Saturday, July 30, 2016

Bermalam di RS Dustira, Cimahi: Bagian I



            Kisah ini terjadi sekitar bulan oktober tahun 2014 lalu (tahunnya aku ingat, cuman bulannya aku lupa. Pokoknya sekitar bulan segitu lah). Saat itu aku sedang menikmati pagi hari sambil menonton televisi. Pukul delapan lebih tiga puluh menit aku nyalakan televisi. Aku hanya memijit-mijit tombol remot untuk mencari saluran televisi yang asyik. Setelah dapat, aku hanya duduk manis sambil menyaksikan acara di TV. Saat jeda iklan, aku lihat smartphone dan aku nyalakan sambungan data selulart. Ternyata temanku mengirim pesan lewat BBM.

            "Buruan ganti baju. Anter gue ke Cimahi." Tulisnya dalam BBM.
            Sontak aku kaget dengan ajakannya yang sangat tiba-tiba. Mana ibuku sedang mengantar adikku sekolah lagi. Tapi tak apa. Untung arahnya sama jadi bisa berenti dulu buat pamitan.
            "Cimahi Bandung?". Tanyaku membalas pesannya.
            "Iya. Buruan gue jemput sekarang."
            "Tapi gue gak ada helm."
            "Tenang, helm ada di gue."
            "Ok kalo gitu."
            Entah aku harus senang atau bagaimana, yang jelas, aku juga perlu hiburan. Sesekali boleh lah keluar rumah. Aku bergegas mematikan televisi dan ganti baju. Tak sampai speuluh menit, dia sudah datang ke rumahku dengan motor Tiger-nya. Namanya Dani. Tubuhnya tinggi gemuk. Tidak terlalu gemuk sih, tapi juga tidak kurus. Jika berdiri, kepalaku hanya sampai bahunya saja. Dia juga memakai kaca mata.
            "Ngapain kita ke Cimahi?" Tanyaku karena masih penasaran.
            "Mau jenguk pacar gue si Mutiara. Lu bawa carger hape sama jaket. Di sana dingin."
            "Oke."
            Aku kembali ke dalam dan mengambil jaket. Saat keluar, kakak laki-lakiku keluar mengambil handuk di teras rumahnya. Rumah kami memang berdempetan.
            "Mau kemana euy?" Tanyanya.
            "Ke Cimahi. Sore juga pulang." Jawab Dani.
            "Oke, yuk berangkat." Kataku.
            "Nih helmnya. Sekalian carger dan barang-barang lu taruh di dalam tas. Lu yang gendong tas."
            "Oke. Eh tapi ntar berenti dulu di madrasah deket masjid ya? Gue mau ijin dulu."
            "Beres."
            Kami langsung berangkat ke luar gang dan berbelok ke kanan. Setelah melewati jembatan kecil, aku suruh dia berhentiin motornya tepat di depan sekolah madrasah adikku. Sekolah madrasah ini kecil bersebelahan dengan Masjid di kampungku.
            Aku turun lalu menyeberang dan menghampiri ibuku.
            "Bu, aku ijin dulu mau nganter si Dani ke Cimahi." Kataku
            "Ya udah gak apa-apa. Uangnya bawa gak?" Tanya dia.
            "Ada kok. Ya udah aku pergi dulu."
            Aku kembali ke si Dani dan dia memacu mototrnya lagi menyusuri jalanan Jatireja, terus mengikuti jalan ibi hingga ke selatan dan sampai lah ke Cipunagara, pertigaan Kamarung, Pagaden dan melewati kota Subang. Oh ya, kampungku itu bernama Kampung Lamaran. Jika kalian ingin tahu di mana Kampung Lamaran, cukup masuk saja ke Google Maps dan ketikkan saja Jatireja dan cari Kampung Lamaran Sari. Kampungku tak terpencil amat kok karena jalan utamanya sudah masuk Google Street View. Namun sayang tidak masuk gang karena rumahku ada di dalam gang.
            Singkat cerita, setelah melewati kota Subang dan sampai di Jalan Cagak, pukul sebelas siang kami berhenti dulu di sebuah mini market untuk membeli minuman dingin. Kami berdua menikmati minuman dingin sambil duduk di teras depan minimarket. Dani lalu membuka tasnya dan terlihatlah kantung keresek.
            "Dan, bawa apaan lu?" Tanyaku penasaran.
            "Lontong sama goreng bakwan bikinan nenek guet. Doi katanya pengen ini." Jawabnya.
            "Ohh". Aku hanya manggut-manggut.
            Kami lalu lanjutkan perjalanan melewati pertigaan bunderan Jalan Cagak dan lurus terus menuju Lembang. Kami pun sampai di pertigaan antara Jalan Grand Hotel dan Jalan raya Lembang. Kami belok ke kiri melewati Grand Hotel Lembang yang di depannya terdapat lapangan tenis. Saat sampai di Pos Lantas Beatrix, kami berbelok ke kanan dan menyusuri Jalan Kolonel Matsuri. Di sini lah jalan yang paling membuatku terkesan karena jalanan di sini berkelok-kelok yang lumayan tajam. Untung saja pemandangannya indah jadi cukup menyenangkan meleati jalanan ini. Akhir tahun 2012 lalu juga aku pernah melewati jalan ini. Dulu aku dan sekeluarga pergi liburan ke tempat rekreasi Kampung Gajah di mana harga gorengan di dalam tempat rekreasi dua ribu lima ratus sebiji. Gila.
            Kita lanjut. Setelah melewati Jalan Kolonel Matsuri yang berkelok-kelok, kami sampai di pertigaan tepat di depan Universitas Advent Indonesia. Pertigaan antara Jalan Matsuri dan Jalan Cihanjuang, sangat persis di depan pintu masuk Universitas Advent Indonesia yang dominan dicat warna biru. Jika pintu masuk universitas adalah jalan, jalan ini akan jadi perempatan.
            Kami berbelok ke kiri menyusuri Jalan Cihanjuang. Pemandangan di jalan ini masih indah dan tidak berkelok-kelok seperti di Jalan Matsuri. Meskipun jalan di sini dominan lurus, tapi jalanan di sini di dominasi oleh turunan. Ya, turunan dan sesekali tanjakan. Agak seram juga saat sampai di sisi kanan jalan sebuah tebing curam yang di bawahnya terhampar persawahan dan rumah warga. Di salah satu turunan, si Dani mengerem motornya dan bilang padaku bahwa rem belakangnya Loss. Maksud Loss itu, rem motornya itu blong karena sering dipakai untuk mengerem. Tentu saja sering dipakai karena jalanan di sini turunan terus. Setelah beberapa saat, dia bilang rem sudah berfungsi dengan normal dan kami lanjutkan perjalanan hingga sampai lah di kota Cimahi dengan banyaknya kendaraan tak kalah dengan kota Bandung.
            Entah aku lupa jalan mana lagi yang kita lewati. Setelah kurang lebih pukul setengah satu siang, kami tiba di depan Rumah Sakit Dustira Cimahi. Jalan di depan rumah sakit ini hanya satu jalur. Dan di depan rumah sakit ini berderet toko-toko seperti distro dan makanan. Rumah Sakit Dustira berarsitektur belanda ber-cat warna hijau dan putih dengan jendela kayu khas zaman dulu. Kami sempat kebingungan mencari tepmat parkir. Kami pun memutuskan untuk mampir dulu sebentar di minimarket di ujung jalan. Kami masuk ke dalam minimarket dan mulai berdiskusi akan membeli apa untuk diberikan kepada orang sakit.
            "Beli apa kita?" Tanya Dani sambil menenteng keranjang belanja.
            "Beli kue aja. Orang sakit biasanya kan suka makan kue." Jawabku asal-asalan.
            Dani lalu membeli kue-kue dan satu buah kotak susu berukuran besar. Kami lalu ke kasir untuk membayar. Kami keluar dan aku masukkan belanjaan ke dalam tas. Kami duduk sebentar untuk minum. Kemudian ada seorang lelaku tua yang sedang mundar mandir. Lalu Dani menanyakan soal tempat parkir kepada pria itu.
            "Maaf pak kalau tempat parkir rumah sakit ini di mana ya?" Tanya Dani.
            "Oh, ke kisini dek. Di sebelah mini market ini. Nanti keliatan kok pintu masuknya" Jawabnya.
            Aku langsung bengong. Jadi tempat parkir yang kita cari ternyada cuman selangkah? Siapapun yang pertama kali datang ke sini pasti bingung. Karena pintu masuk parkiran dan mini market sangat berdempetan ditambah pedagang kaki lima yang mangkal jadi hampir menutupi pintu masuk parkir rumah sakit sehingga sangat sulit untuk dilihat.
            Kami lalu masuk pintu masuk parkir yang mesin tiketnya sudah rusak. Dani membawa motornya ke pojokan di bawah pohon mangga di mana banyak motor yang parkir di sana. Kami lalu memutuskan untuk sholat dulu di mushola kecil yang berada di lorong WC (Mungkin tempatnya di belakang mini market). Kami masuk ke lorong dan berbelok ke lorong sebelah kiri dan mushola ada di ujung lorong. Musholla ini benar-benar mungil. Mungkin ukurannya sekitar dua kali tiga meter. Lantainya di tutupi oleh karpen berwarna hijau. Kami ambil wudhu dulu di sebelah kiri lorong sebelum mushola. Saat pertama kali tanganku menyentuh air yang keluar dari keran, seketika tanganku gemetar sedikit karena air di sini sangat dingin.
            Selesai shalat, kami berdua menuju gerbang masuk melewati parkiran mobil. Sesampainya di sana, pintu gerbangnya ternyata sudah ditutup. Dan di papan pengumuman tertulis "Jam besuk tutup jam 1 sampai jam 5 sore'. Apa kami harus menunggu sampai jam 5 sore?.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan sopan. Gunakan bahasa yang baik dan komentar tidak mengandung sara serta kata-kata yang kasar dan menyinggung pihak tertentu. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Terima kasih.