Friday, December 29, 2017

Putri Karina & Pena Ajaib: Bagian II (Tamat)



Esok hari, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Dwimana. Seorang pria berbadan sedang dengan rambut hitam lurus, berpakaian zirah perang, dan pedang yang terselip di pinggangnya datang menghadap Raja. Dia berlutut di hadapan Raja.
“Paduka Raja. Perkenalkan nama saya Dawa dari desa na jauh di selatan. Maksud kedatangan saya kemari memenuhi perintah Sang Maha Ratu dari Ibukota Kerajaan Timur untuk membawa Tuan Putri Kirana ke timur.” Dawa membuka gulungan surat dari kantung yang terbuat dari kain. “Silakan Anda baca.”

Dawa mendekat lalu mundur dan kembali berlutut.
Setelah membaca gulungan surat itu, Raja Rushmani mengangguk.
“Karena ini perintah dari Sang Maha Ratu, saya harus memenuhinya. Ini pasti sangat penting yang menyangkut seluruh Benua Kerajaan Timur. Silakan kau bawa dia.”
Dawa menundukkan kepala “Terima kasih Paduka. Siang nanti, kita akan berangkat. Saya akan melindungi Tuan Putri Kirana. Bila perlu nyawa saja yang jadi korban.”
Putri Kirana bersiap. Semalam dia sudah mendapat penjelasan panjang lebar dari Dwimana tentang asal-usul pena itu. Dia mengerti kalau dia adalah satu-satunya yang bisa menghancurkan pena itu. Karena dia keturunan langsung dari pembuat pena itu. Yaitu leluhur dari kakek buyutnya.
Siang hari semua perlengkapan sudah dibawa. Dawa menjamin kalau Tuan Putri tidak akan kesusahan. Mereka memulai perjalanan menuju timur dengan satu kuda. Tuan Putri di belakang dengan memegang erat-erat Dawa karena kuda berlari begitu kencangnya.
Malam hari mereka beristirahat di sebuah gua. Karena Tuan Putri kini tahu kenapa Dawa memacu kudanya sangat kencang. Karena mereka sedang diburu oleh seorang penyihir hebat.
“Berapa lama lagi perjalanan kita?” Tanya Putri Karina.
“Setengah lagi. Pagi lusa kita akan sampai.” Jawab Dawa.
“Berapa lama kamu jadi prajurit Ibukota Kerajaan?”
“Baru delapan tahun, Tuan Putri.”
“Berapa umurmu?”
“Saat ini dua puluh tiga tahun.”
Putri Karina mengangguk-ngangguk. Lalu, mereka mendengar suara gemuruh. Dawa menyuruh Putri Karina menulis dengan pena ajaib itu.
“Apa yang harus aku tulis?”
“Tolong Anda tulis penyihir itu diganggu oleh serigala hutan.”
“Bagaimana aku tahu di ada di mana?”
“Dia tidak jauh dari sini. Pokoknya anda tulis kalau seorang penyihir berbadan tinggi dengan jubah abu-abu sedang diserang oleh ribuan serigala yang buas. Anda sudah diberi tahu caranya oleh Wanita bernama Dwimana, kan?”
“Eh, bagaimana kalian kenal?”
“Tentu saja kami kenal. Dia itu mata-mata dari Ibukota Kerajaan.”
“Baiklah.”
Putri Karina lalu menulis lengkap kejadian seorang penyihir berbadan tinggi dengan jubah abu-abu diserang oleh ribuan serigala. Selesai menulis, terdengar suara gemuruh dan lolongan serigala yang begitu banyak. Dari dalam gua mereka bisa melihat ribuan serigala berlarian. Dan kemudian, suara angin bercampur gemuruh petir terdengar. Putri Karina merasa ketakutan.
“Jangan akur Tua Putri. Saya akan melindungimu.”
“Apa penyihir sehebat itu?”
“Itu untuk penyihir yang hebat. Seperti penyihir yang sedang mengejar kita. Dia bisa mengeluarkan api, angin, dan sambaran petir dari tangannya. Dia juga bisa memindahkan batu besar dengan sihirnya.”
Suara gemuruh tidak terdengar lagi. Sepertinya penyihir itu mundur sementara.
“Kenapa tidak aku tulis kalau penyihir itu mati dimakan serigala?”
“Pena itu bukan untuk membunuh. Jika Anda melakukannya, Anda tidak akan bisa lepas dari pena itu. Anda akan jadi pribadi yang jahat karena Anda merasa bisa mengendalikan semuanya. Untuk itulah pena itu harus dihancurkan. Karena jika jatuh di tangan yang salah, bisa jadi bencana yang sangat besar.”
Pagi hari mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan memacu kuda lari sekencang mungkin. Saat siang hari, ternyata penyihir itu berhasil mengejar. Dia terbang mengejar di belakang. Putri Karina panik ketika melihat pria yang sudah tua dengan janggut putih panjang, mata yang bercahaya dan jubah abu-abu melesat mengejar. Dawa mencoba menenangkan Putri Karina. Kemudian dia bersiul dan tak berapa lama ada sepuluh lingkaran hitam muncul di atas dan keluarlah sepuluh penyihir pria yang masih sekitar empat puluh tahun. Mereka bersepuluh kemudian melawan penyihir tua itu.
“Mereka juga penyihir?” tanya Putri Karina.
“Mereka prajurit dari Ibukota Kerajaan.”
“Lalu kamu ini prajurit apa?”
“Aku ahli pedang.”
Kuda terus berlari cepat. Ternyata untuk sampai ke tujuan lebih cepat dari perkiraan Dawa. Saat sampai, mereka langsung turun dari kuda dan berlari menuju batu ihram yang ada di tengah kedua bukit itu. Namun hampir beberapa langkah mereka sampai, tiba-tiba penyihir tua itu muncul di hadapan mereka seperti kilat. Dawa menghunus pedangnya dan bersiap untuk bertarung.
“Hahahaha” tawa penyihir tua itu. “Prajurit rendahan sepertimu bisa apa?”
“Kenapa semua temanku?” tanya Dawa sambil tangannya memegang pedang.
“Oh, mereka. Aku rasa mereka sudah ke alam baka.”
Dawa berlari dan melayangkan tebas pedang. Tapi penyihir itu bisa menahannya hanya dengan tangan tanpa terluka sedikitpun. Lalu penyihir itu memukul perut Dawa dan membuatnya terpental hingga di depan Putri Karina.
“Kamu tidak apa-apa?” Putri Karina membantu Dawa berdiri.
“Tuan Putri, sepertinya ini akan sulit. Sementara aku melawannya, cobalah Anda tulis dengan pena ajaib itu. Tulis apa saja agar aku tidak kewalahan.”
“baiklah.”
Dawa bangkit. Dia mengeluarkan aura putihnya dan menyerang penyihir itu. Sementara Dawa menyerang, Putri Karina menulis kalau penyihir itu diserang oleh seekor harimau. Tapi harimau itu mati hanya dengan satu sambaran petir yang keluar dari tangannya. Lalu dia menulis lagi, lagi dan lagi. Tapi gagal. Dawa memintanya untuk berhenti. Dia tahu kalau hal ini tidak berguna. Dia meminta Putri Karina untuk bersembunyi di balik batu. Putri Karina lalu berlari dan bersembunyi di balik batu.
“Oh, jadi Sang Tuan Putri yang memegang pena ajaib itu?” kaya penyihir tua itu.
Dawa hanya diam.
“Biarlah. Aku mau bersenang-senang dulu. Karena alu langsung membunuh kalian tidaklah seru.”
Dawa menyiapkan kuda-kudanya. Aura kembali keluar dari tubuhnya. Kali ini auranya berwarna merah. Lalu dia kembali menyerang penyihir itu dengan pedangnya. Penyihir itu menghindar. Dalam hatinya, dia tak menyangka kalau Dawa mempunyai kekuatan sebesar ini.
Dawa menebas dan penyihir itu menghindar. Tapi dia terus menebas hingga tangan kanan penyihir itu sedikit terluka.
“Sepertinya aku sudah meremehkanmu. Baiklah. Akan aku keluarkan semua kemampuanku.”
Penyihir itu mengangkat kedua tangannya. Dawa juga bersiap. Kini mereka bertarung dengan kecepatan yang luar biasa. Bahkan Putri Karina yang mengintip di belakang batu hampir-hampir tak bisa melihat gerakan mereka. Bahkan suara pedang yang beradu dengan kekuatan sihir sangat jelas sekali terdengar. Setelah sepuluh menit, mereka berhenti karena kelelahan.
Dawa kembali menyiapkan kuda-kudanya. Dia akan melancarkan serangan mematikan sekaligus serangan terakhir. Lalu, dia melesat dengan cepat sambil menebaskan pedangnya. Penyihir itu menahannya dengan sihir pelindung terkuatnya. Tetapi karena serangan Dawa sangat cepat, sihir pelindung itu bisa ditembus dan pedang pun menusuk dadanya.
“Ba...bagaimana bisa?” kata penyihir itu sambil memegang pedang yang menusuk dadanya.
“Pedangku adalah salah satu pedang terkuat di dunia.”
Dawa kemudian mencabut pedangnya dan penyihir itu pun mati menjadi abu hingga tak tersisa.
Putri Karina kemudian mendekat dan memuji Dawa. Tetapi Dawa tidak suka di puji. Dia lalu menyuruh Putri Karina meletakkan pena ajaib itu di atas batu hitam. Tetapi sebelum melakukannya. Dia ingin emulsi sesuatu untuk terakhir kalinya. Dawa mengizinkan. Kemudian Putri Karina menulis dan setelah selesai, di meletakkan pena ajaib itu di atas batu hitam itu.
“Sekarang Anda nyanyikan sebuah lagu yang biasa dinyanyikan dan sudah jadi turun-temurun diwariskan dari keluarga Anda.”
Putri Karina memejamkan mata lalu dia mulai menyanyi.
Jauh di atas bukit hijau
Terlihat buka yang mekar
Wanginya menyebar
Membuat hati ini jadi senang

Pena ajaib itu bercahaya. Lalu Dawa menghancurkannya dengan pedangnya. Pena itu hancur berkeping-keping. Kemudian, kepingan pena itu terbang ke atas dan hilang hanya menyisakan ujung pena yang terbuat dari besi. Dawa mengambil ujung pena itu dan memasukkannya ke dalam kantungnya yang terbuat dari kain.
Mereka kemudian kembali ke istana yang memakan waktu dua hari perjalanan. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh Raja dan Ratu.
“Kamu baik-baik saja anakku?” tanya Ratu Shandiana sambil memeluk anak semata wayangnya.
“Aku baik-baik saja ibu.”
Dawa berlutut dan berkata “Tugas sudah selesai Paduka. Maaf kalau kami kembali dalam keadaan seperti ini.”
“Tak masalah. Istirahatlah dulu. Besok aku akan memberimu imbalan koin emas dan kuda terbaik yang pernah dimiliki oleh kerajaan kecil ini.” kata Raja Rushmani.
“Itu tak perlu Paduka.”
“Jangan menolak pemberian.”
Esok hari Dawa undur pamit. Sebelum pergi, dia menerima Hadrian dari Putri Karina.
“Ini terima lah.” Kata Putri Karina sambil memberi sebuah bingkisan.
“Apa ini?” tanya Dawa.
“Itu baju hayat. Kamu pasti kedinginan ketika malam-malam saat perjalanan pulang.”
“Terima kasih Tuan Putri.”
Dawa lalu naik ke pelana kuda. Dia pamit lalu memacu kudanya untuk kembali ke Ibukota Kerajaan.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan sopan. Gunakan bahasa yang baik dan komentar tidak mengandung sara serta kata-kata yang kasar dan menyinggung pihak tertentu. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Terima kasih.