Monday, March 21, 2016

The Survival BAB II : Hari Pertama



Sudah satu malam kami ada di hutan ini. Selama kami berjalan, tidak terjadi apa-apa dari tanaman sekitar. Yang kami takutkan adalah hewan yang mereka lepas. Tidak ada tanda-tanda akan kedatangan hewan ganas hasil dari penelitian ilmiah itu. Memang benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa, jangan melihat sesuatu dari luarnya. Ini terbukti. Di hutan ini memang sangat indah. Hijau khas hutan hujan tropis. Tapi, begitu banyak bahaya yang menganjam jiwa kami. Kami hanya bertemu dengan beberapa hewan yang tidak berbahaya. Saat ini, kami beristirahat dan mendirikan tenda.

Kami duduk-duduk sambil menyalakan api. Karena, pagi ini sangat dingin. John sudah agak lebih tenang dan mulai terbiasa dengan keadaan ini. Doni (pria gemuk dan berkacamata bulat), sesekali terlihat tegang bila mendengar sesuatu
"Apa kita akan selamat?" seru Doni.
"Aku ingin segera keluar dari hutan ini" John terlihat sedih
"Kita akan keluar dari sini" kataku "Kamu tidak membenci Indonesia kan atas kejadian ini John?"
"Tidak, aku tetap suka dengan Indonesia. Aku hanya benci terhadap orang yang melakukan ini"
"Kalau begitu, kamu harus yakin kita semua akan keluar dari hutan ini. Indonesia sangat beragam. Jika kamu ingin menjelajahi Indonesia sampai ke pelosok, itu akan menghabiskan umurmu. Karena, Indonesia sangat beragam mulai dari, suku, bahasa, budaya, pulau-pulau, dan masih banyak lagi. Bahkan mungkin umurmu tidak akan cukup"
John hanya terdiam
"Bicara apa kamu ini. Jangan berlagak sperti oarang berwibawa" ketus Anggi "Mending kita pikirkan bagaimana cara kita bisa keluar dari sini"
"Benar apa kata dek Anggi" kata Pak Ahmad "Saya sudah curiga. Kita sudah berjalan belasan kilometer tapi belum juga ketemu dengan tanaman yang aneh lagi"
Ruhdi yang dari tadi menjaga api berkata "Aku takut kita bertemu binatang buas. Kalau mereka tiba-tiba muncul, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita hanya bisa lari" jawabku
"Kita harus melawannya" potong Anggi "Aku pernah belajar ilmu bela diri Silat. Siapa tahu aku bisa membantu"
"Pantas saja kamu bisa menghajar si preman itu. Tapi apa kamu bisa menggunakan senjata?" tanyaku
"Bisa. Tapi mungkin untuk melawan hewan buas, terutama hewan yang mereka lepas. Kita perlu sesuatu yang sangat tajam"
"Kita bisa gunakan pisau"
"Pisau terlalu kecil dan pendek"
"Kalau begitu, besok kita jalan lagi. Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu di perjalanan"
Doni berdiri "Aku mau kencing dulu"
"Apa perlu aku temani?" tanya Ruhdi
"Tidak usah, aku tidak apa-apa"
Sekitar sepuluh menit Doni pergi, kemudian dia kembali sambil berlari dengan nafas terengah-engah
"Ada orang" katanya "Disana, banyak orang menuju kemari"
"Siapa mereka?" tanyaku
"Entahlah. Tapi mereka membawa senjata"
"Mungkin mereka tentara yang akan menolong kita" Ruhdi terlihat senang.
Wajah John juga terlihat senang "Kita akan selamat kawan. Mereka akan menolong kita"
"Apa mungkin mereka sudah tahu hal ini?" Anggi berdiri dan melihat kearah datangnya suara mereka
Suara mereka semakin jelas. Terdengar juga suara tembakan. Mungkin benar mereka tentara yang ditugaskan untuk menyelamatkan kami. Mereka semakin dekat. Setelah tiba, mereka langsung mengepung kami semua dan menodongkan senjata. Mereka berpakaian seperti tentara. Hanya saja bajunya berwarna merah, celana panjang khas tentara, dan sepatu bot.
 Seorang pria botak berbadan tegap dan di pelipis kirinya ada bekas luka menghampiri kami.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya pria botak itu
"Kami tersesat" jawabku
"Oh ya?" dia melihat kami secara bergantian "Apa benar begitu?"
"Apa kalian akan menyelamatkan kami?" tanya Doni
"Menyelamatkan kalian?"
"Iya, kami tersesat"
"Hey prajurit" pria botak itu berteriak "Apa kita akan menyelamatkan mereka?"
"Tentu tidak pak" kata salah satu prajurit
"Kalian dengar!" Pria itu mengangkat kedua tangannya sebahu "kami tidak akan menyelamatkan kalian?"
"Untuk apa kalian kesisni menemui kami?" tanya Ruhdi
"Kami melihat asap dari tempat kalian"
"Lalu pa yang akan kalian lakukan?"
"Menangkap kalian. Karena kalian masuk kehutanku tanpa izin"
"Kalian ini sebenarnya siapa?" tanya Anggi
"Kami ini adalah perompak hutan. Hutan ini milik kami. Kami akan mengambil apapun yang ada di hutan ini dan menjualnya"
"Jadi orang seperti kalian yang membuat hewan terancam punah?"
"Peduli apa dengan mereka hah?. Mereka harganya sangat mahal. Kita bisa kaya dari mereka"
"Apa kalian tahu tentang penelitian ilmiah di hutan ini?" tanyaku
"Maksudmu Profesor Darma?"
"Profesor Darma?"
Jadi dalang dari semua ini namanya Profesor Darma?. Gumaku dalam hati
"Dialah yang membayar kami untuk merampas hutan ini"
"Di mana dia sekarang?"
"Aku tidak akan beri tahu"
"Kalian tidak diserang oleh makhuk hasil penelitian ilmiah itu?"
"Kamu lihat ini" dia menunjukkan sebuah alat seperti gadget dari sakunya "Ini adalah radar untuk mengetahui mana binatang atau tanam asli dan hasil penelitian ilmiah"
"Jadi kamu bersekongkol dengannya?"
"Tidak. Tapi kami saling menguntungkan. Di mana kami yang menjaga hutan ini agar tidak ada yang masuk. Dan dia membiarkan kami menangkap hewan yang hampir punah taupun yang unik. Tak jarang dia juga membelinya dari kami untuk tujuan penelitian dengan harga yang tinggi"
"Lalu masalah percobaan manusia di sini?"
"Ah iya, aku baru ingat. Jadi dia sudah mulai. Jadi kalianlah orang-orang yang malang yang sengaja dibuang di hutan ini? Tak kusangka secepat ini"
"Apa kamu bilang?" Anggi mendekat ke pria itu dan memukul wajahnya. Pria itu hanya diam dan tersenyum.
"Hanya ini kekuatanmu?" pria itu memukul balik dan Anggi terjatuh dengan bibir berdarah. Anggi bangkit berdiri dan menendang bagian kepala pria botak itu dengan kaki kanannya. Tapi, pria botak itu berhasil menahannya dengan tangannya dan menahan tangan Anggi. Dengan gerakan cepat, anggi kembali menendang kepala pria botak itu dengan kaki kirinya sementara kaku kanannya masih di tahan oleh pria botak itu. Pria botak itu terjatuh begitu juga dengan Anggi.
"Hentikan!" Teriakku
"Aku tidak jadi menangkap kalian" Pria botak itu bangkit brdiri "Aku akan membiarkan kalian berkeliaran di sini dan mati di sini" pria itu manjambak rambut Anggi  "Dan untukmu gadis muda. kamu juga akan mati. Aku salut padamu. Karena, bela dirimu sangat hebat. Lindungilah teman-temanmu" pria itu membanting kepala Anggi yang dari tadi ia jambak rambutnya. "Kita pergi dari sini"
Anggi hanya terdiam. Aku rasa dia juga sudah tahu bahwa percuma saja dia melawan. Pada akhirnya dia juga akan kalah.
"Jadi kalian akan kemana?" tanya Anggi sambil bangkit berdiri
"Tentu saja ke markas kami"
Pria itu dan anak buhanya meninggalkan kami.
"Apa yang harus kita lakukan?" kata Doni
"Kita harus jalan dan menemukan markas mereka. Segeralah bereskan barang-barang kalian. Pasti mereka tidak jauh darisini" kataku
"Kalau kita dibunuh bagaimana?"
"Aku yang akan masuk markas mereka"
"Jaka" Ruhdi memegang pundakku "Maafkan aku. gara-gara aku kamu jadi ikut menderita"
"Tidak apa-apa. Ini mungkin sudah takdir kita berada di sini"
"Tapi..."
"Sudahlah. Ayo cepat"
"Kalau begitu aku yang dibelakang" kata Pak Ahmad "Jaka di depan. Dan sisanya di tengah"
Anggi bangkit brdiri "Aku dibelakang Jaka. Untuk jaga-jaga jika mereka menyerang dari depan"
"Kalau begitu aku, John, dan Ruhdi di tengah. Kamu tidak apa-apa kan John?"
"Tidak. Aku sudah lumayan baikan"
"Baiklah. Setelah kita membereskan barag-barang kita, kita langsung berangkat"
Setelah semuanya beres, kami mengikuti jejang mereka. Walaupun samar-samar tapi masih terlihat jelas. Kami melewati rimbunnya pepohonan dan angin yang sejuk. Sekitar tiga puluh menit kami berjalan, kami melihat kemah mereka yang hanya ada beberapa orang prajurit saja.

"Kita sembunyi di semak-semak" aku mengomando mereka
"Kamu yang akan kesana?" tanya Doni
"Tentu. Mereka memegang radar seperti yang pri atadi punya. Aku akan merebutnya dari mereka"
"Tapi mereka punya senjata"
"Aku sudah punya rencana. Kalian tunggu saja disni. Dan kamu Anggi tunggu aba-aba dariku. Jika aku mengangkat tangan kiri, kamu harus menyerang dengan ilmu bela dirimu"
"Baiklah"
Aku mengendap-ngendap kebelakang kemah mereka. Secara perlahan aku langkahkan kakiku. Mereka belum tahu keberadaanku. Ada sekitar empat orang di kemah ini. Yang satu sedang asyik duudk di bangku, dan yang lainnya berjaga-gaja di depan. Aku mendekati salah seorang yang sedang duduk di bangku dari belakang. Ketika aku semakin dekat, aku langsung memukul pundaknya. Dia pingsan dan aku mengambil radar juga senjatanya.
"Kalian semua jangan bergerak!" Aku menodongkan senjata laras panjang itu
Ketiga prajurit itu terlihat kaget
"Kamu siapa?" tanya salah satu prajurit
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku" aku mengangkat tangan kiriku bertanda Anggi harus menyerang
"Jaka!" kata Anggi
Aku menengok ke belakang. Mereka sudah tertangkap oleh pria botak itu. Anggi dijambak rambutnya dan ditodongkan pistol ke arah kepalanya. Pak Ahmad, Ruhdi, Doni, dan John di giring oleh prajuritnya sambil ditodongkan senjata juga.
"Kalian pikir aku bodoh hah?" kata pria botak itu "Aku sengaja membiarkan kalian. Rupanya kalian seperti yang aku pikir. Kalian mengikuti jejak kami. Jadi namamu Jaka? kamu lebih pintar dasri yang aku bayangkan. Tapi kamu tidak lebih pintar untuk melawanku"
"Lepaskan mereka!" kataku
"Turunkan senjatamu"
Aku jatuhkan senjataku. Tapi, radar itu aku sudah sembunyikan terlebih dahulu disakuku.
"Bawa mereka!"
"Jangan sentuh mereka!"
Aku berlari ke arah pria botak itu. Dia melempar anggi yang sedang ia jambak. Dia siap-siap menerima seranganku. Aku memukul wajahnya. Tapi, dia menghindar kekiri, lalu dia menendang perutku. Aku terjatuh. Aku bangkit lagi. Aku serang dia lagi. Sekali lagi, dia berhasil menghindar dan memukul wajahku.
"Cukup!" kata Pak Ahmad
"Kamu hanya bocah ingusan" pria botak itu tersenyum licik
"Bawa mereka. Kita sandera mereka semua"
"Tunggu" Aku bangkit berdiri. Tapi aku terjatuh lagi
"Bagaimana dengan dia bos?" tanya salah satu prajuritnya
Pria botak itu melihat ke arahku "Tinggalkan dia di sini. Aku ingin ada hiburan. Biar dia jadi penyelamat teman-temannya. Supaya ada adegan drama di hutan ini. Segera bawa mereka" pria bota itu berbalik
Aku hanya tergeletak ditanah. Aku sempat berpikir, aku tidak berguna dan tidak bisa melindungiteman-temanku. Mereka membawa teman-temanku entah kemana. Sebelum pergi, pria botak itu diam berdiri. Dia berbalik ke arahku. Lalu dia memukulku hingga aku pingsan.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan sopan. Gunakan bahasa yang baik dan komentar tidak mengandung sara serta kata-kata yang kasar dan menyinggung pihak tertentu. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Terima kasih.