Nanas
itu hanyut terbawa arus sungai menuju area persawahan. Aku menyusuri sungai ini
dengan bertelanjang kaki. Celana aku sing-singkan keatas setengah betis agar
tidak kotor terkena lumpur sungai. Aku
terus berusaha sebisa mungkin menangkap nanas itu. Tak berapa lama, akhirnya
nanas itu nyangkut di bebatuan. Aku bergegas mengambilnya dengan menginjakkan
kakiku di atas bebatuan itu. Aku ambil nanas itu dan aku lihat dengan diputar
secara perlahan takut nanasnya kotor. Sukurlah tidak ada yang kotor dan air
sungai ini cukup bersih.
Aku kembali ke tempat dimana nanas
malang ini jatuh. Aku cuci kakiku. Aku merasa agak perih di telapak kakiku.
Setelah aku lihat, ternyata banyak yang lecet-lecet dan sedikit berdarah. Lalu
aku pakai lagi sepatuku dengan perlahan-lahan. Aku ikat lagi nanas yang malang
ini lalu aku lanjutkan perjalananku ke arah jalan kiri yang menanjak ini. Rumah
pacarku samar-samar terlihat dari kejauhan. Rumah berukuran sedang dengan cat
berwarna putih dan jendela berwarna kuning emas sangat mencolok jika dilihat
dari kejauhan. Aku juga melihat ada beberapa orang yang berkumpul di teras
rumah. Mungkin sanak saudaranya. Aku terus berjalan dan sesampainya di sana,
aku ucapkan salam. Di teras rumah ini hanya terlihat bibinya dan kedua
orangtuanya. Ternyata yang berkumpul tadi adalah tetangganya dan mereka segera
pamitan bertepatan dengan kedatanganku.
“Eh nak Darma. Mari duduk”. Kata Bibi
Heni. Aku memang sudah akrab dengan Bib Heni. Bibi Heni mempunyai satu anak
perempuan imut nan lucu yang saat ini sedang dia pangku.
Aku buka sepatuku. Sengaja aku tidak
lepas kaos kaiki hitamku karena jika bibi Heni bertanya kenapa telapak kakiku
lecet dan berdarah, sangat tidak etis jika aku jawab karena mengejar nanas yang
jatuh ke sungai. Aku lalu duduk di teras bersama Bibi Heni dan anaknya, Rini.
Rini langsung menghampiriku. Aku dan Rini memang dekat sekali.
“Kakak bawa apa?”. Tanya dia sambil
melihat nanas simadu.
“Ini nanas simadu”. Jawabku.
“Asyiikk Rini bisa makan nanas”.
Aku hanya tersenyum lalu aku belai
rambutnya yang pendek sebahu.
“Kamu tunggu di sini dulu. Nanti
acaranya belum mulai”. Kata ibu Pacarku.
Aku hanya mengangguk.
Waktu aku habiskan bermain dengan si
Rini. Dia begitu senang atas kedataganku. Ibunya hanya melihatnya dengan senyum
bahagia. Orangtua Rini sudah lama bercerai. Entah masalah apa yang menyebabkan
Bibi Heni dan suaminya bercerai. Dia tidak mau bercerita mengenai masalah ini. Soal
kakak perempuan pacarku, saat ini dia bersama suaminya yang bekerja di
Sumatera. Aku terus bermain dengan Rini. Gadis kecil yang sangat cantik dan
periang.
Sekitar satu jam, dari jalan menurun
yang tadi aku lewati, aku melihat sekelompok orang yang lumayan banyak. Mereka
mengarah kemari. Aku bingung mereka sedang apa. Saat mereka sampai, aku melihat
seorang lelaki bertubuh tinggi dan tegap. Dari kostumnya, aku sudah tahu kalau
dia adalah seorang pilot. Entah apa yang menyerang pikiranku. Seketika aku tak
bisa berkata apa-apa lagi. Rini yang dari tadi menegurku karena aku
menghiraukannya, aku tak tanggapi. Namun aku tetap berkepala dingin dan
menunggu apa yang akan terjadi.
Aku tetap ditemani oleh bibi Heni.
Dia juga tidak mengatakan apa-apa padaku. Sejurus kemudian, aku dipanggil oleh
seseorang yang jadi pembawa acara untuk masuk ke dalam. Aku duduk di depan
orangtua pacarku. Dan di sebelah kananku duduk sang pilot. Seluruh ruangan
dipenuhi oleh orang-orang. Sebagian adalah kerabat sang pilot juga orangtuanya
yang sedang duduk bersama orangtua pacarku. Sang pembawa acara memulai acara
dengan mengucapkan salam.
"Baik, acara kita mulai saja.
Hari ini, putri bungsu dari Bapak Umar Amarudin dan Ibu Sari Rahma akan dilamar
oleh dua orang pemuda".
Seketika aku kaget dengan ucapan
pembawa acara itu. Melamar? orangtua pacarku tidak pernah membicarakan hal ini.
Mereka hanya bilang ingin membicarakan sesuatu.
"Yang pertama silahkan
perkenalkan diri". Pembawa acara itu menunjuk kepada sang pilot.
"Nama saya Danu Kusuma. Umur
dua puluh tiga tahun dan saya seorang pilot".
"Yang kedua silahkan".
"Nama saya Darma Wijaya. Umur
saya dua puluh dua tahun dan saya seorang karyawan swasta". Kataku dengan
gugup.
"Baiklah, ke dua pelamar kita
sudah memperkenalkan diri. Kita semua di sini pasti sudah tahu maksud
kedatangan mereka. Sekarang tinggal menunggu keputusan dari pihak wanita".
Orangtua pacarku cukup lama
berdiskusi. Pacarku juga tidak terlihat. Mungkin dia sedang di kamar. Namun
jujur, perasaanku tak keruan. Antara kaget dan sedih jadi satu. Entah permainan
apa ini. Jika memang ini acara lamaran, ahh aku tidak mau membahasnya.
Orangtua pacarku berbisik kepada
pembawa acara. Lalu pacarku keluar dari kamarnya memakai gaun yang indah. Dia
terlihat sangat cantik sekali. Dia duduk dekat orangtuanya. Sekejap dia melihat
kearahku. Dia tak berekspresi apapun.
Lalu si pembawa acara melihat
kearahku dan berkata "Nak Darma, dengan berat hati, lamaran nak Darma kami
tolak. Semoga nak Darma bisa menemukan perempuan yang jauh lebih baik daripada
nak Rina". Tambahnya sambil tersenyum.
Tanganku gemetar. Hatiku terguncang.
Lamaranku ditolak dan orangtuanya tidak memebri tahu aku bahwa hari ini Rina
ada yang melamar oleh seorang pilot. Seorang pilot nan gagah yang melamar
seorang wanita. Siapa yang tidak akan senang dilamar oleh orang seperti dia.
Hidupnya akan terjamin. Gaji seorang pilot itu besar. Sementara aku, aku hanya
seorang karyawan swasta yang sebentar lagi akan habis kontrak. Aku bergegas
keluar dengan hati sakit dan kecewa. Sungguh aku tak bisa menggambarkannya.
Mungkin inilah jawabannya selama ini kenapa belakangan dia sering sulit
dihubungi dan nomornya selalu sibuk. Jika aku bertanya, dia selalu bilang
ponselnya sedang ada gangguan. Entah kenapa aku selalu percaya pada jawabannya
itu. Dan juga, ketika aku hendak membelikan sesuatu, dia selalu marah-marah tidak jelas dan bioang bahwa dia tidak suka. Hingga pernah sampai memuncak emosi antara aku dan dia
"Kau itu bukan siapa-siapa. Jadi, cukuplah langkahmu segitu. Aku bilang tidak suka ya tidak suka. Ngerti tidak sih?"
Sungguh perkataannya itu membuat dadaku sesak. Tapi entah kenapa kemudian aku maafkan dia. Dan ya, sepertinya kalimat yang dia lontarkan waktu itu adalah peringatan bahwa dia sudah tidak menganggapku siapa-siapa lagi.
"Kau itu bukan siapa-siapa. Jadi, cukuplah langkahmu segitu. Aku bilang tidak suka ya tidak suka. Ngerti tidak sih?"
Sungguh perkataannya itu membuat dadaku sesak. Tapi entah kenapa kemudian aku maafkan dia. Dan ya, sepertinya kalimat yang dia lontarkan waktu itu adalah peringatan bahwa dia sudah tidak menganggapku siapa-siapa lagi.
Saat aku keluar, tak ada seorang pun
kecuali bibi Heni dan Rini. Mungkin semua orang sudah masuk. Aku hampiri dia.
"Ma..maafin bibi. Bibi ga
sanggup bilang ke kamu". Katanya denga raut wajah yang sedih.
"Gak usah bi. Darma sudah tahu
semuanya. Darma ditolak lamarannya".
"Sekarang rencana kamu
apa?".
"Aku mau pulang Bi. Bilang ke
seluruh keluarga, maaf jika aku ada salah. Dan juga terima kasih untuk
semuanya. Aku kini sadar, mungkin aku tidak pantas untuk Rina. Aku hanya seorang
karyawan swasta. Sementara dia, seorang pilot yang gagah dan tampan".
"Jangan bilang seperti itu.
Kamu harus kuat dan sabar. Seandainya bibi bisa bantu, akan bibi lakukan
sekarang juga. Tapi bibi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bibi semalam gak bisa
tidur. Bibi mikirin kamu Darma. Bibi tahu perasaan kamu sekarang".
Aku hanya diam dan tak berbicara
selama beberapa saat. Rini yang dari tadi mengajakku berbicara, aku hanya
ladeni dengan senyuman.
"Aku pamit dulu Bi".
Kataku pada akhirnya.
"Kakak mau kemana?". Rini
merangkulku.
"Kakak pulang dulu ya".
Jawabku tersenyum.
"Nanti kakak balik lagi".
Aku menatap matanya dan berkata
"Kaka janji bakal balik lagi".
Lalu aku acungkan jari kelingking.
Rini mebalas jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya dan tersenyum. Aku
lalu pamitan pada bibi Heni. Aku pakai lagi sepatuku dan menyusuri jalan
menurun lalu berbelok ke kanan dan menuju Masjid Besar Lembang di mana mobilku
terparkir di sana. Di sini juga terlihat beberapa mobil mewah terparkir.
Mungkin mobil sang pilot itu. Aku langsung pulang dengan memaju mobilku pelan.
Entah apa aku harus menangis atau bagai mana. Aku bingung. Sampai di jalan yang
di sisi kirinya terdapat bukit tinggi dengan hamparan kebun teh, aku berhenti
dan menepi. Aku turun dan aku lepas sepatu dan kaos kakiku lalu aku menyusuri
jalan berbatu menanjak menuju puncak bukit.
Setelah aku melewati bukit, aku
melihat ada bangku taman panjang. Tak terasa aku mendaki bukit. Dengan pikiran
tak keruan, maka kau akan melakukan sesuatu yang tidak tahu kau melakukan apa.
Aku duduk di bangku itu. Aku melamun dengan pikiran kosong. Tak terasa air
mataku mengalir deras.
Beberapa saat kemudian, aku hapus
air mataku. Sudah tak ada gunanya lagi menangis. Toh itu tak berarti merubah
apa-apa. Beberapa saat kemudian seorang gadis duduk di sebelahku. Rambutnya
panjang melewati bahu dan memakai baju terusan berwarna putih bercorak biru.
Aku tak menghiraukannya sampai dia bertanya padaku.
"Kakak ngapain di sini?".
Tanya gadis itu dengan riang.
"Cuma numpang duduk aja".
"Oh...kalau begitu aku izinin
Kak".
"Loh bangku ini punya
kamu?".
"Iya Kak. Aku sering main di
sini".
"Maaf Kakak gak tahu".
"Gak apa-apa kok Kak. Oh iya
Kakak kenapa? Tadi aku lihat Kakak lagi nangis?".
"Gak kenapa-kenapa kok".
"Aku tahu Kakak pasti sedang
sedih. Cerita aja Kak".
Sebaiknya aku ceritakan apa yang
sedang terjadi. Siapa tahu itu bisa membuatku merasa lebih baik.
"Sebelum Kakak cerita, nama dan
umur kamu berapa?". Aku hanya penasaran bera umrunya.
"Nama aku Ani. Umur aku delapan
belas tahun Kak".
Ya, lima belas tahun dengan badan
yang mungil.
"Kalau nama Kakak Darma. Tapi
kok kamu kelihatan kayak umur dua belas tahun?".
"Ah Kakak bisa aja. Udah cerita
aja Kak".
Lalu aku ceritakan semuanya. Mulai
dari aku berkenalan dengan Rina, menjalin hubungan yang kadang senang dan
kadang juga sedih, hingga sampai peristiwa yang baru saja aku alami. Juga aku
ceritakan jika aku mempunyai istri akan begini dan akan begitu. Walaupun
mungkin dalam prakteknya tidak akan persis sama. Aku menjelaskannya sangat
detil.
"Kakak tak perlu sedih. Masih
banyak wanita yang mau jadi istri Kakak kok. Kakak baik". Katanya dengan
senyuman yang manis.
"Yang baik akan kalah dengan
yang punya harta dan tahta".
"Semua itu gak akan kekal Kak.
Dalam sehari bisa saja semuanya hancur. Kakak harus kuat. Lanjutkan hidup
Kakak. Kalau aku seumuran Kakak, pasti aku siap jadi istri Kakak".
"Kamu ini ada-ada saja".
"Eh tunggu dulu Kak".
Dia mengeluarkan sebuah buku catatan
kecil di saku bajunya dan mulai menulis sesuatu.
"Nulis apa sih?". Aku
mengintip tulisannya.
Dia kemudian merobeknya lalu
melemperannya dan hilang di tengah kebuh teh.
"Bentar kak aku pergi dulu
nanti ke sini lagi. Jangan kemana-mana ya?".
Dia lau pergi sambil berlari kecil.
Sepuluh menit kemudian dia kembali lagi dengan membawa boneka beruang putih
berukuran sedang. Di leher beruang itu ada kalung dengan liontin hati warna
emas. Juga boneka itu diberi pakaian yang lucu.
"Ini untuk Kakak". Kata
dia sambil tersenyum.
"Kenapa kamu ngasih Kakak
boneka?". Aku keheranan.
"Gak kenapa-kenapa. Pengen
ngasih aja. Jaga baik-baik ya. Yakin deh Kakak pasti akan menemukan wanita yang
baik, cantik, dan solehah".
"Makasih". Aku menerima
pemberiannya dengan senang hati.
"Gak enak Kakak ga ngasih
apa-apa".
"Gak perlu Kak. Kakak udah
ngasih yang lebih Kok".
Aku lanjutkan mengobrol dengannya.
Mengobrol apa saja dan mengenai tema apa saja. Dia enak sekali diajak ngobrol.
Semua topik pembicaraan dia bisa mengimbangi. Dan aku simpulkan kalu dia itu
gadis yang sangat cerdas. Aku suka gadis ini. Tapi sayang obrolan kita yang
sangat menyenangkan harus berakhir ketika hari mulai sore. Dia berpamitan dan
pergi. Aku sempat melihatnya di atas bukit. Dia naik mobil hitam yang angat
bagus. Mobil itu diparkir tepat di belakang mobilku. Di kaca jendela mobil, dia
melambaikan tangannya padaku. Aku lalu membalasnya dan dia pergi ke arah
Lembang.
Aku lalu pulang. Sesampainya di
rumah aku lalu ceritakan semua yang terjadi hari ini. Ibuku hanya bilang kalau
aku harus sabar. Semuanya sudah ada yang ngatur baik jodoh, rezeki, ataupun
maut.
Cinta Tak Bertepi: Bagian II