Malam ini hujan
sangat deras. Jendela di kamarku seperti diketuk-ketuk oleh badai iblis dengan
air hujan yang sangat tidak bersahabat. Begitu derasnya dan membuat semua orang
khawatir akan terjadi banjir. Aku juga mulai khawatir karena kalau banjir,
besok aku tidak bisa menengok adikku yang sekolah di kota. Dia disana tinggal
di asrama. Aku sudah berjanji padanya untuk menengoknya besok. Tapi aku rasa
dia akan mengerti jika aku tidak menengoknya besok. Jam menunjukkan pukul
sembilan malam. Aku masih duduk di meja belajarku. Aku duduk menghadap meja
belajar sederhana sekaligus menghadap jendela yang sedari tadi masih
diketuk-ketuk oleh air hujan yang sangat deras.
Tanganku dari tadi mengetuk-ngetuk
meja. Cemas karena aku menunggu temanku yang belum juga datang dari tadi. Aku
ingin sekali menelponnya. Namun, mengingat badai yang sangat ganas ditambah
banyak petir yang menyambar, aku mengurungkan niatku itu. Listrik mulai mati,
dan kamarpun gelap. Aku mencoba mencari lilin dibantu penerangan layar ponsel.
Setelah aku menemukannya, aku mulai menyalakan lilin itu di atas meja belajar
sederhanaku yang terbuat dari kayu jati. Meja belajar ini sangat istimewa. Meja
ini dibuat oleh ayahku sewaktu aku masih kecil. Meja ini seperti meja para
komikus yang dipakai untuk menggambar.
Sedang sayiknya aku melamun masa
kecilku, pintu kamarku diketuk oleh seseorang.
"Jaka!. Buka pintunya cepat. Di
sini sangat gelap". Teriak seseorang dibalik pintu kamarku.
"Iya sebentar. Maaf tadi aku
menguncinya". Jawabk.
Aku melangkah menuju pintu. Memutar slot
kunci dan membukanya. Aku melihat seseorang dengan rambutnya yang lurus dan
alisnya yang hampir menyatu. Ya, dia adalah temanku, Ruhdi.
"Untung pintu rumahmu tidak kamu
kunci. Jadi aku bisa langsung masuk". Kata Ruhdi.
Dia masuk dan langsung melepas
tasnya yang sangat besar di atas kasur. Dia duduk dikasur dan mengeluarkan
secarcik kertas dari tasnya.
"Ini" katanya sambil
memberikanku kertas tadi "Ini brosur untuk kamping. Di sana kita juga akan
diajarkan bagaimana caranya bertahan hidup di hutan". Tambahnya.
Aku membaca judul dari brosur itu
yang dicetak sangat tebal "The Survival" dilengkapi dengan gambar
flora dan fauna yang sangat mendukung.
"Jadi kamu jauh-jauh datang
kesini hanya untuk memberitahukanku hal ini?"
"Bukan hanya memberi tahu, tapi
aku juga akan mengajakmu. Kamu kan senang dengan petualangan, jadi ini sangat
cocok untukmu"
"Baiklah, tapi aku pikir-pikir
dulu. Lagipula, hujannya belum berhenti. Kamu kesini tidak mengalami hal buruk
kan?". Tanyaku cemas.
"Tidak apa-apa. Hanya saja tadi
aku kesusahan berjalan menuju ke rumahmu. Aku membawa tas dengan berisi
perlengkapan kamping yang berat. Belum lagi, sekarang airnya hampir satu lutut.
Untung saja aku memakai sepatu bot khusus banjir. Di tengah jalan menuju
kerumahmu tiba-tiba listrik mati. Tambah kerepotanlah aku karena jalanan sangat
gelap".
"Jadi di luar sana banjir?".
Tanyaku yang kaget.
"Iya. Tapi Insya Allah tidak akan parah banjirnya".
"Syukurlah. Kapan kegiatan ini
akan dumulai?".
"Besok lusa".
"Ya sudah, kamu menginap saja
dulu dirumahku".
"Rencananya memang begitu".
Ruhdi menaruh tasnya yang besar itu
di pojokan kamar. Aku menurunkan lilin yang tadi aku nyalakan ke lantai.
Sepertinya Ruhdi agak kedinginan. Aku membawakannya selimut dan membuat teh
jahe panas untuk menghangatkan tubuhnya. Sepanjang malam kami membahas masalah
brosur tadi. Kami larut dalam pembicaraan dan tak terasa waktu sudah
menunjukkan pukul satu dini hari. Kami bergegas tidur. Ruhdi yang baru datang
dari Jakarta itu langsung lelap tertidur. Mungkin dia sangat kelelahan. Jika
saja dia memberitahuku kalau dia mau datang pasti akan aku jemput dia di
stasiun. Sayang, walaupun aku berencana mau menjeputnya, tetapi hujan yang dari
jam empat sore belum juga reda. aku hanya bisa menunggu dengan cemas dirumah
dan berharap dia berteduh dulu sebelum ke rumahku. Dia orangnya memang tidak
mau merepotkan orang lain.
Subuh kami bangun untuk menunaikan
ibadah sholat subuh. Kemudian kami tidur lagi dan bangun sekitar jam sembilan
pagi. Orang tuaku belum juga pulang dari rumah nenek. Ruhdi belum juga bangun.
Mungkin dia sangat lelah. Aku sengaja tidak membangunkannya karena tidurnya
sangat pulas. Aku ke dapur untuk membuat sarapan. Aku membuat telur mata sapi
dan roti bakar. Tadinya aku mau membeli nasi uduk. Tapi, jam segini pasti sudah
habis. Setelah selesai membuat sarapan, aku pergi keluar. Ketika aku membuka
pintu, cuaca sangat cerah. Berbeda dengan cuaca tadi malam yang bagaikan iblis
yang sedang mengamuk. Dan banjir sudah surut. Seperempat jam aku menonton televisi,
Ruhdi keluar dari kamarku.
"Kamu sudah bangun?".Tanyaku.
"Tidurku nyenyak sekali. Aku
sangat lelah". Jawabnya sambil meregangkan tulang.
"Kamu mandi dulu sana. Aku
sudah buatkan sarapan".
"Orangtuamu mana?".
"Mereka sedang kerumah nenek.
Mungkin siang mereka baru pulang".
"Ya sudah, aku mandi dulu".
Setelah Ruhdi mandi, kami langsung
sarapan bersama. Sepanjang kami sarapan, dia banyak bercerita tentang kuliahnya
di salah satu Universitas di Jakarta. Dia juga sering mengajakku kerumahnya
yang ada di Jakarta. Tapi aku selalu tidak bisa. Karena aku juga punya
pekerjaan di sini. Larut kami dalam pembicaraan, pintu rumah ada yang mengetuk.
Aku segera membuka pintu. Tampak sepasang suami istri berdiri didepan pintu.
Sang istri yang wajahnya bundar dan memakai jilbab abu-abu, dan sang suami yang
agak jangkung dengan mata yang tajam dan rambut agak beruban. Mereka adalah
orangtuaku yang baru pulang dari rumah nenek. Aku cium tangan kedua orangtuaku.
Aku juga sedikit khawatir dengan hujan badai tadi malam. Apakah badainya juga
sampai didaerah nenek?.
"Apa disana juga hujan badai?".
"Disana tidak ada hujan badai"
kata ayahku "Tadinya kami mau pulang pukul delapan malam. Tapi ayah
mendengar kabar dari bibimu kalau ada hujan badai. Jadi, kami tidak jadi pulang".
"Temanmu sudah datang?". Kata
ibuku.
"Sudah bu, dia sedang sarapan".
Ruhdi menghapiri kami. Kelihatannya
dia sudah selesai sarapan.
"Om, Tante". Kata Ruhdi
sambil mencium tangan kedua orangtuaku.
"Bagaimana kuliahmu Ruhd?".
Tanya ibuku.
Ruhdi sering dipanggil dengan "Ruhd".
"h"-nya tidak dibaca jelas atau tidak dibaca sama sekali sehingga
menjadi "Rud".
"Alhamdulillah, Lancar tante"
"Syukurlah. Ya sudah, tante mau
ke dapur dulu ya?. Kalian ngobrol-ngobrol saja di sini. Nanti tante siapkan
makan siang".
Ibuku pergi kedapur. Aku, Ruhdi, dan
Ayah duduk diruang tamu dan kami ngobrol-ngobrol.
"Bagaimana kabar orangtuamu Ruhd?".
Tanya ayahku.
"Alhamdulillah, sehat Om"
"Oh iya. Ayah sudah sarapan?
Kalau belum nanti aku buatkan".
"Ah, tidak usah. Sebelum
pulang, ayah dan ibu sudah sarapan dirumah nenekmu".
"Bagaimana keadaan nenek?".
"Sekarang sudah baikan.
Maklumlah namanya juga sudah tua. Penyakitnya sudah komplikasi".
"Kakek bagaimana?".
"Seperti biasa, dia sering
bekerja di kebun kesayangannya".
"Wah...kapan-kapan boleh dong
saya main kesana Om?". Kata Ruhdi.
"Oh tentu boleh. Sekalian refreshing dari kesibukan kuliah. Enam
bulan lagi, Jaka kan ulang tahun yang ke dua puluh tiga, bagaimana kalau kita kesana?"
"Boleh juga tuh. Saya lima
bulan lagi juga ulang tahun yang ke dua puluh tiga juga"
"Om lupa. Kalian kan cuman beda
satu bulan ya?"
Kami berbincang hangat di ruang
tamu. Obrolan yang ringan dan menyenangkan.
Sore hari, aku ajak Ruhdi berbincnag-bincang
di halaman depan sambil membersihkan lumpur dan daun-daun yang berserakan.
Masih untung tidak menyebabkan kerusakan di rumah-rumah warga.
"Dari dulu kamu memang senang
mendaki gunung". Kataku sambil menyapu dedaunan.
"Itu mah sudah jadi darah
daging. Aku mau sesuatu yang beda. Yaitu berpetualang di hutan belantara".
Jawab Ruhdi yang dari tadi sibuk mengumpulkan sisa-sisa lumpur.
"Dalam brosurnya kok tidak
disebut hutannya di mana".
"Katanya sih itu rahasia, Tapi
entahlah".
"Oh iya, nanti kalau kamu sudah
lulus, bagaimana kalau kita buka usaha?".
"Usaha apa?".
"Apa saja yang sekiranya tidak
bisa ditiru sama orang lain".
"Sepertinya kuliner boleh
juga".
"Kuliner? boleh sih tapi, kita
harus benar-benar mampu bersaing. Orang zaman sekarang banyak bosannya. Jadi
kita harus super kreatif agar konsumen tidak bosen".
"Contohnya kreatif itu
apa?".
"Seperti varian rasa. Jadi
mungkin setiap tiga tau enam bulan sekali kit aharus punya inovasi rasa
baru".
"Sepertinya aku harus ajak
temanku juga yang seorang koki".
"Suruh dia asah terus
kemampuannya. Aku juga sudah mulai nabung buat modal usaha".
"Kebetulan juga. Aku punya
tabungan. Nanti bisa kita satukan buat modal usaha".
"Beres kalau begitu".
"Kalian berdua ayo masuk makan
dulu". Teriak ibuku di pintu rumah.
"Belum juga magrib bu".
Kataku.
"Tidak apa-apa. Makan
bareng-bareng lebih nikmat".
Kami berempat makan balam bersama,
Walaupun ini baru pukul lia sore, tapi perut kami sudah keroncongan.
Ruhdi lahap sekali makan masakkan
ibuku. Sedari kecil, kalau main dia selalu numpang makan. Ruhdi dulu tinggal
satu kampung bersamaku. Dia juga lahir di kampung ini. Tapi setelah kami lulus
SMA, orangtuanya pindah ke Jakarta dan dia melanjutkan pendidikan di sana. Aku
lanjut bekerja di salah satu restoran di kota. Restoran ini sangat tersohor se
kabupaten. Gajiku juga lumayan hampir sama dengan karyawan di Jakarta.
Beruntung aku bisa bekerja di sini sebagai pelayan.
"Kalian ada rencana?".
Tanya ayahku.
"Besok saya mau ajak Jaka
kemping". Jawab Ruhdi.
"Di mana?".
"Di Lembang".
"Boleh kok. Tapi kalian harus
hati-hati. Jaga diri baik-baik".
"Beres Om. Mungkin kami di sana
seminggu lebih".
"Jaka, kamu sudah izin ke
restoran?".
"Sudah. Aku digantikan sama si
Ucup. Dia nanti dapat gaji harian yang dipotong dari gaji aku".
"Bagus kalau begitu".
"Bekal sudha disiapin
belum?". Tanya ibuku.
"Sudah semua. Besok tinggal
berangkat saja pakai bus".
"Ongkos bagaimana?".
"Kalau kekurangan ongkos, biar
saya yang tanggung tante". Kata Ruhdi.
"Maaf ya Jaka ini selalu
merepotkan".
"Oh tidak apa-apa tante.
Lagipula kan saya yang ngajak. Jadi saya harus tanggung jawab".
Kami semua tertawa. Entah mengapa,
tawa ke dua orangtuaku membuatku agak bersedih. Seolah aku akan pergi jauh dari
mereka. Tapi aku tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak. Aku kesana kan tidak
sendirian. Aku kesana bersama sahabatku.
Tak terasa esok hari telah tiba. Orangtuaku
juga berangkat lagi kerumah nenekku. Mereka mungkin disana agak lama beberapa
bulan. Pagi harinya aku dan Ruhdi berangkat ke daerah sekitar Lembang, daerah di
mana diselenggarakannya kegiatan yang ada di brosur itu. Daerah pinggiran
Bandung itu memang tempat yag strategis untuk kamping. Udaranya yang sejuk.
Bahkan kurang pas jika dikatakan sejuk. Lebih tepat dikatakan ‘Dingin’. Karena
Lembang memang sangat dingin dibandingkan dengan kota Bndung. Setelah kami
menulusuri jalan-jalan dan gang-gang di Lembang, kami tiba ditempat kamping.
Tempat itu ada didataran tinggi. Kita bisa melihat pemukiman warga dari sini.
Sudah banyak orang yang berkumpul. Mereka sangat antusias mengikuti kegiatan
ini.
Aku
dan Ruhdi mendaftar ke panitia. Setelah daftar, kami langsung ikut gabung dengan
yang lainnya. Salah seorang panitia naik ke panggung (disana memang disediakan
panggung yang sederhana), dia menjelaskan kegiatan dan schedule apa saja yang akan kami ikuti. Dia bilang kegiatan ini
akan berlangsung selama satu minggu. ‘Syukurlah’ pikirku. Karena, tempat aku
bekerja hanya memberiku izin satu minggu digantikan oleh orang lain. Setelah satu
jam lebih dia memberi kami materi bertahan hidup di hutan. Seperti, membedakan
pohon atau buah-buahan yang mengandung racun atau tidak, cara meramu
obat-obatan tradisional yang berasal dari alam, cara memburu hewan, membuat
tempat berteduh dari ranting pohon, dan masih banyak lagi. Kami semua
dipersilahkan membangun tenda disekitar sini untuk bermalam. Besok kami diajak
ke hutan untuk mempraktekkannya.
Kami
dibagi kedalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5-7
orang. Aku beruntung satu kelompok dengan Ruhdi. Dan tiga orang lagi yaitu: Anggi,
seorang wartawan dari Majalah Remaja Bandung. Pak Ahmad, guru IPA di salah satu
SMA di Bandung, dan John Pinkerton, turis asal Inggris. Anggi orangnya sangat
cantik dengan rambutnya yang hitam terurai sampai punggung. Tapi, dilihat dari
cara dia memasang tenda dan sebagainya, dia sangat ahli, seperti petualang profesional.
Pak Ahmad, meskipun umurnya sudah empat puluh tahun lebih, dia masih enerjik
dengan kacamatanya. Terlihat dia sangat berilmu. John Pinkerton, dengan
tubuhnya yang jangkung, hidungnya mancung, dan berkulit putih, dia terlihat
kuat. Pria asal Inggris yang sangat lancar berbahasa Indonesia ini, bercerita
kalau dia senang berbetualang ke negara-negara lain. Terutama menjelajah hutan.
Dia bilang sangat senang karena bisa ikut dalam kegiatan ini. Dia juga cerita
negara yang paling banyak dia kunjungi adalah Indonesia. Ini terbukti dia
sangat lancar berbahasa Indonesia. Meskipun, dalam pengucapan kosakata masih
terbawa logat bahasa Inggris.
Hari
sudah gelap. Aku, Ruhdi, Pak Ahmad, dan beberapa orang ikut sholat maghrib
berjamaah di salah satu mesjid di sekitar tempat kamping. Tempat kamping itu
memang tak terlalu jauh dengan pemukiman warga. Setelah selesai sholat Maghrib
dan sekaligus Isya, kami kembali ke tempat kamping.
Kami
duduk didepan tenda dan menyalakan api untuk menghangatkan tubuh.
"Udaranya
dingin ya di Lembang" sahut Pak Ahmad
"Iya.
Untung saya bawa selimut tebal" kata Ruhdi
"Kira-kira
besok akan bagaimana ya?" kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja
"Kamu
ini bagaimana sih. Pasti sangat menyenangkan. Kalau kita tidak tahu apa-apa,
kita tinggal tanya saja Pak Ahmad. Dia kan guru IPA dan Biologi"
"Iya
juga ya. Beruntung sekali kita satu kelompok sama Pak Ahmad"
"Ah
biasa saja. Bapak akan bantu sebisa bapak"
Sedang
asyiknya kami mengobrol di depan tenda, Anggi mendekat dan ikut gabung bersama
kami.
"Kalian
belum pernah hidup di hutan ya?" tanya dia sambil ikut duduk
"Kalau
aku sih sudah. Dulu waktu aku pertama kali suka dengan petualangan. Nih si Jaka
belum pernah" Ruhdi menepuk pundakku "Makannya, aku ajak dia ikut
kegiatan ini"
"Oh...begitu"
Anggi menghadap ke langit "Di hutan, kita harus punya kemampuan bertahan
hidup yang cukup. Jika tidak, bisa-bisa kita akan mati konyol" tambahnya.
"Dek
Anggi kenapa ikutan kegiatan ini?" tanya Pak Ahmad
"Saya
dapat tugas dari Majalah Remaja Bandung untuk menulis ‘Cara Bertahan Hidup di
Hutan’. Kebetulan, saya juga senang petualangan. Apalagi di hutan. Waktu saya
pulang ke kostan, saya dikasih brosur kegiatan ini sama teman saya. Lalu pihak
majalah mengizinkan saya ikut dan berharap tulisan saya bisa bagus. Bapak
sendiri kenapa?"
"Saya
cuman ingin refreshing saja. Habis, saya merasa perlu penyegaran dari rutinitas
mengajar. Tadinya saya mau ngajak anak dan istri. Tapi mungkin sangat beresiko"
"Wah.
Kalian tidak nagjak-ngajak saya nih" kata John yang tiba-tiba datang dari
belakang tenda.
"Gabung
saja sini. Kamu kan bule satu-satunya yang ikut kegiatan ini" kata Ruhdi
"Saya
merasa orang paling asing nih di sini"
Kami
berlima saling bertukar pikiran dan saling bertukar pengalaman. Salah satu
panitia membagikan minuman jahe yang bisa menghangatkan tubuh. Seluruh peserta
yang ikut mendapat minuman itu secara gratis. Pihak panitia memaksa kami
meminumnya. Katanya, ini bisa menghangatkan tubuh, apalagi malam ini sangat
dingin. Seluruh peserta meminumnya dan kami melanjutkan bincang-bincang lagi.
Setengah
jam kami berbincang, kepalaku mulai pusing dan mataku sangat berat. Aku melihat
Ruhdi, Pak Herman, Anggi dan John juga mengalami hal yang sama. Seluruh badanku
lemas. Bahkan aku tidak sanggup berbicara sepatah katapun. Tubuh Ruhdi, Pak
Herman, Anggi, dan John, sudah mulai tergeletak di tanah. Aku masih mencoba
menahan agar tidak seperti mereka. Tapi, makin lama aku makin lemas dan tubuhku
juga mulai ambruk ke tanah. Saat aku ambruk dan setengah sadar, aku sempat
menengok ke arah peserta lain. Ternyata, mereka juga sudah tergeletak bagaikan orang
yang sedang mabuk berat. Aku sudah tidak kuat lagi dan tiba-tiba semuanya jadi
gelap.
Dengan
penglihatan samar-samar, aku melihat pepohonan yang rimba, suara burung
brkicauan dan suara dedaunan yang tertiup angin. Aku mencoba bangkit. Ternyata
aku pingsan. Aku hanya ingat terakhir kali aku meminum minuman jahe tadi malam.
Setelah sadar sepenuhnya, aku baru sadar kalau aku berada di tengah hutan. Aku
panik mencari yang lainnya. Ternyata mereka semua juga sama sepertiku, tapi
belum sadar. Aku mencoba membangunkan mereka semua.
"Ruhdi,
Anggi, Pak Herman, John, bangun!" aku mencoba membangunkan mereka
Semuanya
sudah sadar
"Di
mana kita?" tanya Ruhdi
"Entahlah"
jawabku
"Kita
ada di hutan" kata Anggi
"Woohooowww....ini
sangat hebat kawan. Kita sudah bisa berpetualang sekarang" teriak John
"Tapi
apa maksudnya ini? Tadi malam kitakan sedang berbincang-bincang. Tiba-tiba kita
dibawa ke tengah hutan" kata Pak Herman
"Aku
rasa, mereka punya alsan untuk semua ini" aku mulai curiga
"Kalau
mereka yang membawa kita kesini? Di mana yang lainnya? Bukankah pesertanya ada
lebih dari dua ratus orang?" Anggi terlihat kebingungan
"Sudahlah
kawan" kata John yang dari tadi berjingkrak-jingkrak "Ini surprise
buat kita semua, mereka mungkin sengaja supaya kita belajar secara langsung"
"Tapi"
Ruhdi melihat-lihat ke atas "Kita ada di hutan mana?"
"Aku
juga tidak tahu" jawabku
"Coba
aku lihat dulu HP-ku" Anggi merogoh saku celananya "Ada!. Lihat!.
Waktu kita berkumpul di Lembang, itu tanggal 18. Sekarang sudah tanggal 20"
"Berarti
kita semua dibius selama dua hari lalu dibawa kehutan ini?"
"Bisa
jadi. Sayang, tidak ada sinyal. Batrenya juga mau habis lagi"
"Lihat!"
Ruhdi menunjuk ke arah pohon yang sangat besar "Itu kan barang-barang kita"
"Aku
akan mengambilnya"
Aku
menaiki akar pohon itu. Di atas sana bertumpukkan tas-tas milik kami semua.
Setelah aku sampai, aku melihat kertas yang ditempel di pohon besar itu.
"Hey!"
aku mangacungkan kertas itu kepada semuanya yang ada di bawah "Ada kertas
dan isinya dari panitia" kataku sambil berteriak.
Aku
turun dengan membopong lima tas. Tapi beberapa tas aku gelindingkan ke bawah
karena memang tidak ada barang yang mudah pecah.
"Apa
isinya?" tanya Ruhdi
Semuanya
berkumpul di sisi kiri dan kananku memperhatikan kertas itu. Aku mebuka lipatan
kertas itu dan membaca tulisan itu yang isinya seperti ini:
"Jika kalian membaca kertas ini, mungkin kalian
sudah sadar. Kami memang sengaja membawa kalian kehutan ini. Karena kami akan
menguji kalian. Siapa yang berhasil keluar dari hutan ini, akan kami beri
imbalan apapun yang kalian inginkan. Tapi, keluar dari hutan ini tidaklah
mudah. Banyak tanaman dan binatang hasil dari penelitian ilmiah yang mengerikan
yang sengaja kami tanam dan kami lepas di sini. Sebagai contohnya, coba kalian
perhatikan dedaunan sekitar kalian. Coba kalian ambil getahnya menggunakan
pisau, lalau teteskan atu oleskan ke binatang yang ada disekitar kalian. Mengenai
cara bertahan hidup yang kami sampaikan, jangan dipikirkan karena itu tidak
akan banyak membantu.
Selamat berjuang"
"Surat
macam apa ini" Ruhdi nyeletuk
"Aku
akan mencobanya"
Pak
Ahmad mengambil pisau dari tasnya. Lalu mengambil getah dari salah satu
dedaunan yang sangat besar dan lebar. Dia oleskan getah itu ke seekor katak
yang ada di dedaunan kecil. Satu menit tidak ada reaksi apa-apa. Setelah dua
menit, betapa kagetnya kami semua. Katak itu kulitnya mengelupas dan
mengeluarkan asap. Semua yang menyaksikan hanya bisa diam seribu bahasa.
Semuanya menatap katak itu tanpa ada suara sedikitpun. Mata kami tertuju pada
katak itu yang dari tadi menggeliat kepanasan dan mati.
:Huuuwwwaaaaa......"
John berteriak sangat kencang "Kita akan mati. Kalian semua, kita akan
mati di sini. Mereka menjadikan kita kelinci percobaan" katanya dengan
raut wajah tegang bercampur dengan rasa takut.
"Tenanglah!"
kata Anggi". Kita harus tenang. Kita harus keluar dari hutan ini"
"Bagaimana
caranya?". tanya Ruhdi.
"Aku
juga tidak tahu".
"Kamu
yang bilang kita harus keluar dari sini, tapi kamu sendiri tidak memberikan
solusi?".
"Sudah
aku bilang kita harus tenang. Kalau kita panik, kita tidak akan bisa berpikir.
Kita dalam situasi yang sulit. Mau tidak mau kita harus keluar dari hutan ini
dengan taruhan nyawa kita sendiri"
"Benar
apa kata Anggi. Kita harus tenang dan jangan panik. Sebaiknya kita berjalan
saja. Sebab, jika terus di sini akan berbahaya" Pak Herman memberikan
saran.
Kami
semua setuju dengan saran Pak Herman. Kami semua berjalan menuju arah selatan.
Untunglah Ruhdi membawa kompas. Sebenarnya, di tengah hutan yang kita tidak
tahu di mana, sangat sulit menentukan ke arah mana yang akan kita tuju. Tapi
kami telah berunding dan sepakat kita menuju arah selatan.
Tiga
jam kami berjalan menelusuri belantara hutan. Kami berjalan dengan sangat
hati-hati. Senti per senti kami perhatikan dengan seksama saat kami melangkah.
Jika kita salah sedikit saja. Nyawa bisa jadi taruhannya. John terlihat sangat
lelah. Belum lagi, di antara kita, tas yang dia bawa merupakan tas yang paling
berat. Kami memutuskan istirahat sejenak dan duduk di tanah yang sudah kami
periksa keamanannya.
Saat
kami sedang beristirahat. Kami mendengar ada orang yang mendekat kearah kami.
Aku sempat berpikir dan berharap itu adalah penduduk sekitar sini. Tapi bukan,
mereka juga peserta. Mereka terlihat sangat memprihatinkan. Mereka hanya dua
orang pria. Yang satu, badannya gemuk dan berkacamata bulat, dan yang satu lagi
tampangnya seperti preman.
"Syukurlah
kami menemukan kalian. Tadinya aku pikir tidak akan bertemu peserta lain"
kata pria berbadan gemuk dan berkacamata bulat.
"Tcih....kamu
percaya begitu saja apa yang mereka tulis hah?" bentak pria yang bermuka
preman. "Lihat sekelilingmu. Tidak terjadi apa-apa di sini" kata dia
sambil berjalan disekitar
"Kamu
jangan ceroboh. Mereka sudah menanam dan melepaskan binatang hasil penelitian
ilmiah di hutan ini" Pak Herman mencoba menghentikannya.
"Orang
sepertimu lebih baik mati saja" kata Anggi yang kesal melihat tingkahnya
"Sudah,
tahan dirimu" kataku
Pria
gemuk itu mengusap keringatnya dengan sapu tangan dan berkata "Apa aku
boleh ikut bersama kalian?"
"Tentu.
Kita harus keluar dari sini dan menangkap otak dibalik kejadian ini dan mempertanggungjawabkan
perbuatannya"
"Aku
tidak akan ikut kalian. Paling-paling nanti kalian akan mati konyol di sini"
pria bertampang preman itu berkata dengan muka sanagat membenci kami
Anggi
mendekat ke pria bermuka preman itu "Kamu. Brengsek!" dia memukul
pria itu tapi pria itu menghindar ke kiri. Anggi menyerang lagi dengan
menendangnya dengan kaki kanannya. Tendangan anggi mengenai kaki kanan pria itu.
Dia tergeletak ditanah sambil memegangi kaki kanannya menahan kesakitan.
"Aaarrggghhhh.
Apa yang kamu lakukan?"
"Berhentilah
melakukan hal-hal yang bodoh"
Pria
itu bangkit dengan kaki pincang dan berjalan sendirian
"Mau
kemana kamu?" tanya Anggi
Pra
itu berbalik badan "Aku akan berjalan sendirian"
"Ikutlah
bersama kami" Pak Ahmad mencoba membujuknya "Aku ahli dalam bidang
tanaman dan Hewan. Aku bisa membantu semampuku"
"Kalian
percaya apa yang dikatakan oleh mereka? Lihat ini!" dia menginjak-injakkan
kaki kanannya pada akar pohon sebesar tangan orang dewasa "Tidak terjadi
apa-ap˗˗˗"
Akar
yang dia injak-injak tiba-tiba mencuat keatas dengan cepat seperti jebakan pada
binatang. Tubunnya terhempas keatas sekitar sepuluh meter dan jatuh kembali
ketanah. Darahnya bertebaran di udara. Kaki kanannya putus entah kemana. Semua
yang menyaksikan hanya bisa diam dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Pak
Ahmad berlari kearahnya dan memeriksa denyut nadinya.
"Dia
sudah mati" katanya sambil memegang denyut nadinya "Akar tadi selain
mengenai kakainya, juga mengenai perut dan dada. Dadanya hancur dan aku rasa
jantungnya juga kena. Dia langsung mati"
"Kita
akan mati" kata pria gemuk yang keringatnya semakin membasahi seluruh
tubuhnya.
"Kita
akan mati kawan" John yang dari tadi diam dan mukanya pucat mengulangi
kata-kata pria gemuk dan berkacamata itu
"Bagaimana
mayatnya pak?" tanya Ruhdi
"Kita tinggalkan di sini. Ini sekaligus
pembelajaran bagi kita. Jangan injak akar apapun yang muncul ditanah. Sepertinya
akarnya agak sensitif. Jika diinjak berkali-kali, akar ini akan menyerang"
Suasana
hening seketika. Anggi yang dari tadi terlihat kuat hanya bisa terdiam membisu.
Ruhdi juga sama. Sementara Pak Herman mencoba tenang dan berpikir. John dan
pria gemuk itu tetap dengan wajahnya yang tegang dan ketakutan setengah mati.
Aku juga terdiam dan berpikir. Bagaimana kita keluar dari hutan ini?. Bagaimana
dengan peserta yang lain?. Apa mereka juga selamat, atau sebaliknya?. Dan untuk
apa mereka melakukan hal ini?. Kami ini manusia, bukan Hewan.
Kami
terus melanjutkan perjalanan. Dengan langkah yang sangat extra hati-hati. Pak
Herman bilang, tanaman hasil penelitian ilmiah itu tidak ditanam secara
berdekatan. Jadi. untuk sementara waktu kita akan aman. Aku kembali larut dalam
lamunan dalam perjalanan. Malam itu, adalah malam terburuk dalam hidupku. Dan
badai itu, adalah ‘Badai Pembawa Mimpi Buruk’.
The Survival BAB I : Badai Pembawa Mimpi Buruk