Sudah
satu malam kami ada di hutan ini. Selama kami berjalan, tidak terjadi apa-apa
dari tanaman sekitar. Yang kami takutkan adalah hewan yang mereka lepas. Tidak
ada tanda-tanda akan kedatangan hewan ganas hasil dari penelitian ilmiah itu.
Memang benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa, jangan melihat sesuatu dari
luarnya. Ini terbukti. Di hutan ini memang sangat indah. Hijau khas hutan hujan
tropis. Tapi, begitu banyak bahaya yang menganjam jiwa kami. Kami hanya bertemu
dengan beberapa hewan yang tidak berbahaya. Saat ini, kami beristirahat dan
mendirikan tenda.
Kami
duduk-duduk sambil menyalakan api. Karena, pagi ini sangat dingin. John sudah
agak lebih tenang dan mulai terbiasa dengan keadaan ini. Doni (pria gemuk dan
berkacamata bulat), sesekali terlihat tegang bila mendengar sesuatu
"Apa
kita akan selamat?" seru Doni.
"Aku
ingin segera keluar dari hutan ini" John terlihat sedih
"Kita
akan keluar dari sini" kataku "Kamu tidak membenci Indonesia kan atas
kejadian ini John?"
"Tidak,
aku tetap suka dengan Indonesia. Aku hanya benci terhadap orang yang melakukan
ini"
"Kalau
begitu, kamu harus yakin kita semua akan keluar dari hutan ini. Indonesia
sangat beragam. Jika kamu ingin menjelajahi Indonesia sampai ke pelosok, itu
akan menghabiskan umurmu. Karena, Indonesia sangat beragam mulai dari, suku,
bahasa, budaya, pulau-pulau, dan masih banyak lagi. Bahkan mungkin umurmu tidak
akan cukup"
John
hanya terdiam
"Bicara
apa kamu ini. Jangan berlagak sperti oarang berwibawa" ketus Anggi "Mending
kita pikirkan bagaimana cara kita bisa keluar dari sini"
"Benar
apa kata dek Anggi" kata Pak Ahmad "Saya sudah curiga. Kita sudah
berjalan belasan kilometer tapi belum juga ketemu dengan tanaman yang aneh lagi"
Ruhdi
yang dari tadi menjaga api berkata "Aku takut kita bertemu binatang buas.
Kalau mereka tiba-tiba muncul, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita
hanya bisa lari" jawabku
"Kita
harus melawannya" potong Anggi "Aku pernah belajar ilmu bela diri Silat. Siapa tahu aku bisa membantu"
"Pantas
saja kamu bisa menghajar si preman itu. Tapi apa kamu bisa menggunakan senjata?"
tanyaku
"Bisa.
Tapi mungkin untuk melawan hewan buas, terutama hewan yang mereka lepas. Kita
perlu sesuatu yang sangat tajam"
"Kita
bisa gunakan pisau"
"Pisau
terlalu kecil dan pendek"
"Kalau
begitu, besok kita jalan lagi. Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu di
perjalanan"
Doni
berdiri "Aku mau kencing dulu"
"Apa
perlu aku temani?" tanya Ruhdi
"Tidak
usah, aku tidak apa-apa"
Sekitar
sepuluh menit Doni pergi, kemudian dia kembali sambil berlari dengan nafas
terengah-engah
"Ada
orang" katanya "Disana, banyak orang menuju kemari"
"Siapa
mereka?" tanyaku
"Entahlah.
Tapi mereka membawa senjata"
"Mungkin
mereka tentara yang akan menolong kita" Ruhdi terlihat senang.
Wajah
John juga terlihat senang "Kita akan selamat kawan. Mereka akan menolong
kita"
"Apa
mungkin mereka sudah tahu hal ini?" Anggi berdiri dan melihat kearah
datangnya suara mereka
Suara
mereka semakin jelas. Terdengar juga suara tembakan. Mungkin benar mereka
tentara yang ditugaskan untuk menyelamatkan kami. Mereka semakin dekat. Setelah
tiba, mereka langsung mengepung kami semua dan menodongkan senjata. Mereka
berpakaian seperti tentara. Hanya saja bajunya berwarna merah, celana panjang
khas tentara, dan sepatu bot.
Seorang pria botak berbadan tegap dan
di pelipis kirinya ada bekas luka menghampiri kami.
"Sedang
apa kalian di sini?" tanya pria botak itu
"Kami
tersesat" jawabku
"Oh
ya?" dia melihat kami secara bergantian "Apa benar begitu?"
"Apa
kalian akan menyelamatkan kami?" tanya Doni
"Menyelamatkan
kalian?"
"Iya,
kami tersesat"
"Hey
prajurit" pria botak itu berteriak "Apa kita akan menyelamatkan
mereka?"
"Tentu
tidak pak" kata salah satu prajurit
"Kalian
dengar!" Pria itu mengangkat kedua tangannya sebahu "kami tidak akan
menyelamatkan kalian?"
"Untuk
apa kalian kesisni menemui kami?" tanya Ruhdi
"Kami
melihat asap dari tempat kalian"
"Lalu
pa yang akan kalian lakukan?"
"Menangkap
kalian. Karena kalian masuk kehutanku tanpa izin"
"Kalian
ini sebenarnya siapa?" tanya Anggi
"Kami
ini adalah perompak hutan. Hutan ini milik kami. Kami akan mengambil apapun
yang ada di hutan ini dan menjualnya"
"Jadi
orang seperti kalian yang membuat hewan terancam punah?"
"Peduli
apa dengan mereka hah?. Mereka harganya sangat mahal. Kita bisa kaya dari
mereka"
"Apa
kalian tahu tentang penelitian ilmiah di hutan ini?" tanyaku
"Maksudmu
Profesor Darma?"
"Profesor
Darma?"
Jadi
dalang dari semua ini namanya Profesor Darma?. Gumaku dalam hati
"Dialah
yang membayar kami untuk merampas hutan ini"
"Di
mana dia sekarang?"
"Aku
tidak akan beri tahu"
"Kalian
tidak diserang oleh makhuk hasil penelitian ilmiah itu?"
"Kamu
lihat ini" dia menunjukkan sebuah alat seperti gadget dari sakunya "Ini
adalah radar untuk mengetahui mana binatang atau tanam asli dan hasil
penelitian ilmiah"
"Jadi
kamu bersekongkol dengannya?"
"Tidak.
Tapi kami saling menguntungkan. Di mana kami yang menjaga hutan ini agar tidak
ada yang masuk. Dan dia membiarkan kami menangkap hewan yang hampir punah
taupun yang unik. Tak jarang dia juga membelinya dari kami untuk tujuan
penelitian dengan harga yang tinggi"
"Lalu
masalah percobaan manusia di sini?"
"Ah
iya, aku baru ingat. Jadi dia sudah mulai. Jadi kalianlah orang-orang yang
malang yang sengaja dibuang di hutan ini? Tak kusangka secepat ini"
"Apa
kamu bilang?" Anggi mendekat ke pria itu dan memukul wajahnya. Pria itu
hanya diam dan tersenyum.
"Hanya
ini kekuatanmu?" pria itu memukul balik dan Anggi terjatuh dengan bibir
berdarah. Anggi bangkit berdiri dan menendang bagian kepala pria botak itu
dengan kaki kanannya. Tapi, pria botak itu berhasil menahannya dengan tangannya
dan menahan tangan Anggi. Dengan gerakan cepat, anggi kembali menendang kepala
pria botak itu dengan kaki kirinya sementara kaku kanannya masih di tahan oleh
pria botak itu. Pria botak itu terjatuh begitu juga dengan Anggi.
"Hentikan!"
Teriakku
"Aku
tidak jadi menangkap kalian" Pria botak itu bangkit brdiri "Aku akan
membiarkan kalian berkeliaran di sini dan mati di sini" pria itu manjambak
rambut Anggi "Dan untukmu gadis
muda. kamu juga akan mati. Aku salut padamu. Karena, bela dirimu sangat hebat.
Lindungilah teman-temanmu" pria itu membanting kepala Anggi yang dari tadi
ia jambak rambutnya. "Kita pergi dari sini"
Anggi
hanya terdiam. Aku rasa dia juga sudah tahu bahwa percuma saja dia melawan.
Pada akhirnya dia juga akan kalah.
"Jadi
kalian akan kemana?" tanya Anggi sambil bangkit berdiri
"Tentu
saja ke markas kami"
Pria
itu dan anak buhanya meninggalkan kami.
"Apa
yang harus kita lakukan?" kata Doni
"Kita
harus jalan dan menemukan markas mereka. Segeralah bereskan barang-barang
kalian. Pasti mereka tidak jauh darisini" kataku
"Kalau
kita dibunuh bagaimana?"
"Aku
yang akan masuk markas mereka"
"Jaka"
Ruhdi memegang pundakku "Maafkan aku. gara-gara aku kamu jadi ikut
menderita"
"Tidak
apa-apa. Ini mungkin sudah takdir kita berada di sini"
"Tapi..."
"Sudahlah.
Ayo cepat"
"Kalau
begitu aku yang dibelakang" kata Pak Ahmad "Jaka di depan. Dan
sisanya di tengah"
Anggi
bangkit brdiri "Aku dibelakang Jaka. Untuk jaga-jaga jika mereka menyerang
dari depan"
"Kalau
begitu aku, John, dan Ruhdi di tengah. Kamu tidak apa-apa kan John?"
"Tidak.
Aku sudah lumayan baikan"
"Baiklah.
Setelah kita membereskan barag-barang kita, kita langsung berangkat"
Setelah
semuanya beres, kami mengikuti jejang mereka. Walaupun samar-samar tapi masih
terlihat jelas. Kami melewati rimbunnya pepohonan dan angin yang sejuk. Sekitar
tiga puluh menit kami berjalan, kami melihat kemah mereka yang hanya ada
beberapa orang prajurit saja.
"Kita
sembunyi di semak-semak" aku mengomando mereka
"Kamu
yang akan kesana?" tanya Doni
"Tentu.
Mereka memegang radar seperti yang pri atadi punya. Aku akan merebutnya dari
mereka"
"Tapi
mereka punya senjata"
"Aku
sudah punya rencana. Kalian tunggu saja disni. Dan kamu Anggi tunggu aba-aba
dariku. Jika aku mengangkat tangan kiri, kamu harus menyerang dengan ilmu bela
dirimu"
"Baiklah"
Aku
mengendap-ngendap kebelakang kemah mereka. Secara perlahan aku langkahkan
kakiku. Mereka belum tahu keberadaanku. Ada sekitar empat orang di kemah ini.
Yang satu sedang asyik duudk di bangku, dan yang lainnya berjaga-gaja di depan.
Aku mendekati salah seorang yang sedang duduk di bangku dari belakang. Ketika
aku semakin dekat, aku langsung memukul pundaknya. Dia pingsan dan aku mengambil
radar juga senjatanya.
"Kalian
semua jangan bergerak!" Aku menodongkan senjata laras panjang itu
Ketiga
prajurit itu terlihat kaget
"Kamu
siapa?" tanya salah satu prajurit
"Kalian
tidak perlu tahu siapa aku" aku mengangkat tangan kiriku bertanda Anggi harus
menyerang
"Jaka!"
kata Anggi
Aku
menengok ke belakang. Mereka sudah tertangkap oleh pria botak itu. Anggi
dijambak rambutnya dan ditodongkan pistol ke arah kepalanya. Pak Ahmad, Ruhdi,
Doni, dan John di giring oleh prajuritnya sambil ditodongkan senjata juga.
"Kalian
pikir aku bodoh hah?" kata pria botak itu "Aku sengaja membiarkan
kalian. Rupanya kalian seperti yang aku pikir. Kalian mengikuti jejak kami.
Jadi namamu Jaka? kamu lebih pintar dasri yang aku bayangkan. Tapi kamu tidak
lebih pintar untuk melawanku"
"Lepaskan
mereka!" kataku
"Turunkan
senjatamu"
Aku
jatuhkan senjataku. Tapi, radar itu aku sudah sembunyikan terlebih dahulu
disakuku.
"Bawa
mereka!"
"Jangan
sentuh mereka!"
Aku
berlari ke arah pria botak itu. Dia melempar anggi yang sedang ia jambak. Dia
siap-siap menerima seranganku. Aku memukul wajahnya. Tapi, dia menghindar
kekiri, lalu dia menendang perutku. Aku terjatuh. Aku bangkit lagi. Aku serang
dia lagi. Sekali lagi, dia berhasil menghindar dan memukul wajahku.
"Cukup!"
kata Pak Ahmad
"Kamu
hanya bocah ingusan" pria botak itu tersenyum licik
"Bawa
mereka. Kita sandera mereka semua"
"Tunggu"
Aku bangkit berdiri. Tapi aku terjatuh lagi
"Bagaimana
dengan dia bos?" tanya salah satu prajuritnya
Pria
botak itu melihat ke arahku "Tinggalkan dia di sini. Aku ingin ada
hiburan. Biar dia jadi penyelamat teman-temannya. Supaya ada adegan drama di
hutan ini. Segera bawa mereka" pria bota itu berbalik
Aku
hanya tergeletak ditanah. Aku sempat berpikir, aku tidak berguna dan tidak bisa
melindungiteman-temanku. Mereka membawa teman-temanku entah kemana. Sebelum
pergi, pria botak itu diam berdiri. Dia berbalik ke arahku. Lalu dia memukulku
hingga aku pingsan.
The Survival BAB II : Hari Pertama