Thursday, April 16, 2015

Kisah Cinta di Stasiun: Bagian I

            Awal aku datang ke kota ini adalah saat aku pertama kali ditugaskan kerja di kota ini. Jarak dari kontrakan dan kantor baruku lumayan jauh. Sehingga aku harus naik kereta. Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke kantorku dari stasiun. Di daerah tempat kantorku tidak ada kontrakan yang murah. Jadi aku terpaksa mencari kontrakan yang lumayan jauh. Kontrakan yang aku sewa sederhana dan aku memilih yang murah harganya. Mengingat biaya hidup di kota ini lumayan tinggi daripada kotaku yang dulu. Setiap hari aku bangun pukul empat. Paling siang aku bangun pukul setengah lima. Setelah selesai Sholat Subuh, aku mandi lalau sarapan. Pukul enam lebih aku bersiap-siap berangkat kerja. Kantorku masuk pukul delapan. Jarak dari kontrakan ke stasiun sekitar lima kilometer. Hanya naik angkot satu kali jurusan ke stasiun.

Tiba di pintu gerbang stasiun, banyak orang yang lalulalang. Ternyata cukup sibuk juga stasiun ini melayani penumpang. Saat aku menuju loket tiket, aku melihat seorang pria kira-kira dia lebih tua dariku sedang duduk di tempat duduk umum. Dia terus melihat-lihat ke arah datang dan perginya orang-orang di pintu gerbang ataupun saat penumpang turun dari kereta. Mungkin hanya orang biasa saja. Setelah aku membeli tiket, aku langsung menunggu kereta yang datang lima menit lagi. Setelah kereta datang, bergegas aku masuk. Sampai di stasiun tujuan, aku hanya naik angkot lagi satu kali lalu turun di depan pintu gerbang Kawasan Industri. Cukup berjalan sepuluh menit maka aku sampai di kantor baruku. Hari pertama aku masuk sama sibuknya seperti kantorku yang lama. Berbagai kerjaan yang menunpuk aku coba selesaikan dengan teliti. Kantorku hanya istirahat satu jam yaitu saat istirahat Sholat Dzuhur. Setelah itu masuk lagi dan pulang pukul lima.
Aku naik angkot lagi jurusan stasiun lalu aku naik kereta dan tiba di stasiun dekat kontrakanku. Saat aku keluar, pria yang tadi pagi sudah tidak ada. Mungkin dia sudah pulang kerumahnya. Aku juga harus bergegas pulang karena aku sudah lelah seharian bekerja. Sampai di kontrakanku Adzan maghrib sudah berkumandang. Sebenarnya aku lewat depan mushola. Tapi karena aku sangat capek aku putuskan untuk pulang dan Sholat di rumah. Sampai di kontrakan aku ambil Wudhu dan Sholat Maghrib. Setelah itu aku masak siapkan makan. Perutku sudah keroncongan. Habis makan Adzan Isya berkumandang. Aku kembali Sholat di kontrakan. Habis Sholat aku langsung tidur.
Pagi harinya saat aku berada di stasiun, orang itu ada lagi. Dan dia tidak kelihatan lagi saat sore waktu aku pulang kerja. Kejadian ini berlangsung selama satu tahun dan aku tidak terlalu memikirkannya. Aku juga sempat lupa tentang pria itu karena memang aku sedang sibuk-sibuknya di kantor. Pekerjaan yang menumpuk membuatku lupa akan segala hal. Hingga suatu hari dia tak terlihat lagi. Aku menengok kesana kemari ternyata pria itu tidak ada. Lalu aku iseng bertanya kepada Mbak penjaga loket yang sudah aku kenal karena sudah satu tahun aku selalu membeli tiket darinya.
            “Oh kalau itu saya juga tidak tahu Mas Farid. Memangnya kenapa ya?”. Tanya dia keheranan dengan pertanyaanku. Wajahnya yang bulat dan rambutnya yang panjang sampai punggung terlihat sangat menarik.
            “Tidak apa-apa kok Mbak Ayu. Terima Kasih. Saya hanya heran saja”. Jawabku dengan cengengesan.
“Ini tiketnya”. Katanya sambil memberikan tiket.
“Ngomong-ngomong hari ini sepi ya?”. Aku berbasa-basi.
            “Inikan hari minggu Mas. Lagian kenapa Mas masuk kerja hari minggu? Tumben banget”.
            “Hari ini aku ada tugas dari bos nih. Tapi cuman setengah hari. Lha Mbak sendiri setiap hari kerja. Hehe”. Aku mulai bercanda.
            “Kerjaan aku ini kan memang gak kenal hari libur Mas. Kalau libur ya gantian sama temen. Shift istilahnya”.
            “Iya juga ya”. Aku hanya Manggut-manggut.           
            “Udah sana keretanya udah dateng tuh”.
            “Kalau begitu aku pergi dulu”.
       Aku berlari dan langsung masuk ke kereta. Sampai di kantor aku selesaikan tugasku hingga pukul tiga sore. Waktu di dalam kereta saat perjalanan pulang, aku kepikiran untuk mengajak Mbak Ayu jalan-jalan. Selama aku mengenalnya belum pernah aku mengobrol berbagai hal. Lagipula dialah orang yang sering aku temui. Saat kereta berhenti, aku menuju loket tempat Mbak Ayu. Setelah aku sampai, dia tidak ada. Dia sudah berganti shift dengan rekan laki-lakinya.
            “Mas, Mbak Ayu sudah pulang ya?”. Tanyaku kepada laki-laki itu.
            “Iya dia sudah pulang Mas”. Jawabnya dengan ramah.
            “Kalau boleh tahu rumahnya dimana ya?”.
            “Wah, kalau itu saya kurang tahu Mas. Dulu sih waktu pertama kerja disini kita satu kawasan tempat kost. Tapi kata teman-teman satu kostnya dia sudah pindah ga tau kemana”.
            “Boleh tahu alamat tempat kostnya yang dulu?. Saya mau nanya ke temannya”.
            “Boleh sih. Tapi itu juga percuma Mas. Mereka juga tidak tahu dimana. Kalau mau, saya kasih nomer HP-nya Mbak Ayu. Gimana?”.
            “Boleh Mas”. Jawabku dengan senyum.
            Tiba-tiba di belakangku ada seorang bapak-bapak yang mau membeli tiket.
            “Sudah beli tiketnya dek?”. Tanya bapak itu.
            “Sebentar Pak”. Jawabku.
“Mas”. Kata penjaga loket “Nih, Mas tulis saja nomor HP-nya Mas. Nanti saya SMS nomre HP-nya mbak ayu. Kayaknya mau banyak yang beli tiket nih”.
       Aku lalu segera menuliskan nomer HP-ku ke secarcik kertas yang sudah ia berikan. Lalu aku buru-buru pulang. Saat aku sedang di dalam angkot, aku melihat keluar jendela lalu aku melihat pria yang biasa di stasiun sedang berjalan. Mungkin dia sedang malas ke stasiun. Sesampainya aku dirumah, aku menunggu SMS dari laki-laki penjaga loket tadi. Hingga pukul sembilan malam aku selalu memperhatikan HP-ku. Belum ada SMS dari dia. Mungkin dia sedang sibuk. Aku sempat berpikir aku salah memberikan nomor HP-ku. Tapi pikiran itu aku buang jauh-jauh. Setelah satu jam HP-ku berbunyi. Rupanya SMS dari dia. Seketika hatiku sudah tidak gelisah lagi.
"Assalamu’alaikum. Maaf mas ini saya Andri penjaga loket tadi siang. Ini nomornya Mbak Ayu. 085329671XXX. Maaf lama soalnya dari sore saya sibuk”.
            Begitulah isi SMS-nya. Lalu aku balas dengan balasan beribu-ribu terima kasih. Saat aku mau mengirim Mbak Ayu SMS, tiba-tiba hatiku bergetar. Entah kenapa rasanya sulit sekali jari ini menekan tombol. Lalu putuskan aku mengirimnya SMS yang berisi salam. Lima menit dia membalas salamku. Hatiku seketika berbunga-bunga seperti baru saja dapat hadiah mewah. Lalu aku balas lagi.
"Ini Farid mbak”
            “Oh Farid. Dapat nomerku dari siapa?”
            “Dari rekan kerja Mbak. Andri”.
            “Oh. Ada apa ya?”.
            “Nggak ada apa-apa Mbak. Saya cuman mau traktir Mbak. Selama kita kenalkan belum pernah kita ngobrol-ngobrol. Kebetulan saya baru dapat bonus dari si bos. Besok Mbak libur tidak?”.
                 Tiga menit dia belum membalas pesanku. Aku jadi takut kalau dia marah atas siakapku yang mengajaknya secara tiba-tiba. Apa mungkin dia sudha punya kekasih sehingga dia sengaja mengabaikan ajakanku?. Entahlah aku tunggu saja.
            Sepuluh menit berlalu dan HP-ku berbunyi lagi.
 “Maaf Mas lama. Tadi saya habis beli makanan di depan jalan. Mas Farid sudah makan?”.
            Entah kenapa aku senyum-senyum malu membaca pesannya.
            “Saya sudah makan Mbak. Udah jam segini Mbak belum makan?”.
            “Iya nih. Aku baru bangun jam sembilan malam. Aku ketiduran”.
            “Ngomong-ngomong gimana jawabannya?”.
            “Jawaban apa Mas?”.
            “Soal ajakan aku tadi”.
            “Oh itu. Boleh aja Mas. Kebetulan besok aku libur sehari. Kebetulan juga besok saya tidak ada kegiatan”.
            Mungkin ini suatu kebetulan atau memang sebuah takdir. Entahlah.
            “Oke. Besok saya jemput :). Kalau boleh tahu alamat kostan Mbak dimana ya?”.
            “Kalau dari stasiun, Mas naik angkot warna merah nomer 54. Nanti bilang sama supirnya turun di Mall Centre. Nah di sebelah kanan Mall Centre ada gang. Namanya gang indah. Kostan saya dekat kok. Mas tanya aja sama orang disitu kostan putri”.
            “Oh iya. Besok saya kesana”.
            “Iya Mas. Saya tunggu :)”.
        Entah virus apa yang menyerangku malam ini. Dan rasanya malam ini begitu panjang. Ingin sekali esokn hari datang lebih cepat. Aku tidak bisa tidur sama sekali. Sepanjang malam hatiku tak keruan. Saat aku melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Rasanya seperti dua hari aku tiduran tak jelas. Untuk menghabiskan waktu aku membuka HP dan mengecak isi saldo ATM-ku menggunakan E-Banking untuk memastikan bonus dari bosku sudah masuk. Setelah aku cek, ternyata sudah masuk. Sebelum berangkat ke kostan Mbak Ayu, aku harus ambil uangnya di ATM.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan sopan. Gunakan bahasa yang baik dan komentar tidak mengandung sara serta kata-kata yang kasar dan menyinggung pihak tertentu. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Terima kasih.