Awal
aku datang ke kota ini adalah saat aku pertama kali ditugaskan kerja di kota
ini. Jarak dari kontrakan dan kantor baruku lumayan jauh. Sehingga aku harus
naik kereta. Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke kantorku
dari stasiun. Di daerah tempat kantorku tidak ada kontrakan yang murah. Jadi
aku terpaksa mencari kontrakan yang lumayan jauh. Kontrakan yang aku sewa
sederhana dan aku memilih yang murah harganya. Mengingat biaya hidup di kota
ini lumayan tinggi daripada kotaku yang dulu. Setiap hari aku bangun pukul
empat. Paling siang aku bangun pukul setengah lima. Setelah selesai Sholat
Subuh, aku mandi lalau sarapan. Pukul enam lebih aku bersiap-siap berangkat
kerja. Kantorku masuk pukul delapan. Jarak dari kontrakan ke stasiun sekitar
lima kilometer. Hanya naik angkot satu kali jurusan ke stasiun.
Tiba di
pintu gerbang stasiun, banyak orang yang lalulalang. Ternyata cukup sibuk juga
stasiun ini melayani penumpang. Saat aku menuju loket tiket, aku melihat
seorang pria kira-kira dia lebih tua dariku sedang duduk di tempat duduk umum.
Dia terus melihat-lihat ke arah datang dan perginya orang-orang di pintu
gerbang ataupun saat penumpang turun dari kereta. Mungkin hanya orang biasa
saja. Setelah aku membeli tiket, aku langsung menunggu kereta yang datang lima
menit lagi. Setelah kereta datang, bergegas aku masuk. Sampai di stasiun
tujuan, aku hanya naik angkot lagi satu kali lalu turun di depan pintu gerbang
Kawasan Industri. Cukup berjalan sepuluh menit maka aku sampai di kantor
baruku. Hari pertama aku masuk sama sibuknya seperti kantorku yang lama.
Berbagai kerjaan yang menunpuk aku coba selesaikan dengan teliti. Kantorku
hanya istirahat satu jam yaitu saat istirahat Sholat Dzuhur. Setelah itu masuk
lagi dan pulang pukul lima.
Aku naik angkot lagi jurusan stasiun
lalu aku naik kereta dan tiba di stasiun dekat kontrakanku. Saat aku keluar,
pria yang tadi pagi sudah tidak ada. Mungkin dia sudah pulang kerumahnya. Aku
juga harus bergegas pulang karena aku sudah lelah seharian bekerja. Sampai di
kontrakanku Adzan maghrib sudah berkumandang. Sebenarnya aku lewat depan
mushola. Tapi karena aku sangat capek aku putuskan untuk pulang dan Sholat di
rumah. Sampai di kontrakan aku ambil Wudhu dan Sholat Maghrib. Setelah itu aku
masak siapkan makan. Perutku sudah keroncongan. Habis makan Adzan Isya
berkumandang. Aku kembali Sholat di kontrakan. Habis Sholat aku langsung tidur.
Pagi harinya saat aku berada di
stasiun, orang itu ada lagi. Dan dia tidak kelihatan lagi saat sore waktu aku
pulang kerja. Kejadian ini berlangsung selama satu tahun dan aku tidak terlalu
memikirkannya. Aku juga sempat lupa tentang pria itu karena memang aku sedang
sibuk-sibuknya di kantor. Pekerjaan yang menumpuk membuatku lupa akan segala
hal. Hingga suatu hari dia tak terlihat lagi. Aku menengok kesana kemari
ternyata pria itu tidak ada. Lalu aku iseng bertanya kepada Mbak penjaga loket
yang sudah aku kenal karena sudah satu tahun aku selalu membeli tiket darinya.
“Oh
kalau itu saya juga tidak tahu Mas Farid. Memangnya kenapa ya?”. Tanya dia
keheranan dengan pertanyaanku. Wajahnya yang bulat dan rambutnya yang panjang
sampai punggung terlihat sangat menarik.
“Tidak
apa-apa kok Mbak Ayu. Terima Kasih. Saya hanya heran saja”. Jawabku dengan
cengengesan.
“Ini tiketnya”. Katanya sambil memberikan tiket.
“Ngomong-ngomong hari ini sepi ya?”. Aku berbasa-basi.
“Inikan
hari minggu Mas. Lagian kenapa Mas masuk kerja hari minggu? Tumben banget”.
“Hari
ini aku ada tugas dari bos nih. Tapi cuman setengah hari. Lha Mbak sendiri
setiap hari kerja. Hehe”. Aku mulai bercanda.
“Kerjaan
aku ini kan memang gak kenal hari libur Mas. Kalau libur ya gantian sama temen.
Shift istilahnya”.
“Iya
juga ya”. Aku hanya Manggut-manggut.
“Udah
sana keretanya udah dateng tuh”.
“Kalau
begitu aku pergi dulu”.
Aku berlari dan
langsung masuk ke kereta. Sampai di kantor aku selesaikan tugasku hingga pukul
tiga sore. Waktu di dalam kereta saat perjalanan pulang, aku kepikiran untuk
mengajak Mbak Ayu jalan-jalan. Selama aku mengenalnya belum pernah aku
mengobrol berbagai hal. Lagipula dialah orang yang sering aku temui. Saat
kereta berhenti, aku menuju loket tempat Mbak Ayu. Setelah aku sampai, dia
tidak ada. Dia sudah berganti shift dengan rekan laki-lakinya.
“Mas,
Mbak Ayu sudah pulang ya?”. Tanyaku kepada laki-laki itu.
“Iya
dia sudah pulang Mas”. Jawabnya dengan ramah.
“Kalau boleh tahu rumahnya dimana
ya?”.
“Wah,
kalau itu saya kurang tahu Mas. Dulu sih waktu pertama kerja disini kita satu
kawasan tempat kost. Tapi kata teman-teman satu kostnya dia sudah pindah ga tau
kemana”.
“Boleh
tahu alamat tempat kostnya yang dulu?. Saya mau nanya ke temannya”.
“Boleh
sih. Tapi itu juga percuma Mas. Mereka juga tidak tahu dimana. Kalau mau, saya
kasih nomer HP-nya Mbak Ayu. Gimana?”.
“Boleh Mas”. Jawabku dengan senyum.
Tiba-tiba di belakangku ada seorang bapak-bapak yang mau membeli tiket.
Tiba-tiba di belakangku ada seorang bapak-bapak yang mau membeli tiket.
“Sudah
beli tiketnya dek?”. Tanya bapak itu.
“Sebentar
Pak”. Jawabku.
“Mas”. Kata penjaga loket “Nih, Mas tulis saja nomor
HP-nya Mas. Nanti saya SMS nomre HP-nya mbak ayu. Kayaknya mau banyak yang beli
tiket nih”.
Aku lalu segera
menuliskan nomer HP-ku ke secarcik kertas yang sudah ia berikan. Lalu aku
buru-buru pulang. Saat aku sedang di dalam angkot, aku melihat keluar jendela
lalu aku melihat pria yang biasa di stasiun sedang berjalan. Mungkin dia sedang
malas ke stasiun. Sesampainya aku dirumah, aku menunggu SMS dari laki-laki
penjaga loket tadi. Hingga pukul sembilan malam aku selalu memperhatikan HP-ku.
Belum ada SMS dari dia. Mungkin dia sedang sibuk. Aku sempat berpikir aku salah
memberikan nomor HP-ku. Tapi pikiran itu aku buang jauh-jauh. Setelah satu jam
HP-ku berbunyi. Rupanya SMS dari dia. Seketika hatiku sudah tidak gelisah lagi.
"Assalamu’alaikum.
Maaf mas ini saya Andri penjaga loket tadi siang. Ini nomornya Mbak Ayu.
085329671XXX. Maaf lama soalnya dari sore saya sibuk”.
Begitulah
isi SMS-nya. Lalu aku balas dengan balasan beribu-ribu terima kasih. Saat aku
mau mengirim Mbak Ayu SMS, tiba-tiba hatiku bergetar. Entah kenapa rasanya
sulit sekali jari ini menekan tombol. Lalu putuskan aku mengirimnya SMS yang
berisi salam. Lima menit dia membalas salamku. Hatiku seketika berbunga-bunga
seperti baru saja dapat hadiah mewah. Lalu aku balas lagi.
"Ini
Farid mbak”
“Oh
Farid. Dapat nomerku dari siapa?”
“Dari rekan kerja Mbak. Andri”.
“Oh. Ada apa ya?”.
“Nggak
ada apa-apa Mbak. Saya cuman mau traktir Mbak. Selama kita kenalkan belum
pernah kita ngobrol-ngobrol. Kebetulan saya baru dapat bonus dari si bos. Besok
Mbak libur tidak?”.
Tiga menit
dia belum membalas pesanku. Aku jadi takut kalau dia marah atas siakapku yang
mengajaknya secara tiba-tiba. Apa mungkin dia sudha punya kekasih sehingga dia
sengaja mengabaikan ajakanku?. Entahlah aku tunggu saja.
Sepuluh menit berlalu dan HP-ku
berbunyi lagi.
“Maaf Mas lama. Tadi saya habis beli makanan di depan jalan. Mas Farid sudah makan?”.
“Maaf Mas lama. Tadi saya habis beli makanan di depan jalan. Mas Farid sudah makan?”.
Entah
kenapa aku senyum-senyum malu membaca pesannya.
“Saya sudah makan Mbak. Udah jam segini Mbak
belum makan?”.
“Iya nih. Aku baru bangun jam sembilan
malam. Aku ketiduran”.
“Ngomong-ngomong gimana jawabannya?”.
“Jawaban apa Mas?”.
“Soal ajakan aku tadi”.
“Oh itu. Boleh aja Mas. Kebetulan
besok aku libur sehari. Kebetulan juga besok saya tidak ada kegiatan”.
Mungkin
ini suatu kebetulan atau memang sebuah takdir. Entahlah.
“Oke.
Besok saya jemput :). Kalau
boleh tahu alamat kostan Mbak dimana ya?”.
“Kalau dari stasiun, Mas naik angkot
warna merah nomer 54. Nanti bilang sama supirnya turun di Mall Centre. Nah di
sebelah kanan Mall Centre ada gang. Namanya gang indah. Kostan saya dekat kok.
Mas tanya aja sama orang disitu kostan putri”.
“Oh iya. Besok saya kesana”.
“Iya Mas. Saya tunggu :)”.
Entah virus
apa yang menyerangku malam ini. Dan rasanya malam ini begitu panjang. Ingin
sekali esokn hari datang lebih cepat. Aku tidak bisa tidur sama sekali.
Sepanjang malam hatiku tak keruan. Saat aku melihat jam, waktu sudah
menunjukkan pukul dua dini hari. Rasanya seperti dua hari aku tiduran tak
jelas. Untuk menghabiskan waktu aku membuka HP dan mengecak isi saldo ATM-ku
menggunakan E-Banking untuk memastikan bonus dari bosku sudah masuk. Setelah
aku cek, ternyata sudah masuk. Sebelum berangkat ke kostan Mbak Ayu, aku harus
ambil uangnya di ATM.
Kisah Cinta di Stasiun: Bagian I