Saturday, January 23, 2016

Cinta Tak Bertepi: Bagian II


          Nanas itu hanyut terbawa arus sungai menuju area persawahan. Aku menyusuri sungai ini dengan bertelanjang kaki. Celana aku sing-singkan keatas setengah betis agar tidak kotor  terkena lumpur sungai. Aku terus berusaha sebisa mungkin menangkap nanas itu. Tak berapa lama, akhirnya nanas itu nyangkut di bebatuan. Aku bergegas mengambilnya dengan menginjakkan kakiku di atas bebatuan itu. Aku ambil nanas itu dan aku lihat dengan diputar secara perlahan takut nanasnya kotor. Sukurlah tidak ada yang kotor dan air sungai ini cukup bersih.

            Aku kembali ke tempat dimana nanas malang ini jatuh. Aku cuci kakiku. Aku merasa agak perih di telapak kakiku. Setelah aku lihat, ternyata banyak yang lecet-lecet dan sedikit berdarah. Lalu aku pakai lagi sepatuku dengan perlahan-lahan. Aku ikat lagi nanas yang malang ini lalu aku lanjutkan perjalananku ke arah jalan kiri yang menanjak ini. Rumah pacarku samar-samar terlihat dari kejauhan. Rumah berukuran sedang dengan cat berwarna putih dan jendela berwarna kuning emas sangat mencolok jika dilihat dari kejauhan. Aku juga melihat ada beberapa orang yang berkumpul di teras rumah. Mungkin sanak saudaranya. Aku terus berjalan dan sesampainya di sana, aku ucapkan salam. Di teras rumah ini hanya terlihat bibinya dan kedua orangtuanya. Ternyata yang berkumpul tadi adalah tetangganya dan mereka segera pamitan bertepatan dengan kedatanganku.
            “Eh nak Darma. Mari duduk”. Kata Bibi Heni. Aku memang sudah akrab dengan Bib Heni. Bibi Heni mempunyai satu anak perempuan imut nan lucu yang saat ini sedang dia pangku.
            Aku buka sepatuku. Sengaja aku tidak lepas kaos kaiki hitamku karena jika bibi Heni bertanya kenapa telapak kakiku lecet dan berdarah, sangat tidak etis jika aku jawab karena mengejar nanas yang jatuh ke sungai. Aku lalu duduk di teras bersama Bibi Heni dan anaknya, Rini. Rini langsung menghampiriku. Aku dan Rini memang dekat sekali.
            “Kakak bawa apa?”. Tanya dia sambil melihat nanas simadu.
            “Ini nanas simadu”. Jawabku.
            “Asyiikk Rini bisa makan nanas”.
            Aku hanya tersenyum lalu aku belai rambutnya yang pendek sebahu.
            “Kamu tunggu di sini dulu. Nanti acaranya belum mulai”. Kata ibu Pacarku.
            Aku hanya mengangguk.
            Waktu aku habiskan bermain dengan si Rini. Dia begitu senang atas kedataganku. Ibunya hanya melihatnya dengan senyum bahagia. Orangtua Rini sudah lama bercerai. Entah masalah apa yang menyebabkan Bibi Heni dan suaminya bercerai. Dia tidak mau bercerita mengenai masalah ini. Soal kakak perempuan pacarku, saat ini dia bersama suaminya yang bekerja di Sumatera. Aku terus bermain dengan Rini. Gadis kecil yang sangat cantik dan periang.
            Sekitar satu jam, dari jalan menurun yang tadi aku lewati, aku melihat sekelompok orang yang lumayan banyak. Mereka mengarah kemari. Aku bingung mereka sedang apa. Saat mereka sampai, aku melihat seorang lelaki bertubuh tinggi dan tegap. Dari kostumnya, aku sudah tahu kalau dia adalah seorang pilot. Entah apa yang menyerang pikiranku. Seketika aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Rini yang dari tadi menegurku karena aku menghiraukannya, aku tak tanggapi. Namun aku tetap berkepala dingin dan menunggu apa yang akan terjadi.
            Aku tetap ditemani oleh bibi Heni. Dia juga tidak mengatakan apa-apa padaku. Sejurus kemudian, aku dipanggil oleh seseorang yang jadi pembawa acara untuk masuk ke dalam. Aku duduk di depan orangtua pacarku. Dan di sebelah kananku duduk sang pilot. Seluruh ruangan dipenuhi oleh orang-orang. Sebagian adalah kerabat sang pilot juga orangtuanya yang sedang duduk bersama orangtua pacarku. Sang pembawa acara memulai acara dengan mengucapkan salam.
            "Baik, acara kita mulai saja. Hari ini, putri bungsu dari Bapak Umar Amarudin dan Ibu Sari Rahma akan dilamar oleh dua orang pemuda".
            Seketika aku kaget dengan ucapan pembawa acara itu. Melamar? orangtua pacarku tidak pernah membicarakan hal ini. Mereka hanya bilang ingin membicarakan sesuatu.
            "Yang pertama silahkan perkenalkan diri". Pembawa acara itu menunjuk kepada sang pilot.
            "Nama saya Danu Kusuma. Umur dua puluh tiga tahun dan saya seorang pilot".
            "Yang kedua silahkan".
            "Nama saya Darma Wijaya. Umur saya dua puluh dua tahun dan saya seorang karyawan swasta". Kataku dengan gugup.
            "Baiklah, ke dua pelamar kita sudah memperkenalkan diri. Kita semua di sini pasti sudah tahu maksud kedatangan mereka. Sekarang tinggal menunggu keputusan dari pihak wanita".
            Orangtua pacarku cukup lama berdiskusi. Pacarku juga tidak terlihat. Mungkin dia sedang di kamar. Namun jujur, perasaanku tak keruan. Antara kaget dan sedih jadi satu. Entah permainan apa ini. Jika memang ini acara lamaran, ahh aku tidak mau membahasnya.
            Orangtua pacarku berbisik kepada pembawa acara. Lalu pacarku keluar dari kamarnya memakai gaun yang indah. Dia terlihat sangat cantik sekali. Dia duduk dekat orangtuanya. Sekejap dia melihat kearahku. Dia tak berekspresi apapun.
            Lalu si pembawa acara melihat kearahku dan berkata "Nak Darma, dengan berat hati, lamaran nak Darma kami tolak. Semoga nak Darma bisa menemukan perempuan yang jauh lebih baik daripada nak Rina". Tambahnya sambil tersenyum.
            Tanganku gemetar. Hatiku terguncang. Lamaranku ditolak dan orangtuanya tidak memebri tahu aku bahwa hari ini Rina ada yang melamar oleh seorang pilot. Seorang pilot nan gagah yang melamar seorang wanita. Siapa yang tidak akan senang dilamar oleh orang seperti dia. Hidupnya akan terjamin. Gaji seorang pilot itu besar. Sementara aku, aku hanya seorang karyawan swasta yang sebentar lagi akan habis kontrak. Aku bergegas keluar dengan hati sakit dan kecewa. Sungguh aku tak bisa menggambarkannya. Mungkin inilah jawabannya selama ini kenapa belakangan dia sering sulit dihubungi dan nomornya selalu sibuk. Jika aku bertanya, dia selalu bilang ponselnya sedang ada gangguan. Entah kenapa aku selalu percaya pada jawabannya itu. Dan juga, ketika aku hendak membelikan sesuatu, dia selalu marah-marah tidak jelas dan bioang bahwa dia tidak suka. Hingga pernah sampai memuncak emosi antara aku dan dia

    "Kau itu bukan siapa-siapa. Jadi, cukuplah langkahmu segitu. Aku bilang tidak suka ya tidak suka. Ngerti tidak sih?"
          Sungguh perkataannya itu membuat dadaku sesak. Tapi entah kenapa kemudian aku maafkan dia. Dan ya, sepertinya kalimat yang dia lontarkan waktu itu adalah peringatan bahwa dia sudah tidak menganggapku siapa-siapa lagi. 
    
           Saat aku keluar, tak ada seorang pun kecuali bibi Heni dan Rini. Mungkin semua orang sudah masuk. Aku hampiri dia.
            "Ma..maafin bibi. Bibi ga sanggup bilang ke kamu". Katanya denga raut wajah yang sedih.
            "Gak usah bi. Darma sudah tahu semuanya. Darma ditolak lamarannya".
            "Sekarang rencana kamu apa?".
            "Aku mau pulang Bi. Bilang ke seluruh keluarga, maaf jika aku ada salah. Dan juga terima kasih untuk semuanya. Aku kini sadar, mungkin aku tidak pantas untuk Rina. Aku hanya seorang karyawan swasta. Sementara dia, seorang pilot yang gagah dan tampan".
            "Jangan bilang seperti itu. Kamu harus kuat dan sabar. Seandainya bibi bisa bantu, akan bibi lakukan sekarang juga. Tapi bibi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bibi semalam gak bisa tidur. Bibi mikirin kamu Darma. Bibi tahu perasaan kamu sekarang".
            Aku hanya diam dan tak berbicara selama beberapa saat. Rini yang dari tadi mengajakku berbicara, aku hanya ladeni dengan senyuman.
            "Aku pamit dulu Bi". Kataku pada akhirnya.
            "Kakak mau kemana?". Rini merangkulku.
            "Kakak pulang dulu ya". Jawabku tersenyum.
            "Nanti kakak balik lagi".
            Aku menatap matanya dan berkata "Kaka janji bakal balik lagi".
            Lalu aku acungkan jari kelingking. Rini mebalas jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya dan tersenyum. Aku lalu pamitan pada bibi Heni. Aku pakai lagi sepatuku dan menyusuri jalan menurun lalu berbelok ke kanan dan menuju Masjid Besar Lembang di mana mobilku terparkir di sana. Di sini juga terlihat beberapa mobil mewah terparkir. Mungkin mobil sang pilot itu. Aku langsung pulang dengan memaju mobilku pelan. Entah apa aku harus menangis atau bagai mana. Aku bingung. Sampai di jalan yang di sisi kirinya terdapat bukit tinggi dengan hamparan kebun teh, aku berhenti dan menepi. Aku turun dan aku lepas sepatu dan kaos kakiku lalu aku menyusuri jalan berbatu menanjak menuju puncak bukit.
            Setelah aku melewati bukit, aku melihat ada bangku taman panjang. Tak terasa aku mendaki bukit. Dengan pikiran tak keruan, maka kau akan melakukan sesuatu yang tidak tahu kau melakukan apa. Aku duduk di bangku itu. Aku melamun dengan pikiran kosong. Tak terasa air mataku mengalir deras.
            Beberapa saat kemudian, aku hapus air mataku. Sudah tak ada gunanya lagi menangis. Toh itu tak berarti merubah apa-apa. Beberapa saat kemudian seorang gadis duduk di sebelahku. Rambutnya panjang melewati bahu dan memakai baju terusan berwarna putih bercorak biru. Aku tak menghiraukannya sampai dia bertanya padaku.
            "Kakak ngapain di sini?". Tanya gadis itu dengan riang.
            "Cuma numpang duduk aja".
            "Oh...kalau begitu aku izinin Kak".
            "Loh bangku ini punya kamu?".
            "Iya Kak. Aku sering main di sini".
            "Maaf Kakak gak tahu".
            "Gak apa-apa kok Kak. Oh iya Kakak kenapa? Tadi aku lihat Kakak lagi nangis?".
            "Gak kenapa-kenapa kok".
            "Aku tahu Kakak pasti sedang sedih. Cerita aja Kak".
            Sebaiknya aku ceritakan apa yang sedang terjadi. Siapa tahu itu bisa membuatku merasa lebih baik.
            "Sebelum Kakak cerita, nama dan umur kamu berapa?". Aku hanya penasaran bera umrunya.
            "Nama aku Ani. Umur aku delapan belas tahun Kak".
            Ya, lima belas tahun dengan badan yang mungil.
            "Kalau nama Kakak Darma. Tapi kok kamu kelihatan kayak umur dua belas tahun?".
            "Ah Kakak bisa aja. Udah cerita aja Kak".
            Lalu aku ceritakan semuanya. Mulai dari aku berkenalan dengan Rina, menjalin hubungan yang kadang senang dan kadang juga sedih, hingga sampai peristiwa yang baru saja aku alami. Juga aku ceritakan jika aku mempunyai istri akan begini dan akan begitu. Walaupun mungkin dalam prakteknya tidak akan persis sama. Aku menjelaskannya sangat detil.
            "Kakak tak perlu sedih. Masih banyak wanita yang mau jadi istri Kakak kok. Kakak baik". Katanya dengan senyuman yang manis.
            "Yang baik akan kalah dengan yang punya harta dan tahta".
            "Semua itu gak akan kekal Kak. Dalam sehari bisa saja semuanya hancur. Kakak harus kuat. Lanjutkan hidup Kakak. Kalau aku seumuran Kakak, pasti aku siap jadi istri Kakak".
            "Kamu ini ada-ada saja".
            "Eh tunggu dulu Kak".
            Dia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil di saku bajunya dan mulai menulis sesuatu.
            "Nulis apa sih?". Aku mengintip tulisannya.
            Dia kemudian merobeknya lalu melemperannya dan hilang di tengah kebuh teh.
            "Bentar kak aku pergi dulu nanti ke sini lagi. Jangan kemana-mana ya?".
            Dia lau pergi sambil berlari kecil. Sepuluh menit kemudian dia kembali lagi dengan membawa boneka beruang putih berukuran sedang. Di leher beruang itu ada kalung dengan liontin hati warna emas. Juga boneka itu diberi pakaian yang lucu.
            "Ini untuk Kakak". Kata dia sambil tersenyum.
            "Kenapa kamu ngasih Kakak boneka?". Aku keheranan.
            "Gak kenapa-kenapa. Pengen ngasih aja. Jaga baik-baik ya. Yakin deh Kakak pasti akan menemukan wanita yang baik, cantik, dan solehah".
            "Makasih". Aku menerima pemberiannya dengan senang hati.
            "Gak enak Kakak ga ngasih apa-apa".
            "Gak perlu Kak. Kakak udah ngasih yang lebih Kok".
            Aku lanjutkan mengobrol dengannya. Mengobrol apa saja dan mengenai tema apa saja. Dia enak sekali diajak ngobrol. Semua topik pembicaraan dia bisa mengimbangi. Dan aku simpulkan kalu dia itu gadis yang sangat cerdas. Aku suka gadis ini. Tapi sayang obrolan kita yang sangat menyenangkan harus berakhir ketika hari mulai sore. Dia berpamitan dan pergi. Aku sempat melihatnya di atas bukit. Dia naik mobil hitam yang angat bagus. Mobil itu diparkir tepat di belakang mobilku. Di kaca jendela mobil, dia melambaikan tangannya padaku. Aku lalu membalasnya dan dia pergi ke arah Lembang.
            Aku lalu pulang. Sesampainya di rumah aku lalu ceritakan semua yang terjadi hari ini. Ibuku hanya bilang kalau aku harus sabar. Semuanya sudah ada yang ngatur baik jodoh, rezeki, ataupun maut.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan sopan. Gunakan bahasa yang baik dan komentar tidak mengandung sara serta kata-kata yang kasar dan menyinggung pihak tertentu. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Terima kasih.