Esok hari, ternyata benar apa yang dikatakan oleh
Dwimana. Seorang pria berbadan sedang dengan rambut hitam lurus, berpakaian
zirah perang, dan pedang yang terselip di pinggangnya datang menghadap Raja.
Dia berlutut di hadapan Raja.
“Paduka Raja. Perkenalkan nama saya Dawa dari desa na
jauh di selatan. Maksud kedatangan saya kemari memenuhi perintah Sang Maha Ratu
dari Ibukota Kerajaan Timur untuk membawa Tuan Putri Kirana ke timur.” Dawa
membuka gulungan surat dari kantung yang terbuat dari kain. “Silakan Anda
baca.”
Dawa mendekat lalu mundur dan kembali berlutut.
Setelah membaca gulungan surat itu, Raja Rushmani
mengangguk.
“Karena ini perintah dari Sang Maha Ratu, saya harus
memenuhinya. Ini pasti sangat penting yang menyangkut seluruh Benua Kerajaan
Timur. Silakan kau bawa dia.”
Dawa menundukkan kepala “Terima kasih Paduka. Siang
nanti, kita akan berangkat. Saya akan melindungi Tuan Putri Kirana. Bila perlu
nyawa saja yang jadi korban.”
Putri Kirana bersiap. Semalam dia sudah mendapat
penjelasan panjang lebar dari Dwimana tentang asal-usul pena itu. Dia mengerti
kalau dia adalah satu-satunya yang bisa menghancurkan pena itu. Karena dia
keturunan langsung dari pembuat pena itu. Yaitu leluhur dari kakek buyutnya.
Siang hari semua perlengkapan sudah dibawa. Dawa
menjamin kalau Tuan Putri tidak akan kesusahan. Mereka memulai perjalanan menuju
timur dengan satu kuda. Tuan Putri di belakang dengan memegang erat-erat Dawa
karena kuda berlari begitu kencangnya.
Malam hari mereka beristirahat di sebuah gua. Karena
Tuan Putri kini tahu kenapa Dawa memacu kudanya sangat kencang. Karena mereka
sedang diburu oleh seorang penyihir hebat.
“Berapa lama lagi perjalanan kita?” Tanya Putri
Karina.
“Setengah lagi. Pagi lusa kita akan sampai.” Jawab
Dawa.
“Berapa lama kamu jadi prajurit Ibukota Kerajaan?”
“Baru delapan tahun, Tuan Putri.”
“Berapa umurmu?”
“Saat ini dua puluh tiga tahun.”
Putri Karina mengangguk-ngangguk. Lalu, mereka
mendengar suara gemuruh. Dawa menyuruh Putri Karina menulis dengan pena ajaib
itu.
“Apa yang harus aku tulis?”
“Tolong Anda tulis penyihir itu diganggu oleh serigala
hutan.”
“Bagaimana aku tahu di ada di mana?”
“Dia tidak jauh dari sini. Pokoknya anda tulis kalau
seorang penyihir berbadan tinggi dengan jubah abu-abu sedang diserang oleh
ribuan serigala yang buas. Anda sudah diberi tahu caranya oleh Wanita bernama
Dwimana, kan?”
“Eh, bagaimana kalian kenal?”
“Tentu saja kami kenal. Dia itu mata-mata dari Ibukota
Kerajaan.”
“Baiklah.”
Putri Karina lalu menulis lengkap kejadian seorang
penyihir berbadan tinggi dengan jubah abu-abu diserang oleh ribuan serigala.
Selesai menulis, terdengar suara gemuruh dan lolongan serigala yang begitu
banyak. Dari dalam gua mereka bisa melihat ribuan serigala berlarian. Dan
kemudian, suara angin bercampur gemuruh petir terdengar. Putri Karina merasa
ketakutan.
“Jangan akur Tua Putri. Saya akan melindungimu.”
“Apa penyihir sehebat itu?”
“Itu untuk penyihir yang hebat. Seperti penyihir yang
sedang mengejar kita. Dia bisa mengeluarkan api, angin, dan sambaran petir dari
tangannya. Dia juga bisa memindahkan batu besar dengan sihirnya.”
Suara gemuruh tidak terdengar lagi. Sepertinya
penyihir itu mundur sementara.
“Kenapa tidak aku tulis kalau penyihir itu mati
dimakan serigala?”
“Pena itu bukan untuk membunuh. Jika Anda
melakukannya, Anda tidak akan bisa lepas dari pena itu. Anda akan jadi pribadi
yang jahat karena Anda merasa bisa mengendalikan semuanya. Untuk itulah pena
itu harus dihancurkan. Karena jika jatuh di tangan yang salah, bisa jadi
bencana yang sangat besar.”
Pagi hari mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan
memacu kuda lari sekencang mungkin. Saat siang hari, ternyata penyihir itu
berhasil mengejar. Dia terbang mengejar di belakang. Putri Karina panik ketika
melihat pria yang sudah tua dengan janggut putih panjang, mata yang bercahaya
dan jubah abu-abu melesat mengejar. Dawa mencoba menenangkan Putri Karina.
Kemudian dia bersiul dan tak berapa lama ada sepuluh lingkaran hitam muncul di
atas dan keluarlah sepuluh penyihir pria yang masih sekitar empat puluh tahun.
Mereka bersepuluh kemudian melawan penyihir tua itu.
“Mereka juga penyihir?” tanya Putri Karina.
“Mereka prajurit dari Ibukota Kerajaan.”
“Lalu kamu ini prajurit apa?”
“Aku ahli pedang.”
Kuda terus berlari cepat. Ternyata untuk sampai ke
tujuan lebih cepat dari perkiraan Dawa. Saat sampai, mereka langsung turun dari
kuda dan berlari menuju batu ihram yang ada di tengah kedua bukit itu. Namun
hampir beberapa langkah mereka sampai, tiba-tiba penyihir tua itu muncul di
hadapan mereka seperti kilat. Dawa menghunus pedangnya dan bersiap untuk
bertarung.
“Hahahaha” tawa penyihir tua itu. “Prajurit rendahan
sepertimu bisa apa?”
“Kenapa semua temanku?” tanya Dawa sambil tangannya
memegang pedang.
“Oh, mereka. Aku rasa mereka sudah ke alam baka.”
Dawa berlari dan melayangkan tebas pedang. Tapi
penyihir itu bisa menahannya hanya dengan tangan tanpa terluka sedikitpun. Lalu
penyihir itu memukul perut Dawa dan membuatnya terpental hingga di depan Putri
Karina.
“Kamu tidak apa-apa?” Putri Karina membantu Dawa
berdiri.
“Tuan Putri, sepertinya ini akan sulit. Sementara aku
melawannya, cobalah Anda tulis dengan pena ajaib itu. Tulis apa saja agar aku
tidak kewalahan.”
“baiklah.”
Dawa bangkit. Dia mengeluarkan aura putihnya dan
menyerang penyihir itu. Sementara Dawa menyerang, Putri Karina menulis kalau
penyihir itu diserang oleh seekor harimau. Tapi harimau itu mati hanya dengan
satu sambaran petir yang keluar dari tangannya. Lalu dia menulis lagi, lagi dan
lagi. Tapi gagal. Dawa memintanya untuk berhenti. Dia tahu kalau hal ini tidak
berguna. Dia meminta Putri Karina untuk bersembunyi di balik batu. Putri Karina
lalu berlari dan bersembunyi di balik batu.
“Oh, jadi Sang Tuan Putri yang memegang pena ajaib
itu?” kaya penyihir tua itu.
Dawa hanya diam.
“Biarlah. Aku mau bersenang-senang dulu. Karena alu
langsung membunuh kalian tidaklah seru.”
Dawa menyiapkan kuda-kudanya. Aura kembali keluar dari
tubuhnya. Kali ini auranya berwarna merah. Lalu dia kembali menyerang penyihir
itu dengan pedangnya. Penyihir itu menghindar. Dalam hatinya, dia tak menyangka
kalau Dawa mempunyai kekuatan sebesar ini.
Dawa menebas dan penyihir itu menghindar. Tapi dia
terus menebas hingga tangan kanan penyihir itu sedikit terluka.
“Sepertinya aku sudah meremehkanmu. Baiklah. Akan aku
keluarkan semua kemampuanku.”
Penyihir itu mengangkat kedua tangannya. Dawa juga
bersiap. Kini mereka bertarung dengan kecepatan yang luar biasa. Bahkan Putri
Karina yang mengintip di belakang batu hampir-hampir tak bisa melihat gerakan
mereka. Bahkan suara pedang yang beradu dengan kekuatan sihir sangat jelas
sekali terdengar. Setelah sepuluh menit, mereka berhenti karena kelelahan.
Dawa kembali menyiapkan kuda-kudanya. Dia akan
melancarkan serangan mematikan sekaligus serangan terakhir. Lalu, dia melesat
dengan cepat sambil menebaskan pedangnya. Penyihir itu menahannya dengan sihir
pelindung terkuatnya. Tetapi karena serangan Dawa sangat cepat, sihir pelindung
itu bisa ditembus dan pedang pun menusuk dadanya.
“Ba...bagaimana bisa?” kata penyihir itu sambil
memegang pedang yang menusuk dadanya.
“Pedangku adalah salah satu pedang terkuat di dunia.”
Dawa kemudian mencabut pedangnya dan penyihir itu pun
mati menjadi abu hingga tak tersisa.
Putri Karina kemudian mendekat dan memuji Dawa. Tetapi
Dawa tidak suka di puji. Dia lalu menyuruh Putri Karina meletakkan pena ajaib
itu di atas batu hitam. Tetapi sebelum melakukannya. Dia ingin emulsi sesuatu
untuk terakhir kalinya. Dawa mengizinkan. Kemudian Putri Karina menulis dan
setelah selesai, di meletakkan pena ajaib itu di atas batu hitam itu.
“Sekarang Anda nyanyikan sebuah lagu yang biasa
dinyanyikan dan sudah jadi turun-temurun diwariskan dari keluarga Anda.”
Putri Karina memejamkan mata lalu dia mulai menyanyi.
Jauh
di atas bukit hijau
Terlihat
buka yang mekar
Wanginya
menyebar
Membuat
hati ini jadi senang
Pena ajaib itu bercahaya. Lalu Dawa menghancurkannya dengan
pedangnya. Pena itu hancur berkeping-keping. Kemudian, kepingan pena itu terbang
ke atas dan hilang hanya menyisakan ujung pena yang terbuat dari besi. Dawa
mengambil ujung pena itu dan memasukkannya ke dalam kantungnya yang terbuat
dari kain.
Mereka kemudian kembali ke istana yang memakan waktu
dua hari perjalanan. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh Raja dan Ratu.
“Kamu baik-baik saja anakku?” tanya Ratu Shandiana
sambil memeluk anak semata wayangnya.
“Aku baik-baik saja ibu.”
Dawa berlutut dan berkata “Tugas sudah selesai Paduka.
Maaf kalau kami kembali dalam keadaan seperti ini.”
“Tak masalah. Istirahatlah dulu. Besok aku akan
memberimu imbalan koin emas dan kuda terbaik yang pernah dimiliki oleh kerajaan
kecil ini.” kata Raja Rushmani.
“Itu tak perlu Paduka.”
“Jangan menolak pemberian.”
Esok hari Dawa undur pamit. Sebelum pergi, dia
menerima Hadrian dari Putri Karina.
“Ini terima lah.” Kata Putri Karina sambil memberi
sebuah bingkisan.
“Apa ini?” tanya Dawa.
“Itu baju hayat. Kamu pasti kedinginan ketika
malam-malam saat perjalanan pulang.”
“Terima kasih Tuan Putri.”
Dawa lalu naik ke pelana kuda. Dia pamit lalu memacu
kudanya untuk kembali ke Ibukota Kerajaan.
Putri Karina & Pena Ajaib: Bagian II (Tamat)