Wednesday, February 17, 2016

Cinta Tak Bertepi: Bagian III (Tamat)

         Empat bulan berlalu. Kini aku sudah memulai hidup baru. Kontrak kerja dengan perusahaanku yang dulu tidak diperpanjang lagi. Mengingat sekarang ini ekonomi di Indonesia sedang tak bersahabat. Ada beberapa perusahaan elekrtonik besar asal Jepang yang terpaksa tutup dan hengkang dari Indonesia. Akibatnya banyak pekerja yang di-PHK. Aku memulai dengan bisnis kecil-kecilan di bidang kuliner. Aku mulai dari berjualan kue lewat media online. Lumayan buat penghasilan sehari-hari. Aku menjual kue kering berbagai rasa. Juga aku membuat toplesnya semenarik mungkin untuk menarik pelanggan. Aku dibantu oleh dua orang pekerja. Mereka baru lulus dari sekolah SMA dan bingung mau kerja di mana. Jadi aku ajak saja mereka untuk bekerja denganku. Aku tertarik pada mereka selain mereka perempuan, juga mereka sangat rajin jika bekerja. Perempuan biasanya sangat teliti dalam bekerja. Sepertinya aku tidak salah memepekerJakan mereka. Jika hasil penjualan banyak, tentu saja aku bisa menggaji mereka lebih.

            Usahaku sudah berjalan dua bulan. Alhamdulillah banyak pelanggan setia. Aku juga kepikiran gadis yang aku temui di kebun teh. Aku berniat menghadiahinya satu toples kue dengan hiasan cantik. Boneka beruang yang dia kasih juga masih aku simpan. Aku selalu membawanya kemana-mana. Aku berencana ke kebun teh pada hari minggu esok. Semoga saja aku bisa bertemu dengannya dan melihat senyum manisnya lagi. Aku meminta salah satu pekerjaku untuk menghias toples dengan secantik mungkin. Nama pekerjaku itu adalah Susi. Dia pandai sekali menghias. Dan satu lagi yang bernama Nana. Selain pandai menghias, dia juga pandai membuat kue. Kadang aku juga belajar dari dia. Aku suka mereka. Ini yang disebut rekan kerja yang saling menguntungkan.
            Hari minggu tiba. Aku berpamitan pada orangtuaku dan bersiap dan memanaskan mobilku. Aku memakai jas rapi warna coklat. Aku juga sudah berpesan pada pekerjaku untuk melayani pelanggan bila ada yang memesan. Mereka juga sudah aku ajarkan bagaimana cara bertransaksi online. Syukurlah mereka cepat mengerti. Mungkin karena mereka anak muda yang sudah tak asing lagi dengan teknologi.
            "Pak memang Bapak mau kemana?". Tanya Nana.
            "Mau ke tempat temen. Jangan panggil bapak ah gak enak".
            "Temen apa temen nih?". Tanya Susi sambil menggoda.
            "Udah ah. Kalian jaga rumah. Di rumah gak ada siapa-siapa. Ibu barusan pergi ke pasar. Saya pergi dulu".
            "Iya hati-hati". Kata mereka hampir bersamaan.
            Aku langsung meluncur dengan mobilku.  Perjalanan lancar. Hanya di beberapa titik saja masih agak macet. Tapi tak semacet di Darmarta. Setelah sampai di lokasi, aku parkirkan mobilku memutar arah dan aku langsung mendaki bukit. Ternyata bangku panjang itu masih ada. Lalu aku duduk sambil memegang toples kue yang sudah dihias dan boneka beruang pemberian Ani. Aku juga tidak yakin dia akan datang atau tidak. Mengingat hari belum siang dan matahari belum tinggi.
           Satu jam aku menunggu, tiba-tiba seorang pria berpakaian kemeja hitam dan celana hitam menghampiriku. Semuanya serba hitam.
            "Maaf, apa kamu yang bernama Darma?". Tanya pria itu sambil sedikit membungkukkan badan.
            "I...iya". Jawabku gugup.
            "Kamu ikut saya".
            "Ada apa ya?". Jujur, aku ketakutan.
            "Nanti saya jelaskan. Pokoknya kamu ikut saya. Tenang, saya bukan orang jahat kok".
            Aku langsung menuruti dia. Aku ikuti dia. Ternyata dia membawaku ke tempat aku memarkirkan mobilku.
            "Ikuti saya". Dia langsung masuk ke mobilnya yang berwarna abu-abu.
            Aku mengikutinya dari belakang dengan mobilku. Kami memutar dan menuju ke arah Lembang. Saat sampai di perempatan pasar lembang, kami berbelok ke kiri dan terus menyusuri jalan. Entah apa nama daerah ini aku tidak tahu. Tapi yang jelas, dia membawaku ke sebuah rumah yang besar dan halamannya yang sangat luas lengkap dengan taman bermain dan air mancur. Rumah ini dicat warna putih dengan pintu ganda yang lumayan besar. Dia berbelok ke kiri dan masuk ke gerbang. Aku mengikutinya. Setelah memarkir, dia turun dari mobil lalu menghampiriku dan mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumah. Saat aku mnginjakkan kaki di teras rumah, aku sangat kagum. Lantai teras ini begitu bersih dan memantulkan cahaya matahari bagai berlian. Lalu aku masuk dan duduk di ruang tamu dan disuruh menunggu olehnya. Rumah ini cukup besar dan mewah. Dekorasi dan perabotannya juga bukan barang murah. Terutama lampu gantung yang gemerlap mencuri perhatianku. Perpaduan warna cerah yang sangat pas. Aku jadi penasaran siapa arsitek yang merancang rumah ini.
            Kesenanganku karena kerennya rumah ini pudar ketika seorang pria yang tak terlalu tua menghampiri. Dia datang bersama pria berpakaian hitam tadi. Pakiannya rapi memakai kemeja warna putih bergaris-garis seperti warna biru dan celana panjang dengan warna tak terlalu mencolok.
            "Kamu yang namanya Darma? Saya Pak Irawan". Dia menyodorkan tangannya pertanda memberi jabatan tangan.
            "I..iya pak". Jawabku sambil menjabat tangannya.
            "Silahkan duduk".
            "Iya Pak terima kasih".
            "Tolong kamu buatkan minuman untuk tamu kita".
            "Siap laksanakan Pak". Kata pria bepakian serba hitam itu.
            "Kita ngobrol sebentar".
            "Memangnya ada apa Pak saya dibawa kemari? Terus kenapa Bapak bisa tahu nama saya?".
            "Sepertinya bapak harus bercerita panjang lebar".
            Aku semakin kebingungan dengan sikap Pak Irawan ini.
            "Pertama, aku tahu kamu dari cerita anakku".
            Sontak aku kaget. Apa dia ayahnya Ani?
            "Jadi Bapak ini..?".
            "Iya, saya ayahnya Ani. Semenjak hari itu, dia sering bercerita tentang dirimu".
            "Di mana dia sekarang Pak?". Aku menengok ke kanan dan ke kiri.
            "Ini Pak minumannya". Kata pria berpakaian serba hitam lalu dia kembali pergi.
            "Ayo diminum dulu".
            Kami lalu minum minuman dingin itu bersama.
            "Kamu ikut saya ke atas".
            Aku mengikuti dia keatas melewati tangga. Setelah sampai, dia membuka pintu berwarna merah muda. Terbukalah sebuah ruangan yang aku yakin sekali itu adalah kamarnya Ani. Aku melihat sekeliling. Aku hampiri jendela yang langsung mengarah ke halaman depan.
            "Ini akamarnya Ani.". Katanya sambil duduk di kasur Ani. Kasur yang unik berwarna merah muda dengan motif bunga di sprei, selimut, dna bantalnya
            "Dia selalu mendekorasi kamar ini dengan rapi." Lanjut Pak Irawan. "Cat dinding berwarna merah muda ini hasil buah karya tangannya. Dia selalu bercita-cita ingin jadi seorang arsitek. Dimuali dari dia mendekorasi kamarnya. Pernah suatu hari saat saya mau membangun sebuah gudang, dia yang menggambar rancangan bangunannya. Sampai kami pindah ke rumah ini, dia juga yang merancang bangunan rumah ini dibantu oleh seorang arsitek kenalan saya. Dia juga lah yang menata seluruh ruangan dan perabotan. Bahkan warna catnya juga dia yang merekomendasikan. Menerut teman saya yang arsitek itu, dia memang mempunyai bakat yang bagus. Dia juga sangat pintar matematika, fisika, kimia, dan hampir semua mata pelajaran dia bisa kuasai. Guru-guru di sekolah juga bilang dia adalah anak yang jenius". Pak Irawan diam sejenak.
            Aku masih diam dan mendengarkan sambil berdiri.
            "Ibunya meninggal sejak melahirkan dia. Saat itu saya berjanji pada almarhumah istri saya di depan makamnya untuk membesarkan dia dengan penuh kasih sayang. Saya juga tidak akan menikah lagi. Dia adalah istri pertama dan terakhir saya. Saya selalu berharap kita bisa berkumpul lagi di akhirat kelak. Ani anak yang periang, cantik, dan disenangi oleh teman-temannya. Dia juga sering menjurai lomba matematika, fisika, dan kimia. Saya sangat menyayanginya. Kami selalu menghabiskan waktu berdua. Namun waktu itu saya tidak bisa menemaninya ke kebun teh karena saya ada urusan mendadak dari kantor yang tidak bisa ditunda. Jadi aku suruh sahabatku untuk mengantarnya ke kebun teh. Ke tempat favoritnya itu saat dia bertemu denganmu".
            Pak Irawan berdiam lagi. Dia mengusap air matanya yang hampir jatuh. Aku hanya diam tak mampu berkata. Aku masih bingung apa yang sedang terjadi.
            "Saat umur sepuluh tahun, dia divonis mengidap kanker darah". Lanjutnya sambil air matanya mengalir.
            Aku tak tahu harus bagaimana. Bahkan aku tak tahu harus berekspresi apa.
            "Dokter memperkirakan umurnya tinggal menghitung tahun. Namun semangat hidupnya tetap berkobar dalam hatinya. Suatu ketika, dia curhat pada saya kalau dia sudah tidak bercita-cita ingin jadi arsitek lagi. Saat saya tanya kenapa, dia menjawab kalau dia hanya ingin menikah dengan seorang pria yang sangat baik. Dia bilang 'Ani mau nikah sama pria yang baik seperti ayah yang setia pada ibu walaupun ibu sudah tidak ada'. Aku memeluknya sambil menahan air mata lalu aku bilang 'Percayalah, Ani pasti bakal ketemu sama pria itu. Yang sangat baik dan setia. Dia akan menjaga Ani sampai kapanpun. Tapi Ani tidak boleh mengubur impian jadi arsitek. Teruslah bermimpi walau ayah yakin mengejar mimpi tiu tidak gampang'. Mungkin karena omongan saya, dia jadi bersemangat lagi mengejar mimpinya dan belajar lebih giat. Dia juga pernah melihat salah satu tetangganya di rumah kami yang dulu bercerai karena si suami berselingkuh dengan perempuan yang lebih cantik. Ani selalu bertanya pada saya kenapa dua orang bisa saling membenci padahal awalnya dia saling mencintai. Jika memang karena pihak ketiga, seharusnya bisa saling intropeksi diri. Mungkin ada yang salah.
            "Pertanyaannya yang kritis membuat saya tak bisa menjawabnya. Dia selalu saja mengkritik perilaku seseorang. Dan dia juga selalu bertanya pada saya apa cinta itu akan luntur. Saya selalu menjawab kalau cinta sejati tiu tidak akan pernah luntur. Lalu dia bertanya lagi bagaimana orang yang selingkuh. Lagi-lagi saya tidak bisa menjawabnya. Waktu saya pulang kerumah, saya mengetuk pintu kamarnya dan dia mempersilahkan saya masuk. Saya langsung bertanya bagaimana di kebun teh. Saat itu juga saya melihat dia tersenyum bahagia yang belum pernah daya lihat sebelumnya. Dia hanya menjawab kalau dia sudah menemukan pria impiannya. Antara percaya dan tidak percaya, saya bertanya lagi siapa dia. Dia menyebut nama Darma dengan senyum kebahagiaan".
            Aku terhenyak kaget. Yang dimaksud ani adalah aku?.
            "Dia langsung bercerita tentang dirimu mulai dari pertama bertemu hingga berpisah. Dia bilang waktu begitu singkat saat dia asyik mengobrol bersamamu. Mulai saat itu, dia jadi periang. Lebih periang dari biasanya. Setiap hari dia selalu tersenyum dan bercerita semua tentang dirimu. Dia juga selalu mngajak saya ke kebun teh itu dan bercerita bagaimana dia bertemu denganmu, duduk denganmu, bagamaimana kau bercerita soal lamaranmu yang ditolak itu dan sebagainya. Hingga...".
            Pak Irawan terdiam lagi dan tak mampu membendung air matanya.
            "Hingga?". Kaataku mempertegas agar dia melanjutkan ceritanya.
            "Hingga sampai akhir hayatnya dia tetap menyebut namamu".
            Dadaku sesak mendengar perkataan Pak Irawan. Bagai tersambar petir aku mendengarnya.
            "Sebulan setelah dia bertemu denganmu, saya menemukan dia tergeletak di kamarnya dengan sebuah buku catatan. Saya bergegas membawanya ke rumah sakit di Bandung. Seminggu dia koma tak sadarkan diri. Saya temani dia siang dan malam sampai dia kembali sadar. Sehari setelah dia sadar, aku bilang padanya untuk melepaskan rambut palsunya itu. Asal kamu tahu saja, rambut palsunya itu mirip sekali dengan rambut aslinya yang rontok akibat kemoterapi. Dia bilang jangan dilepas. Ada seorang pria yang suka dengan rambut ini dan itu adalah kamu Darma".
            Itu benar. Aku ingat saat di kebun teh aku pernah bilang kalau aku sangat suka sekali rambutnya.
            "Saat hari terakhir, dia berpesan padaku untuk mencari pria yang bernama Darma. Dia bilang kalau Darma suatu hari pasti akan mengunjungi kebun teh itu lagi. Untuk itulah aku selalu menyuruh supirku untuk menunggu di kebun teh itu setiap hari semenjak Ani meninggal. Dia juga berpesan untuk berterima kasih telah membuat hari-harinya lebih berwarna dan bercahaya. Dia memintaku memberikan buku ini".
            Pak Irwan mengambil buku catatan Ani yang dia bawa dulu waktu bertemu denganku dan memberikannya padaku.
            Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Aku membukanya secara perlahan. Dua lembar telah sobek dan lembar ke tiga hingga ke enam berisi tulisan tangannya yang bercerita pengalamannya bertemu denganku. Lembar selanjutnya sampai selesai kosong.
            "Dia tidak menulisnya lagi karena dia bilang itu kisah hidupnya yang sangat bahagia. Saat detik terakhirnya, dia mengucap dua kalimat syahadat dan tersenyum bahagia".
            Aku kembali teringat saat dia melempar selembar kertas yang sudah dia sobek ke kebun teh. Aku yakin kertas itu satu lembar. Lalu lembar yang satunya kemana?
            "Di mana makamnya?". Tanyaku sambil menahan tangis.
            Pak Irawan langsung mengantarkan aku dengan mobilnya yang dikemudikan oleh pria berpakaian serba hitam tadi. Seperti biasa aku mengikutinya dari belakang dengan mobilku. Aku tak tahu di mana letak makamnya itu. Pikiranku tak keruan membuatku tak bisa memperhatikan jalan sekitar.
            Sesampainya kami di sebuah Tempat Pemakaman Umum yang sangat rapi dan bersih, Pak Irawan menunjukkan Makam Ani yang masih baru. Di batu nisan yang terbuat dari marmer bertuliskan Ani Susilawati Binti Irawan Susilo.
            "Di sebelahnya itu makam ibunya". Kata Pak Irawan.
            Aku memperhatikan lagi batu nisan ibunya yang bertuliskan Lena Susilawati Binti Arta.
            Aku berlutut di sebelah makamnya dan aku menemukan sebuah boneka beruang yang sama dengan yang dia berikan padaku. Hanya saja ini berpakaian seperti wanita. Mungkin ini beruang wanita. Lalu aku bergegas berlalri ke mobilku dan mengambil boneka beruang serta toples kue dan kembali ke makam Ani. Aku taruh boneka beruangku bersama dengan boneka beruangnya sehingga seperti sepasang kekasih. Juga toples kue di depan kedua boneka beruang itu.
            "Itu pemberian Ani?. Tanya Pak Irawan. "Ani juga meminta saya jika dia meninggal agar boneka beruang wanita itu ditaruh di atas makamnya". Tambahnya
            Saat memperhatikan kedua boneka beruang itu, aku melihat ujung kertas yang muncul dari saku boneka beruang wanita itu. Aku cabut kertas itu dan warna kertasnya sama dengan buku catatan Ani. Aku buka kertas itu lalu aku baca.
            Untuk Kakak Darma.
            Kakak, terima kasih sudah mau berbagi kisah bersamaku. Aku senang bisa mengenal Kakak. Kakak pernah bercerita jika Kakak menikah nanti, Kakak akan setia kan? Aku percaya Kakak orang yang baik dan akan memenuhi semua janji Kakak. Saat itu juga aku sudah mulai suka dengan Kakak.Umur kita cuman beda lima tahun. Jika kita menikah saat umur aku dua puluh tahun dan Kakak dua puluh lima tahun, rasanya kita cocok. Kakak itu suami aku. Meskipun bukan suami resmi, aku selalu menganggap Kakak sebagai suami aku. Aku mencintai Kakak saat pertama kali bertemu dan saling bertukar kisah. Aku ingin sekali melukis kisah bersama Kakak. Aku tahu ini terlalu terburu-buru. Tapi aku yakin cinta aku ke Kakak ini tulus. Oh iya, mungkin saat Kakak baca surat ini aku sudah tidak ada. Aku tahu mata kakak sangat jeli sekali pasti bisa melihat ujung surat ini dari saku baju boneka beruang wanita. Mungkin Kakak sudah berkenalan dengan ayahku. Itulah ayahku. Ayah yang baik dan suami yang baik. Nanti akan aku ceritakan pada ibu di alam sana kalau ayah masih tetap setia pada ibu. Juga aku akan bercerita soal Kakak. Aku akan bercerita bahwa sebelum aku meninggal, aku sudah pernah merasakan cinta sejati. Ibu pasti akan senang mendengar dua kabar gembira ini. Tapi Kakak jangan sedih. Aku yakin Kakak bisa menemukkan wanita impian Kakak. Seandainya aku diberi umur panjang, aku siap jadi istri Kakak. Kata ayahku, pria yang baik tiu bukan dia punya banyak harta. Tapi bagaimana dia bisa bertanggung jawab terhadap keluarga. Aku menemukan pria seperti itu ada di dalam diri Kakak. Kakak yang semangat ya. Terimakasih telah berbagi kisah denganku. Aku mencintaimu Kak.
            Dari orang yang sangat mencintaimu.
            Air mataku menetes membasahi surat yang dia tulis. Aku tak bisa lagi membendungnya. Aku kehilangan seseorang yang sangat berharga. Dan kenapa aku harus mengetahui bahwa dia mencintaiku disaat dia sudah pergi untuk selamanya. Tapi aku mulai sadar bahwa walaupun cinta tak akan bertepi, tapi suatu saat cinta itu akan bertepi. Cinta itu ibarat sebuah bahtera di tengah lautan. Suatu saat dia juga akan bertepi dan berlabuh di sebuah dermaga. Dermaga manapun itu, kita harus tetap turun. Begitupun dengan cinta. Suatu hari kita kan menemukan cinta sejati kita. Saat kita sudah menemukannya, kita harus berkomitmen untuk saling menjaga dan percaya satu sama lain. Saat itulah cinta akan bertepi.
           
Subang, 7 Februari 2016

0 komentar:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan sopan. Gunakan bahasa yang baik dan komentar tidak mengandung sara serta kata-kata yang kasar dan menyinggung pihak tertentu. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Terima kasih.