Memangnya ada yang seperti itu padamu, Hasan? Itu tidak
akan pernah ada. Lihat saja dirimu. Begitu menyedihkan. Sangat menyedihkan.
Selalu saja sendirian. Tidak ada yang bersamamu. Tidak ada yang sudi menyapamu.
Sadarlah diri segera sebelum terlambat. Kau itu bagaikan buih. Kau itu hanya
bayang-bayang. Kau itu hanya pemberhentian sementara. Kau tidak akan pernah
mendapatkan yang seperti itu. Kau selalu mendapatkan kabar yang buruk. Selalu
begitu. Dan mungkin juga akan terus begitu. Coba kau ingat-ingat lagi. Terakhir
kali kau tersenyum bahagia? Ada? Memang ada. Tapi semuanya itu sebentar sekali.
Baru saja tersenyum bahagia dengan suasana hati yang berbunga-bunga, dalam
sekejap kau sudah kembali murung. Kau memang menyedihkan. Kebahagiaan selalu
kau dapat dengan sebentar.
Sudah aku bilang dia tidak akan memperhatikanmu, Hasan.
Kau ini siapa? Dilirik saja tidak akan ada yang sudi. Tidak akan ada yang memperhatikanmu. Kau akan selalu diabaikan. Percayalah. Sudah banyak
yang mengabaikanmu. Itu tandanya kau tidak pernah diharapkan. Kau tidak pernah
dirindukan? Ada yang merindukanmu? Ada, tapi sekarang tidak lagi. Kau
ditinggalkan.
Catatan Sang Pecundang