Empat
bulan berlalu. Kini aku sudah memulai hidup baru. Kontrak kerja dengan
perusahaanku yang dulu tidak diperpanjang lagi. Mengingat sekarang ini ekonomi
di Indonesia sedang tak bersahabat. Ada beberapa perusahaan elekrtonik besar
asal Jepang yang terpaksa tutup dan hengkang dari Indonesia. Akibatnya banyak
pekerja yang di-PHK. Aku memulai dengan bisnis kecil-kecilan di bidang kuliner.
Aku mulai dari berjualan kue lewat media online. Lumayan buat penghasilan
sehari-hari. Aku menjual kue kering berbagai rasa. Juga aku membuat toplesnya
semenarik mungkin untuk menarik pelanggan. Aku dibantu oleh dua orang pekerja.
Mereka baru lulus dari sekolah SMA dan bingung mau kerja di mana. Jadi aku ajak
saja mereka untuk bekerja denganku. Aku tertarik pada mereka selain mereka
perempuan, juga mereka sangat rajin jika bekerja. Perempuan biasanya sangat
teliti dalam bekerja. Sepertinya aku tidak salah memepekerJakan mereka. Jika
hasil penjualan banyak, tentu saja aku bisa menggaji mereka lebih.
Usahaku sudah berjalan dua bulan. Alhamdulillah banyak pelanggan setia.
Aku juga kepikiran gadis yang aku temui di kebun teh. Aku berniat
menghadiahinya satu toples kue dengan hiasan cantik. Boneka beruang yang dia
kasih juga masih aku simpan. Aku selalu membawanya kemana-mana. Aku berencana
ke kebun teh pada hari minggu esok. Semoga saja aku bisa bertemu dengannya dan
melihat senyum manisnya lagi. Aku meminta salah satu pekerjaku untuk menghias
toples dengan secantik mungkin. Nama pekerjaku itu adalah Susi. Dia pandai
sekali menghias. Dan satu lagi yang bernama Nana. Selain pandai menghias, dia
juga pandai membuat kue. Kadang aku juga belajar dari dia. Aku suka mereka. Ini
yang disebut rekan kerja yang saling menguntungkan.
Hari minggu tiba. Aku berpamitan
pada orangtuaku dan bersiap dan memanaskan mobilku. Aku memakai jas rapi warna
coklat. Aku juga sudah berpesan pada pekerjaku untuk melayani pelanggan bila
ada yang memesan. Mereka juga sudah aku ajarkan bagaimana cara bertransaksi
online. Syukurlah mereka cepat mengerti. Mungkin karena mereka anak muda yang
sudah tak asing lagi dengan teknologi.
"Pak memang Bapak mau
kemana?". Tanya Nana.
"Mau ke tempat temen. Jangan
panggil bapak ah gak enak".
"Temen apa temen nih?". Tanya
Susi sambil menggoda.
"Udah ah. Kalian jaga rumah. Di
rumah gak ada siapa-siapa. Ibu barusan pergi ke pasar. Saya pergi dulu".
"Iya hati-hati". Kata
mereka hampir bersamaan.
Aku langsung meluncur dengan mobilku.
Perjalanan lancar. Hanya di beberapa
titik saja masih agak macet. Tapi tak semacet di Darmarta. Setelah sampai di
lokasi, aku parkirkan mobilku memutar arah dan aku langsung mendaki bukit.
Ternyata bangku panjang itu masih ada. Lalu aku duduk sambil memegang toples kue
yang sudah dihias dan boneka beruang pemberian Ani. Aku juga tidak yakin dia
akan datang atau tidak. Mengingat hari belum siang dan matahari belum tinggi.
Satu jam aku menunggu, tiba-tiba
seorang pria berpakaian kemeja hitam dan celana hitam menghampiriku. Semuanya
serba hitam.
"Maaf, apa kamu yang bernama Darma?".
Tanya pria itu sambil sedikit membungkukkan badan.
"I...iya". Jawabku gugup.
"Kamu ikut saya".
"Ada apa ya?". Jujur, aku
ketakutan.
"Nanti saya jelaskan. Pokoknya
kamu ikut saya. Tenang, saya bukan orang jahat kok".
Aku langsung menuruti dia. Aku ikuti
dia. Ternyata dia membawaku ke tempat aku memarkirkan mobilku.
"Ikuti saya". Dia langsung
masuk ke mobilnya yang berwarna abu-abu.
Aku mengikutinya dari belakang
dengan mobilku. Kami memutar dan menuju ke arah Lembang. Saat sampai di
perempatan pasar lembang, kami berbelok ke kiri dan terus menyusuri jalan.
Entah apa nama daerah ini aku tidak tahu. Tapi yang jelas, dia membawaku ke
sebuah rumah yang besar dan halamannya yang sangat luas lengkap dengan taman
bermain dan air mancur. Rumah ini dicat warna putih dengan pintu ganda yang
lumayan besar. Dia berbelok ke kiri dan masuk ke gerbang. Aku mengikutinya.
Setelah memarkir, dia turun dari mobil lalu menghampiriku dan mempersilahkan
aku untuk masuk ke dalam rumah. Saat aku mnginjakkan kaki di teras rumah, aku
sangat kagum. Lantai teras ini begitu bersih dan memantulkan cahaya matahari
bagai berlian. Lalu aku masuk dan duduk di ruang tamu dan disuruh menunggu
olehnya. Rumah ini cukup besar dan mewah. Dekorasi dan perabotannya juga bukan
barang murah. Terutama lampu gantung yang gemerlap mencuri perhatianku.
Perpaduan warna cerah yang sangat pas. Aku jadi penasaran siapa arsitek yang
merancang rumah ini.
Kesenanganku karena kerennya rumah ini
pudar ketika seorang pria yang tak terlalu tua menghampiri. Dia datang bersama
pria berpakaian hitam tadi. Pakiannya rapi memakai kemeja warna putih
bergaris-garis seperti warna biru dan celana panjang dengan warna tak terlalu
mencolok.
"Kamu yang namanya Darma? Saya
Pak Irawan". Dia menyodorkan tangannya pertanda memberi jabatan tangan.
"I..iya pak". Jawabku
sambil menjabat tangannya.
"Silahkan duduk".
"Iya Pak terima kasih".
"Tolong kamu buatkan minuman
untuk tamu kita".
"Siap laksanakan Pak".
Kata pria bepakian serba hitam itu.
"Kita ngobrol sebentar".
"Memangnya ada apa Pak saya
dibawa kemari? Terus kenapa Bapak bisa tahu nama saya?".
"Sepertinya bapak harus
bercerita panjang lebar".
Aku semakin kebingungan dengan sikap
Pak Irawan ini.
"Pertama, aku tahu kamu dari
cerita anakku".
Sontak aku kaget. Apa dia ayahnya
Ani?
"Jadi Bapak ini..?".
"Iya, saya ayahnya Ani.
Semenjak hari itu, dia sering bercerita tentang dirimu".
"Di mana dia sekarang
Pak?". Aku menengok ke kanan dan ke kiri.
"Ini Pak minumannya". Kata
pria berpakaian serba hitam lalu dia kembali pergi.
"Ayo diminum dulu".
Kami lalu minum minuman dingin itu
bersama.
"Kamu ikut saya ke atas".
Aku mengikuti dia keatas melewati
tangga. Setelah sampai, dia membuka pintu berwarna merah muda. Terbukalah
sebuah ruangan yang aku yakin sekali itu adalah kamarnya Ani. Aku melihat
sekeliling. Aku hampiri jendela yang langsung mengarah ke halaman depan.
"Ini akamarnya Ani.".
Katanya sambil duduk di kasur Ani. Kasur yang unik berwarna merah muda dengan
motif bunga di sprei, selimut, dna bantalnya
"Dia selalu mendekorasi kamar
ini dengan rapi." Lanjut Pak Irawan. "Cat dinding berwarna merah muda
ini hasil buah karya tangannya. Dia selalu bercita-cita ingin jadi seorang
arsitek. Dimuali dari dia mendekorasi kamarnya. Pernah suatu hari saat saya mau
membangun sebuah gudang, dia yang menggambar rancangan bangunannya. Sampai kami
pindah ke rumah ini, dia juga yang merancang bangunan rumah ini dibantu oleh
seorang arsitek kenalan saya. Dia juga lah yang menata seluruh ruangan dan
perabotan. Bahkan warna catnya juga dia yang merekomendasikan. Menerut teman
saya yang arsitek itu, dia memang mempunyai bakat yang bagus. Dia juga sangat
pintar matematika, fisika, kimia, dan hampir semua mata pelajaran dia bisa
kuasai. Guru-guru di sekolah juga bilang dia adalah anak yang jenius". Pak
Irawan diam sejenak.
Aku masih diam dan mendengarkan
sambil berdiri.
"Ibunya meninggal sejak
melahirkan dia. Saat itu saya berjanji pada almarhumah istri saya di depan
makamnya untuk membesarkan dia dengan penuh kasih sayang. Saya juga tidak akan
menikah lagi. Dia adalah istri pertama dan terakhir saya. Saya selalu berharap
kita bisa berkumpul lagi di akhirat kelak. Ani anak yang periang, cantik, dan
disenangi oleh teman-temannya. Dia juga sering menjurai lomba matematika,
fisika, dan kimia. Saya sangat menyayanginya. Kami selalu menghabiskan waktu
berdua. Namun waktu itu saya tidak bisa menemaninya ke kebun teh karena saya
ada urusan mendadak dari kantor yang tidak bisa ditunda. Jadi aku suruh
sahabatku untuk mengantarnya ke kebun teh. Ke tempat favoritnya itu saat dia
bertemu denganmu".
Pak Irawan berdiam lagi. Dia
mengusap air matanya yang hampir jatuh. Aku hanya diam tak mampu berkata. Aku
masih bingung apa yang sedang terjadi.
"Saat umur sepuluh tahun, dia
divonis mengidap kanker darah". Lanjutnya sambil air matanya mengalir.
Aku tak tahu harus bagaimana. Bahkan
aku tak tahu harus berekspresi apa.
"Dokter memperkirakan umurnya
tinggal menghitung tahun. Namun semangat hidupnya tetap berkobar dalam hatinya.
Suatu ketika, dia curhat pada saya kalau dia sudah tidak bercita-cita ingin
jadi arsitek lagi. Saat saya tanya kenapa, dia menjawab kalau dia hanya ingin
menikah dengan seorang pria yang sangat baik. Dia bilang 'Ani mau nikah sama
pria yang baik seperti ayah yang setia pada ibu walaupun ibu sudah tidak ada'.
Aku memeluknya sambil menahan air mata lalu aku bilang 'Percayalah, Ani pasti
bakal ketemu sama pria itu. Yang sangat baik dan setia. Dia akan menjaga Ani sampai
kapanpun. Tapi Ani tidak boleh mengubur impian jadi arsitek. Teruslah bermimpi
walau ayah yakin mengejar mimpi tiu tidak gampang'. Mungkin karena omongan
saya, dia jadi bersemangat lagi mengejar mimpinya dan belajar lebih giat. Dia
juga pernah melihat salah satu tetangganya di rumah kami yang dulu bercerai
karena si suami berselingkuh dengan perempuan yang lebih cantik. Ani selalu
bertanya pada saya kenapa dua orang bisa saling membenci padahal awalnya dia
saling mencintai. Jika memang karena pihak ketiga, seharusnya bisa saling
intropeksi diri. Mungkin ada yang salah.
"Pertanyaannya yang kritis
membuat saya tak bisa menjawabnya. Dia selalu saja mengkritik perilaku
seseorang. Dan dia juga selalu bertanya pada saya apa cinta itu akan luntur.
Saya selalu menjawab kalau cinta sejati tiu tidak akan pernah luntur. Lalu dia
bertanya lagi bagaimana orang yang selingkuh. Lagi-lagi saya tidak bisa
menjawabnya. Waktu saya pulang kerumah, saya mengetuk pintu kamarnya dan dia
mempersilahkan saya masuk. Saya langsung bertanya bagaimana di kebun teh. Saat
itu juga saya melihat dia tersenyum bahagia yang belum pernah daya lihat
sebelumnya. Dia hanya menjawab kalau dia sudah menemukan pria impiannya. Antara
percaya dan tidak percaya, saya bertanya lagi siapa dia. Dia menyebut nama Darma
dengan senyum kebahagiaan".
Aku terhenyak kaget. Yang dimaksud
ani adalah aku?.
"Dia langsung bercerita tentang
dirimu mulai dari pertama bertemu hingga berpisah. Dia bilang waktu begitu
singkat saat dia asyik mengobrol bersamamu. Mulai saat itu, dia jadi periang. Lebih
periang dari biasanya. Setiap hari dia selalu tersenyum dan bercerita semua
tentang dirimu. Dia juga selalu mngajak saya ke kebun teh itu dan bercerita
bagaimana dia bertemu denganmu, duduk denganmu, bagamaimana kau bercerita soal
lamaranmu yang ditolak itu dan sebagainya. Hingga...".
Pak Irawan terdiam lagi dan tak
mampu membendung air matanya.
"Hingga?". Kaataku
mempertegas agar dia melanjutkan ceritanya.
"Hingga sampai akhir hayatnya
dia tetap menyebut namamu".
Dadaku sesak mendengar perkataan Pak
Irawan. Bagai tersambar petir aku mendengarnya.
"Sebulan setelah dia bertemu
denganmu, saya menemukan dia tergeletak di kamarnya dengan sebuah buku catatan.
Saya bergegas membawanya ke rumah sakit di Bandung. Seminggu dia koma tak
sadarkan diri. Saya temani dia siang dan malam sampai dia kembali sadar. Sehari
setelah dia sadar, aku bilang padanya untuk melepaskan rambut palsunya itu.
Asal kamu tahu saja, rambut palsunya itu mirip sekali dengan rambut aslinya
yang rontok akibat kemoterapi. Dia bilang jangan dilepas. Ada seorang pria yang
suka dengan rambut ini dan itu adalah kamu Darma".
Itu benar. Aku ingat saat di kebun
teh aku pernah bilang kalau aku sangat suka sekali rambutnya.
"Saat hari terakhir, dia berpesan
padaku untuk mencari pria yang bernama Darma. Dia bilang kalau Darma suatu hari
pasti akan mengunjungi kebun teh itu lagi. Untuk itulah aku selalu menyuruh
supirku untuk menunggu di kebun teh itu setiap hari semenjak Ani meninggal. Dia
juga berpesan untuk berterima kasih telah membuat hari-harinya lebih berwarna
dan bercahaya. Dia memintaku memberikan buku ini".
Pak Irwan mengambil buku catatan Ani
yang dia bawa dulu waktu bertemu denganku dan memberikannya padaku.
Aku menerimanya dengan tangan
gemetar. Aku membukanya secara perlahan. Dua lembar telah sobek dan lembar ke
tiga hingga ke enam berisi tulisan tangannya yang bercerita pengalamannya
bertemu denganku. Lembar selanjutnya sampai selesai kosong.
"Dia tidak menulisnya lagi
karena dia bilang itu kisah hidupnya yang sangat bahagia. Saat detik
terakhirnya, dia mengucap dua kalimat syahadat dan tersenyum bahagia".
Aku kembali teringat saat dia melempar
selembar kertas yang sudah dia sobek ke kebun teh. Aku yakin kertas itu satu
lembar. Lalu lembar yang satunya kemana?
"Di mana makamnya?".
Tanyaku sambil menahan tangis.
Pak Irawan langsung mengantarkan aku
dengan mobilnya yang dikemudikan oleh pria berpakaian serba hitam tadi. Seperti
biasa aku mengikutinya dari belakang dengan mobilku. Aku tak tahu di mana letak
makamnya itu. Pikiranku tak keruan membuatku tak bisa memperhatikan jalan
sekitar.
Sesampainya kami di sebuah Tempat
Pemakaman Umum yang sangat rapi dan bersih, Pak Irawan menunjukkan Makam Ani
yang masih baru. Di batu nisan yang terbuat dari marmer bertuliskan Ani
Susilawati Binti Irawan Susilo.
"Di sebelahnya itu makam
ibunya". Kata Pak Irawan.
Aku memperhatikan lagi batu nisan
ibunya yang bertuliskan Lena Susilawati Binti Arta.
Aku berlutut di sebelah makamnya dan
aku menemukan sebuah boneka beruang yang sama dengan yang dia berikan padaku.
Hanya saja ini berpakaian seperti wanita. Mungkin ini beruang wanita. Lalu aku
bergegas berlalri ke mobilku dan mengambil boneka beruang serta toples kue dan
kembali ke makam Ani. Aku taruh boneka beruangku bersama dengan boneka
beruangnya sehingga seperti sepasang kekasih. Juga toples kue di depan kedua
boneka beruang itu.
"Itu pemberian Ani?. Tanya Pak
Irawan. "Ani juga meminta saya jika dia meninggal agar boneka beruang
wanita itu ditaruh di atas makamnya". Tambahnya
Saat memperhatikan kedua boneka
beruang itu, aku melihat ujung kertas yang muncul dari saku boneka beruang wanita
itu. Aku cabut kertas itu dan warna kertasnya sama dengan buku catatan Ani. Aku
buka kertas itu lalu aku baca.
Untuk
Kakak Darma.
Kakak,
terima kasih sudah mau berbagi kisah bersamaku. Aku senang bisa mengenal Kakak.
Kakak pernah bercerita jika Kakak menikah nanti, Kakak akan setia kan? Aku
percaya Kakak orang yang baik dan akan memenuhi semua janji Kakak. Saat itu
juga aku sudah mulai suka dengan Kakak.Umur kita cuman beda lima tahun. Jika
kita menikah saat umur aku dua puluh tahun dan Kakak dua puluh lima tahun,
rasanya kita cocok. Kakak itu suami aku. Meskipun bukan suami resmi, aku selalu
menganggap Kakak sebagai suami aku. Aku mencintai Kakak saat pertama kali
bertemu dan saling bertukar kisah. Aku ingin sekali melukis kisah bersama
Kakak. Aku tahu ini terlalu terburu-buru. Tapi aku yakin cinta aku ke Kakak ini
tulus. Oh iya, mungkin saat Kakak baca surat ini aku sudah tidak ada. Aku tahu
mata kakak sangat jeli sekali pasti bisa melihat ujung surat ini dari saku baju
boneka beruang wanita. Mungkin Kakak sudah berkenalan dengan ayahku. Itulah
ayahku. Ayah yang baik dan suami yang baik. Nanti akan aku ceritakan pada ibu
di alam sana kalau ayah masih tetap setia pada ibu. Juga aku akan bercerita
soal Kakak. Aku akan bercerita bahwa sebelum aku meninggal, aku sudah pernah
merasakan cinta sejati. Ibu pasti akan senang mendengar dua kabar gembira ini.
Tapi Kakak jangan sedih. Aku yakin Kakak bisa menemukkan wanita impian Kakak.
Seandainya aku diberi umur panjang, aku siap jadi istri Kakak. Kata ayahku,
pria yang baik tiu bukan dia punya banyak harta. Tapi bagaimana dia bisa
bertanggung jawab terhadap keluarga. Aku menemukan pria seperti itu ada di
dalam diri Kakak. Kakak yang semangat ya. Terimakasih telah berbagi kisah
denganku. Aku mencintaimu Kak.
Dari
orang yang sangat mencintaimu.
Air
mataku menetes membasahi surat yang dia tulis. Aku tak bisa lagi membendungnya.
Aku kehilangan seseorang yang sangat berharga. Dan kenapa aku harus mengetahui
bahwa dia mencintaiku disaat dia sudah pergi untuk selamanya. Tapi aku mulai
sadar bahwa walaupun cinta tak akan bertepi, tapi suatu saat cinta itu akan
bertepi. Cinta itu ibarat sebuah bahtera di tengah lautan. Suatu saat dia juga
akan bertepi dan berlabuh di sebuah dermaga. Dermaga manapun itu, kita harus
tetap turun. Begitupun dengan cinta. Suatu hari kita kan menemukan cinta sejati
kita. Saat kita sudah menemukannya, kita harus berkomitmen untuk saling menjaga
dan percaya satu sama lain. Saat itulah cinta akan bertepi.
Subang,
7 Februari 2016
Cinta Tak Bertepi: Bagian III (Tamat)