Kisah ini terjadi sekitar bulan
oktober tahun 2014 lalu (tahunnya aku ingat, cuman bulannya aku lupa. Pokoknya
sekitar bulan segitu lah). Saat itu aku sedang menikmati pagi hari sambil
menonton televisi. Pukul delapan lebih tiga puluh menit aku nyalakan televisi.
Aku hanya memijit-mijit tombol remot untuk mencari saluran televisi yang asyik.
Setelah dapat, aku hanya duduk manis sambil menyaksikan acara di TV. Saat jeda
iklan, aku lihat smartphone dan aku nyalakan sambungan data selulart. Ternyata
temanku mengirim pesan lewat BBM.
"Buruan ganti baju.
Anter gue ke Cimahi." Tulisnya dalam BBM.
Sontak aku kaget dengan
ajakannya yang sangat tiba-tiba. Mana ibuku sedang mengantar adikku sekolah
lagi. Tapi tak apa. Untung arahnya sama jadi bisa berenti dulu buat pamitan.
"Cimahi
Bandung?". Tanyaku membalas pesannya.
"Iya. Buruan gue
jemput sekarang."
"Tapi gue gak ada
helm."
"Tenang, helm ada di
gue."
"Ok kalo gitu."
Entah aku harus senang
atau bagaimana, yang jelas, aku juga perlu hiburan. Sesekali boleh lah keluar
rumah. Aku bergegas mematikan televisi dan ganti baju. Tak sampai speuluh
menit, dia sudah datang ke rumahku dengan motor Tiger-nya. Namanya Dani.
Tubuhnya tinggi gemuk. Tidak terlalu gemuk sih, tapi juga tidak kurus. Jika
berdiri, kepalaku hanya sampai bahunya saja. Dia juga memakai kaca mata.
"Ngapain kita ke
Cimahi?" Tanyaku karena masih penasaran.
"Mau jenguk pacar gue
si Mutiara. Lu bawa carger hape sama jaket. Di sana dingin."
"Oke."
Aku kembali ke dalam dan
mengambil jaket. Saat keluar, kakak laki-lakiku keluar mengambil handuk di
teras rumahnya. Rumah kami memang berdempetan.
"Mau kemana
euy?" Tanyanya.
"Ke Cimahi. Sore juga
pulang." Jawab Dani.
"Oke, yuk
berangkat." Kataku.
"Nih helmnya. Sekalian
carger dan barang-barang lu taruh di dalam tas. Lu yang gendong tas."
"Oke. Eh tapi ntar
berenti dulu di madrasah deket masjid ya? Gue mau ijin dulu."
"Beres."
Kami langsung berangkat ke
luar gang dan berbelok ke kanan. Setelah melewati jembatan kecil, aku suruh dia
berhentiin motornya tepat di depan sekolah madrasah adikku. Sekolah madrasah
ini kecil bersebelahan dengan Masjid di kampungku.
Aku turun lalu menyeberang
dan menghampiri ibuku.
"Bu, aku ijin dulu
mau nganter si Dani ke Cimahi." Kataku
"Ya udah gak apa-apa.
Uangnya bawa gak?" Tanya dia.
"Ada kok. Ya udah aku
pergi dulu."
Aku kembali ke si Dani dan
dia memacu mototrnya lagi menyusuri jalanan Jatireja, terus mengikuti jalan ibi
hingga ke selatan dan sampai lah ke Cipunagara, pertigaan Kamarung, Pagaden dan
melewati kota Subang. Oh ya, kampungku itu bernama Kampung Lamaran. Jika kalian
ingin tahu di mana Kampung Lamaran, cukup masuk saja ke Google Maps dan ketikkan
saja Jatireja dan cari Kampung Lamaran Sari. Kampungku tak terpencil amat kok
karena jalan utamanya sudah masuk Google Street View. Namun sayang tidak masuk
gang karena rumahku ada di dalam gang.
Singkat cerita, setelah
melewati kota Subang dan sampai di Jalan Cagak, pukul sebelas siang kami
berhenti dulu di sebuah mini market untuk membeli minuman dingin. Kami berdua
menikmati minuman dingin sambil duduk di teras depan minimarket. Dani lalu
membuka tasnya dan terlihatlah kantung keresek.
"Dan, bawa apaan
lu?" Tanyaku penasaran.
"Lontong sama goreng
bakwan bikinan nenek guet. Doi katanya pengen ini." Jawabnya.
"Ohh". Aku hanya
manggut-manggut.
Kami lalu lanjutkan
perjalanan melewati pertigaan bunderan Jalan Cagak dan lurus terus menuju
Lembang. Kami pun sampai di pertigaan antara Jalan Grand Hotel dan Jalan raya
Lembang. Kami belok ke kiri melewati Grand Hotel Lembang yang di depannya
terdapat lapangan tenis. Saat sampai di Pos Lantas Beatrix, kami berbelok ke
kanan dan menyusuri Jalan Kolonel Matsuri. Di sini lah jalan yang paling
membuatku terkesan karena jalanan di sini berkelok-kelok yang lumayan tajam.
Untung saja pemandangannya indah jadi cukup menyenangkan meleati jalanan ini.
Akhir tahun 2012 lalu juga aku pernah melewati jalan ini. Dulu aku dan
sekeluarga pergi liburan ke tempat rekreasi Kampung Gajah di mana harga
gorengan di dalam tempat rekreasi dua ribu lima ratus sebiji. Gila.
Kita lanjut. Setelah
melewati Jalan Kolonel Matsuri yang berkelok-kelok, kami sampai di pertigaan
tepat di depan Universitas Advent Indonesia. Pertigaan antara Jalan Matsuri dan
Jalan Cihanjuang, sangat persis di depan pintu masuk Universitas Advent
Indonesia yang dominan dicat warna biru. Jika pintu masuk universitas adalah
jalan, jalan ini akan jadi perempatan.
Kami berbelok ke kiri
menyusuri Jalan Cihanjuang. Pemandangan di jalan ini masih indah dan tidak
berkelok-kelok seperti di Jalan Matsuri. Meskipun jalan di sini dominan lurus,
tapi jalanan di sini di dominasi oleh turunan. Ya, turunan dan sesekali
tanjakan. Agak seram juga saat sampai di sisi kanan jalan sebuah tebing curam
yang di bawahnya terhampar persawahan dan rumah warga. Di salah satu turunan,
si Dani mengerem motornya dan bilang padaku bahwa rem belakangnya Loss.
Maksud Loss itu, rem motornya itu blong karena sering dipakai untuk
mengerem. Tentu saja sering dipakai karena jalanan di sini turunan terus.
Setelah beberapa saat, dia bilang rem sudah berfungsi dengan normal dan kami
lanjutkan perjalanan hingga sampai lah di kota Cimahi dengan banyaknya
kendaraan tak kalah dengan kota Bandung.
Entah aku lupa jalan mana
lagi yang kita lewati. Setelah kurang lebih pukul setengah satu siang, kami
tiba di depan Rumah Sakit Dustira Cimahi. Jalan di depan rumah sakit ini hanya
satu jalur. Dan di depan rumah sakit ini berderet toko-toko seperti distro dan
makanan. Rumah Sakit Dustira berarsitektur belanda ber-cat warna hijau dan
putih dengan jendela kayu khas zaman dulu. Kami sempat kebingungan mencari
tepmat parkir. Kami pun memutuskan untuk mampir dulu sebentar di minimarket di
ujung jalan. Kami masuk ke dalam minimarket dan mulai berdiskusi akan membeli
apa untuk diberikan kepada orang sakit.
"Beli apa kita?"
Tanya Dani sambil menenteng keranjang belanja.
"Beli kue aja. Orang
sakit biasanya kan suka makan kue." Jawabku asal-asalan.
Dani lalu membeli kue-kue
dan satu buah kotak susu berukuran besar. Kami lalu ke kasir untuk membayar.
Kami keluar dan aku masukkan belanjaan ke dalam tas. Kami duduk sebentar untuk
minum. Kemudian ada seorang lelaku tua yang sedang mundar mandir. Lalu Dani
menanyakan soal tempat parkir kepada pria itu.
"Maaf pak kalau
tempat parkir rumah sakit ini di mana ya?" Tanya Dani.
"Oh, ke kisini dek.
Di sebelah mini market ini. Nanti keliatan kok pintu masuknya" Jawabnya.
Aku langsung bengong. Jadi
tempat parkir yang kita cari ternyada cuman selangkah? Siapapun yang pertama
kali datang ke sini pasti bingung. Karena pintu masuk parkiran dan mini market
sangat berdempetan ditambah pedagang kaki lima yang mangkal jadi hampir
menutupi pintu masuk parkir rumah sakit sehingga sangat sulit untuk dilihat.
Kami lalu masuk pintu
masuk parkir yang mesin tiketnya sudah rusak. Dani membawa motornya ke pojokan
di bawah pohon mangga di mana banyak motor yang parkir di sana. Kami lalu
memutuskan untuk sholat dulu di mushola kecil yang berada di lorong WC (Mungkin
tempatnya di belakang mini market). Kami masuk ke lorong dan berbelok ke lorong
sebelah kiri dan mushola ada di ujung lorong. Musholla ini benar-benar mungil.
Mungkin ukurannya sekitar dua kali tiga meter. Lantainya di tutupi oleh karpen
berwarna hijau. Kami ambil wudhu dulu di sebelah kiri lorong sebelum mushola.
Saat pertama kali tanganku menyentuh air yang keluar dari keran, seketika
tanganku gemetar sedikit karena air di sini sangat dingin.
Selesai shalat, kami
berdua menuju gerbang masuk melewati parkiran mobil. Sesampainya di sana, pintu
gerbangnya ternyata sudah ditutup. Dan di papan pengumuman tertulis "Jam
besuk tutup jam 1 sampai jam 5 sore'. Apa kami harus menunggu sampai jam 5
sore?.
Bermalam di RS Dustira, Cimahi: Bagian I