gaunnya.
“Aku sudah selesai, Tuan Gondana.” Putri Karina berteriak.
Gondana yang seorang pria paruh baya menghampiri Putri Karina dengan penuh sopan.
“Ah, Tuan Putri sudah selesai. Suatu kehormatan bagi saya melayani Tuan Putri.” Katanya.
Putri Krina tersenyum manis lalu dia membayar sebesar lima koin perak.
“Tak perlu Tuan Putri membayar. Ini sebagai hadiah dari saya untuk atas wisuda Tuan Putri.”
“Kalau begitu ini hadiah dari aku atas wisudaku.” Putri Karina kembali tersenyum.
Tengah malam, Putri Karina menyelinap ke belakang istana. Dengan susah payah dia menghindari beberapa penjaga yang berpatroli. Saat sampai di benteng belakang istana, dia mendengar suara yang memanggil namanya. Dia menyusuri sisi tembok lalu menemukan sebuah pintu kecil. Bahkan Putri Karina sendiri tidak tahu kalau ada pintu kecil di sini. Dia kemudian masuk dan melewati benteng dengan mudah lalu keluar dari sisi pintu yang lain.
Putri Karina memanggil-manggil suara yang dia dengar tadi. Lalu, seorang wanita paruh baya dengan rambut ikal bergelombang mendekat. Awalnya Putri Karina ketakuatan. Tapi wanita paruh baya itu sangat sopan sekali sehingga membuat Putri Karina bisa mempercayainya.
“Tenang Tuan Putri. Saya ini rakyat Anda. Sama seperti yang lainnya. Perkenalkan. Nama saya Dwimana. Saya seorang janda tanpa anak.” Katanya sambil membungkuk.
“I...iya.” Putri Karina gugup.
“Aduh, saya lupa kalau saya sedang memasak. Mari ikut saya ke gubuk saya di belakang bukit sana.” Dwimana menunjuk ke arah bukit yang diterangi oleh bulan.
Putri Karina diam. Dwimana memperhatikan wajah Tuan Putri lalu dia tersenyum.
“Anda jangan khawatir. Saya sudah menyiapkan kuda untuk Anda.”
Kemudian Dwimana bersiul dan kuda berwarna putih datang dengan suara derap kaki kuda yang berdentang. Dwimana mempersilakan Tuan Putri untuk naik. Dia menuntun kuda itu sambil memegang lentera untuk penerangan jalan. Saat sampai di rumah gubuknya, dia menjamu Tuan Putri dengan sangat baik. Bahkan dia menyiapkan sup daging yang merupakan makanan kesukaan Tuan Putri.
“Tuan Putri.” Kata Dwimana setelah selesai makan.
“Sebentar.” Putri Karina mengangkat tangannya agak Dwimana berhenti bicara. “Pertama, aku baru tahu kalau ada rumah di tempat ini. Kedua, kenapa kamu memberikan saya hadiah pena yang sangat mahal ini?” tambahnya.
“Itu yang mau saya jelaskan.” Dwimana diam sebentar. “Sebenarnya, itu bukan pena biasa. Itu adalah pena ajaib. Jika Anda menuliskan sesuatu, maka sesuatu itu akan terjadi.”
Putri Karina terhenyak kaget.
“Kemarin malam aku menulis kegiatanku.” Katanya dengan panik.
“Tenang Tuan Putri. Jika Anda menulis hal semacam itu, tidak akan terjadi apa-apa.”
“Lalu, untuk apa kamu memberikannya kepadaku?”
“Karena aku tahu kalau Anda adalah orang yang tepat. Anda memiliki hati yang bersih.”
“Aku harus apakan benda ini?” Putri Karina mengeluarkan pena itu dan meletakkannya di atas meja. Warna biru tuanya terlihat mengkilap ketika cahaya lilin menyinari.
“Anda kutu bukan saja orang yang tepat. Tapi juga sudah ditakdirkan untuk memiliki benda ini. Anda harus memusnahkan pena ini. Karena pena ini mencari incaran beberapa penyihir jahat untuk digunakan dalam perang.”
“Perang sudah lama tidak terjadi.”
“Selama ada yang percaya dengan batu yang bisa memancarkan tujuh cahaya itu, perang akan terjadi.”
“Batu itu hanya dongeng. Lalu apa hubungannya dengan pena ini?”
“Karena pegangan pena ini yang berwarna biru tua berasal dari batu itu.”
“Aku tidak percaya.”
“Anda boleh mencobanya.”
Dwimana mengambil sebuah kertas dan menyuruh Tuan Putri menulis sesuatu yang tidak berbahaya.
“Contohnya apa?” Putri Karina kebingungan.
“Seperti tikus dimakan ular. Tapi Anda menulisnya harus detil seperti waktu dan tempat kejadiannya.”
Putri Karina lalu mulai menulis. Saat selesai, wajahnya terlihat tegang. Dan, tak ada yang terjadi.
“Mana? Tidak terjadi apa-apa?”
“Sebentar.” Dwimana mengambil kertas itu dan membacanya. “Anda kurang menambahkan di mana burung ini jatuh.” Tambahnya.
Putri Karina mengulangi tulisannya. Setelah selesai, tiba-tiba seekor gagak datang meluncur menghancurkan kaca jendela dan menabrak tungku penghangat ruangan sehingga gagak itu mati terbakar.
Putri Karina kaget. Dia berdiri dan diam terpaku menyaksikan kejadian yang luar biasa ini.
“Sekarang Anda mengerti, kan? Tapi Anda akan ditemani oleh seorang pria yang datang dari sebuah desa di ujung selatan. Dia memiliki kemampuan yang hebat dalam bertarung. Dia akan melindungi Anda dan menemani perjalanan Anda untuk menghancurkan pena itu.”
“Ke mana aku harus menghancurkannya?”
“Berjalankah terus ke timur hingga kalian menemukan dua buah bukit yang di tengahnya terdapat sebuah batu hitam yang besar. Letakkan pena itu di atasnya lalu suruh pria itu untuk memukulkan pedangnya ke arah pena itu sehingga pena itu akan hancur.”
“Kenapa tidak langsung hancurkan saja?”
“Tidak bisa. Perlu dia buah bahan baku untuk menghancurkannya. Pria itu punya satu bahan baku yang sudah jadi pedang. Dan batu yang tadi aku sebutkan punya.”
“Aku tidak bisa keluar. Raja dan Ratu pasti melarang.”
“Mereka akan mengizinkan.”
“Bagaimana caranya?”
“Besok pria itu akan datang menghadap Raja.”
Putir Karina hanya diam dan tak berapa lama dia pulang kembali ke istana dengan menghindari para penjaga.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan sopan. Gunakan bahasa yang baik dan komentar tidak mengandung sara serta kata-kata yang kasar dan menyinggung pihak tertentu. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Terima kasih.